Sabtu, 12 November 2011

Orang yang Bangkrut

Tak satupun manusia di muka bumi ini yang ingin hidupnya merugi, apalagi bangkrut. Sekedar tak dapat untung saja rasanya rugi sekali. Apalagi jika harus kehilangan semua yang sudah susah payah kita raih.

Sebut saja Pak Untung, seorang pengusaha besar di Jakarta yang sukses dengan bisnis yang digelutinya. Tapi sekarang tak sedikitpun tersisa, ia bangkrut. Dan sekarang ia berusaha bertahan hidup dengan menjadi supir taksi di pulau Kalimantan. Sedih mendegar ceritanya, tapi ia berusaha bangkit agar bisa meraih sukses yang pernah ia rasakan.


Mungkin tidak sedikit yang mengalami hal serupa dengan Pak Untung. Tapi tahukah kamu? Masih ada lagi orang yang lebih bangkrut dari itu. Jika Pak Untung bangkrut, ia masih bisa bangkit. Bangkrutnya pun hanya sekedar kehilangan yang dia miliki. Tapi bangkrut yang satu ini, jauh lebih bangkrut. Bahkan orang seperti ini adalah orang yang paling bangkrut, dunia dan akhirat. 


Mari kita simak apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kabarkan kepada kita tentang siapakah orang yang bangkrut. Terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwasanya  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut (pailit) itu? Maka mereka (para sahabat) menjawab: orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan: “orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain (dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya (kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka. (HR. Muslim).


Sungguh rugi lagi bangkrut, orang yang selama di dunia rajin shalatnya, gemar berzakat, rutin puasanya, dan dia membawa amal yang banyak. Tapi rupanya selama di dunia dia menyakiti orang lain, mungkin berupa ghibah, fitnah, atau terkait fisik seperti memukul, membunuh, dan kedzaliman lainnya. Maka amalan baiknya diserahkan kepada orang yang didzalimi, dan apabila amalan baiknya habis sementara belum bisa melunasi dosanya, maka kejelekan orang yang disakiti ditimpakan kepada orang ini. Sungguh bangkrut orang yang seperti ini. 


Oleh karena itu, hendaknya masing-masing pribadi kita ini sering introspeksi. Apakah kita termasuk orang yang gemar menyakiti orang lain? atau meskipun tidak gemar, tapi pernah menyakiti orang lain? maka berhati-hatilah, jangan sampai nanti di akhirat kita termasuk orang yang dikabarkan dalam hadits di atas sebagai orang yang bangkrut (muflis). 


Lalu bagaimana agar kita terhindar dari kebangkrutan tersebut? Tentunya dengan berusaha menjaga diri kita agar jangan sampai mengganggu bahkan menyakiti orang lain. Jika sudah begitu, insyaAllah kita tidak akan termasuk orang yang bangkrut seperti hadits di atas. 


Tapi masalahnya adalah mungkinkah kita tidak pernah menyakiti orang lain? sadar atau tidak sadar, kita sebagai manusia yang lemah, tempatnya salah dan lupa mungkin saja pernah menyakiti orang lain. Bahkan kalau mau jujur mungkin kita bisa menjawab dengan yakin, “iya, aku pernah menyakiti si fulan”. Maka simaklah wasiat dari Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah shalllallahu’alaihi wasallam pernah bersabda :


“Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf)nya sekarang juga sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayaannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dianiaya untuk ditanggungkan kepadanya.” (HR. Bukhari, Muslim).  


Maka segeralah minta maaf kepadanya, kepada orang yang pernah kita sakiti. Mintalah keridhoan kepadanya atas apa yang pernah kita perbuat. Kemudian mohon ampunlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan janganlah kita menunda-nunda dalam masalah ini, karena kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari.

Wahai orang yang merasa kuat, engkau gunakan kekuatanmu untuk menyakiti saudaramu
Ketahuilah Allah lah yang akan membalasmu, amalmu akan diserahkan kepada saudaramu
Dan kejelekan saudaramu akan ditimpakan kepadamu, nanti di negeri akhirat
Dan disitulah engkau akan tahu, bahwa tiada guna kekuatanmu di dunia
Maka menyesallah, sebelum sesalmu tiada guna
Mohon maaflah, sebelum permohonan maafmu terlambat untuk diterima
Dan bertaubatlah, karena Allah Maha Penerima Taubat

Dan untukkmu wahai orang yang didzalimi
Bersabarlah, karena Allah yang akan membalas segala perbuatan
Untukmu kebaikannya, kemudian untuknya kejelekanmu
Namun jika ia datang meminta maaf kepadamu, maka maafkanlah
Berlapang dadalah! Sebagaimana Allah berfirman :
Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada! Apakah kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur [24]: 22)

Dan juga Allah berfirman :

Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya
Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (QS. Al-Ma-idah [5]: l3
 
Wallahu a’lam
 
Semoga bermanfaat
 
Abu Ukkasyah
 







Previous Post
First
Related Posts

1 komentar:

  1. subhanallah.. kadang perbuatan yang kita lakukan walaupun tidak sengaja menyakiti orang lain, sangat besar akibatnya... Astaghfirullahaladzim...

    BalasHapus