Jumat, 27 Maret 2020

Memetik Hikmah di Balik Wabah Corona Bag. 2 - Negara Adidaya Pun Tak Berkutik


Pandemi Corona virus atau yang juga disebut dengan istilah Covid-19  yang begitu cepat menular di berbagai negara, termasuk negara- negara adidaya yang selama ini dikenal sebagai polisi dunia, pengatur dunia, super power, atau gelar- gelar lainnya yang disematkan kepadanya. Berbagai cara telah dilakukan untuk mencari solusi guna mencegah terjadinya penyebaran virus tersebut yang begitu cepat menyebar dalam waktu singkat. Cara lockdown telah diterapkan oleh sebagian Negara,  penutupan perbatasan atau pembatasan penumpang yang masuk, penyaringan di bandara dan stasiun kereta api , dan larangan perjalanan penumpang yang keluar.  Sekolah dan universitas telah ditutup baik secara nasional atau lokal di lebih dari 150 negara, yang memengaruhi lebih dari 1,2 miliar siswa. Namun, virus itu masih menyebar dalam waktu cepat. Para ilmuwan telah berlomba untuk mencari vaksin yang dapat membunuh dan melenyapkan virus ini, namun hingga sekarang belum juga ditemukan, sementara korban setiap hari terus berjatuhan. Kesombongan Negara- Negara digdaya itu lenyap seketika.

Saudaraku muslim, Al Qur'an Al-Karim telah menyebutkan kehancuran kekuasaan orang- orang terdahulu yang memiliki power dan kemampuan yang tidak dimiliki oleh yang lain, yang menyebabkan mereka menyombongkan diri hidup di muka bumi, berpaling dari ayat- ayat Allah Ta'ala, dan tidak mengindahkan peringatan para rasul-Nya, yang pada akhirnya mereka seluruhnya menjadi hancur dan tumbang dalam menghadapi kuasa Allah Azza Wajalla. Allah Ta'ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ (6) إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ (7) الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ (8) وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ (9) وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ (10) الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ (11) فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ (12) فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ (13)

"Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad? , (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain, dan (terhadap) kaum samud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan (terhadap) Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabb-mu menimpakan cemeti azab kepada mereka."
(QS.Al-Fajr)
Al-Allamah As-Sa'di menjelaskan makna "Mereka banyak berbuat kerusakan": Yaitu melakukan berbagai macam kekufuran, dari segala macam jenis kemaksiatan, dan mereka berupaya memerangi para rasul dan memalingkan manusia dari jalan Allah Ta'ala. Tatkala mereka telah melampaui batas yang menyebabkan mereka layak untuk dibinasakan, Allah Azza Wajalla mengirimkan kepada mereka siksaan dan cemeti azab." (Tafsir Al-Karim Ar-Rahman)

Allah Ta'ala juga berfirman:

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

"Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal (generasi itu) telah Kami kokohkan kedudukannya di bumi, yaitu kekokohan yang belum pernah Kami berikan kepadamu. Kami curahkan hujan yang lebat untuk mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan generasi yang lain setelah generasi mereka."
(QS.Al An'am:6)
Allah Ta'ala juga berfirman:

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ

"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) peninggalan-peninggalan (peradaban)nya di bumi, tetapi Allah mengazab mereka karena dosa-dosanya. Dan tidak akan ada sesuatu pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah." (QS.Ghafir:21)

Pada akhirnya, kekuatan itu akan hilang, kesombongan itu akan lenyap, dan yang kekal hanyalah kesombongan Allah Azza Wajalla. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Allah Ta'ala berfirman:

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِى وَالْعَظَمَةُ إِزَارِى فَمَنْ نَازَعَنِى وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِى النَّارِ

"Kesombongan adalah selendangKu, dan keagungan adalah pakaianKu, barangsiapa yang hendak melepaskan salah satunya dariKu, Aku lemparkan dia ke dalam nereka." (HR.Ahmad dan Abu Dawud).

✍🏻 Askary Bin Jamal

Sumber : Channel Telegram Ustadz Askary

Memetik Hikmah di Balik Wabah Corona Bag. 1 - Ternyata Manusia itu Lemah




TERNYATA MANUSIA ITU LEMAH

Kesombongan manusia akan pencapaian yang mereka raih dalam kehidupan dunia ambruk seketika dihadapan kekuasaan Allah Azza Wajalla  Yang Maha Kuasa. Manusia berbangga dengan kemajuan tekhnologinya, berbangga dengan ilmu pengetahuannya, berbangga dengan modernisasinya, berbangga dengan hartanya, berbangga dengan kecerdasaan berfikirnya. Akhirnya semua hal itu menjadi remuk dalam menghadapi Qudratullah Azza Wajalla. Allah Azza Wajalla berfirman:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti."
(QS:Yusuf: 21)

Pada akhirnya, manusia harus mengakui bahwa mereka lemah, pencapaian mereka sangatlah lemah, ilmu mereka sangatlah dangkal, dan kekuatan mereka sangat rapuh. Allah Azza Wajalla berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

"dan manusia itu diciptkan dalam keaadan lemah." (QS.An Nisaa:28)

Ya, manusia benar- benar lemah, lemah jasmani, lemah energi, lemah ilmu, lemah kecerdasan, dan yang lainnya. Kita semua sangat butuh akan pertolongan Allah Azza Wajalla dan kasih sayangNya. Allah Azza Wajalla  berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

"Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji."
(QS.Fathir:15)

Wahai manusia…
Sadarlah, dan kembalilah kepada jalan Allah Azza Wajalla

✍🏻 Askary Bin Jamal

Sumber : Grup Telegram Forum Salafy Balikpapan

Minggu, 22 Maret 2020

Sikap Ulama Salaf Terhadap Wabah di Zamannya


Adalah Masruq seorang Tabiin yang mulia rahimahullah :
Beliau pernah tinggal di Rumahnya beberapa hari selama tersebar wabah penyakit Thoun dan beliau berkata :
"Ini beberpa hari yang menyibukkan maka saya ingin menyendiri untuk beribadah kepada Allah" lalu beliau menjauhi orang untuk menyendiri dalam beribadah. Istrinya berkata: "Maka suatu saat aku pernah duduk dibelakangnya aku menangis dari apa yang pernah aku saksikan bahwa beliau melakukan terhadap dirinya sendiri dan beliau pernah sholat sampai nampak kedua kaki beliau bengkak."
(At Thobaqot Liibni Sa'ad 6/81)
-
Telah berkata Al Imam Adhdhahaby rahimahullah :
"Pernah terjadi di Mesir dan Andalus musim kekeringan dan wabah penyakit yang besar yang belum pernah diketahui kejadian semacam itu sebelumnya sampai Masjid masjid tetap dalam dalam keadaan tertutup tanpa ada orang yang sholat didalamnya dan diberi nama waktu itu dengan Tahun kelaparan yang besar"
(Siyar 'alamun Nubala 18/311)
Pernah berkata Al Muqrizy rahimahullah tentang penyakit Thoun menahun pada tahun 749 H di Mesir :
"Ditiadakan adzan di beberpa wilayah dan ditetapkan ditempat yang sudah masyhur dengan satu adzan dan telah ditutup sebagian besar Masjid masjid dan Ruangan ruangan ibadah sholat."
Lihat Assuluk li makrifati duwalilmuluk 4/88
Teks arab
*🖋 حال الصالحين عند الوباء 
● كان مسروق التابعي الجليل - رحمه الله - :
*《 يمكث في بيته أيام الطاعون ويقول : أيام تشاغل فأحب أن أخلو للعبادة ، فكان يتنحى فيخلو للعبادة ،*
*قالت زوجته : فربما جلست خلفه أبكي مما أراه يصنع بنفسه ، وكان يصلي حتى تورم قدماه 》.*
📓📔 |[ الطبقات لابن سعد (81/6) ]|
*🖋 عام الجوع الكبير (448 هـ)*
● ‏قال الامام الذهبي - رحمه الله تعالى - :
*《 وقع في مصر والأندلس قحطٌ ووباءٌ كبير ، لم يُعهد قبله مثله ، حتى بقيت المساجد مغلقة بلا مصلِّ ، وسُمي : عام الجوع الكبير 》.*
📓📔 |[ سير أعلام النبلاء (311/18) ]
● ‏يقول المقريزي رحمه الله عن طاعون سنة (749 هـ) بمصر :
*《 وتعطل الأذان من عدة مواضع وبقي في الموضع المشهور بأذان واحد ، وغلقت أكثر المساجد والزوايا 》.*
📓📔 |[ السلوك لمعرفة دول الملوك (88/4) ]

Alih Bahasa
Ust Abdussalam Al Batamy
🍃💧🍃💧🍃💧🍃💧
📡📻Tafadhol kunjungi LINK kami bila ingin dapat postingan ilmiyah lainnya :
🌏 *Web Situs Salafy Batam*
http://istiqamahbatam.org

Sikap Seorang Muslim Terhadap Virus Corona



Dunia sedang ditimpa musibah dengan diturunkannya virus Corona sejak akhir tahun lalu. Dan dinyatakan positif ada di Indonesia awal Maret 2020 ini. Tentu ini menimbulkan kecemasan, serta hal-hal lain yang tentu membutuhkan bimbingan dari Ulama dalam menghadapi musibah ini.

Lantas, bagaimanakah sikap kita sebagai muslim dalam menghadapi virus corona ini? Mari kita simak video kajian "Sikap Seorang Muslim Terhadap Virus Corona" yang disampaikan oleh ustadz Askary hafizhahullah. Beliau adalah pengajar di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Balikpapan. Selamat mendengarkan, semoga bermanfaat. Barakallahu fiikum


Jumat, 20 Maret 2020

Hukum Seputar Shalat di Rumah



BEBERAPA HUKUM SEPUTAR SHALAT DI RUMAH
DAN SEPUTAR PERMASALAHAN YANG BERKAITAN DENGAN VIRUS CORONA

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya.

Amma Ba’du,

Maka ini adalah sebagian peringatan yang baik untuk disebutkan pada peristiwa yang terjadi pada saat ini, yang menyebabkan ditutupnya masjid-masjid umum dan masjid-masjid jami’ sementara waktu dalam keadaan darurat, karena kekhawatiran tersebarnya virus corona –semoga Allah menjaga kita semua dari virus ini-.

1. Disyariatkan untuk menjadikan tempat tertentu di dalam rumah sebagai mushalla (tempat shalat).

Disyariatkan untuk menjadikan tempat di dalam rumah sebagai tempat untuk menegakkan shalat padanya. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Adalah kebiasaan para salaf menjadikan di rumah-rumah mereka tempat-tempat yang diperuntukkan mengerjakan shalat padanya.” Dan tidaklah tempat yang dikhususkan sebagai tempat shalat tersebut berlaku padanya hukum-hukum yang berkaitan seputar masjid sedikit pun, seperti tidak diharuskan niat waqaf, tidak disyariatkan shalat tahiyyatul masjid padanya dan tidak diharamkan atas wanita yang sedang haidl dan nifas.

Dan hikmah adanya tempat shalat di rumah, yaitu agar kaum lelaki bisa mengerjakan shalat sunnah padanya. Dan penghuni rumah dari kalangan kaum wanita bisa mengerjakan shalat fardlu dan nafilah di tempat itu, serta seseorang yang memiliki udzur sakit dari kalangan laki-laki.

Dan sebagian ahlul ilmi menyebutkan disunnahkannya untuk memberi wewangian dan menjaga kebersihannya. Sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah radliyallahu ‘anha berkata, “Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membuat tempat-tempat shalat di rumah, membersihkannya dan memberinya wewangian.” HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah.

2. Adzan dan iqamah di rumah

Adzan dan iqamah hukumnya fardlu kifayah. Apabila telah dikumandangkan adzan di masjid, maka telah mencukupi untuk adzan di kampung tersebut. Sehingga barangsiapa yang shalat di rumahnya karena suatu udzur seperti sakit dan yang semisalnya, atau seorang yang terlewatkan dari shalat berjamaah di masjid, maka cukup baginya mengumandangkan iqamah dan mengerjakan shalat setelahnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa mengumandangkan iqamah maka shalatnya tetap sah, namun yang afdhal hendaknya mengumandangkan iqamah. Al Lajnah ad Daimah menyebutkan, “Disyariatkan iqamah sebelum shalat walaupun orang yang mengerjakan shalat tersebut sendirian. Akan tetapi apabila engkau mengerjakan shalat tanpa iqamah, shalatmu tetap sah dan engkau tidak perlu mengulangi shalatmu.”

Adapun para wanita, tidak disyariatkan bagi mereka adzan dan iqamah. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui ada khilaf padanya.”
Dan termasuk kesalahan, bahwa sebagian manusia meyakini bahwa wajib atas mereka sebelum berbuka puasa di bulan Ramadhan, untuk mengumandangkan adzan di rumahnya, padahal dia bertetangga dengan masjid. Sebagian mereka mengumandangkan adzan ketika turun hujan atau ketika datang suatu wabah penyakit, serta mngucapkan di adzannya “shallu fi buyutikum” (shalatlah kalian di rumah-rumah kalian). Hal ini, hanya disyariatkan bagi para mudzin di masjid-masjid ketika mereka mengumandangkan adzan untuk mengucapkan hal ini.

3. Kapan muadzin mengucapkan “shallu fi buyutikum”? Dan bagaimana cara menjawabnya ketika seseorang mendengarnya?

a. Kapan seorang muadzin mengucapkan “shallu fi buyutikum”?
Diperbolehkan bagi seorang muadzin untuk mengucapkan “ala shallu fir rihal”, “shallu fi rihalikum” atau “shallu fi buyutikum”. Dan boleh baginya untuk mengucapkannya sekali atau 2 kali.
Dan boleh baginya untuk mengucapkannya setelah selesai adzan sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar, dan boleh pula untuk mengucapkannya di pertengahan adzan sebagaimana yang dipahami dari hadits Ibnu Abbas. Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,”muadzin mengucapkan “shallu fi rihalikum”. Yaitu setelah mengucapkan “hayya ‘alash shalah, hayya ‘allal falah”, muadzin mengucapkan “shallu fi rihalikum” atau “shallu fi buyutikum”. Atau dia boleh mengucapkan setelah adzan “shallu fi buyutikum”.

b. Apakah wajib menjawabnya ketika muadzin mengucapkan “shallu fi buyutikum”?
Mayoritas ahlul ilmi berpendapat tidak disyariatkan menjawabnya, karena hal itu adalah lafzh tambahan yang bertujuan untuk mengingatkan adanya keringanan dan kemudahan. Dan sebagian  ahlul ilmi memasukkan pada keumuman hukum menjawab hayya’alatain, sehingga disyariatkan mengucapkan “la haula wala quwwata illa billah”.

4. Dimana para wanita membuat shaf ketika bermakmum kepada laki-laki dari keluarganya?

Seorang wanita selamanya berdiri di shaf di belakang laki-laki, dan tidak boleh membuat shaf bersama laki-laki, walaupun wanita tersebut adalah istrinya atau salah seorang mahramnya, seperti ibu, anak perempuan, saudari perempuan dan semisalnya. Sebagaimana yang datang di dalam Shahih Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, “Aku dan seorang anak yatim, di rumah kami shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ibuku Ummu Sulaim berdiri di belakang kami.”

Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Selamanya seorang wanita berdiri di belakang laki-laki (ketika shalat), sama saja apakah wanita itu termasuk mahram baginya yang laki-laki menjadi imam shalat baginya, ataupun wanita tersebut bukan termasuk mahram baginya.” Maka seorang laki-laki yang menjadi imam berdiri di depan, kemudian berdiri di belakangnya para lelaki dari anak-anak laki-lakinya, saudara-saudaranya atau selain mereka dari kalangan laki-laki, kemudian berdiri di belakang mereka para wanita dari istrinya, anak-anak perempuannya, ibunya, saudarisaudarinya dan selain mereka dari kalangan wanita.

5. Seorang muslim tidak boleh mengerjakan shalat Jum’at di rumahnya, namun hendaknya mengerjakan shalat di waktu Zhuhur dengan niat shalat Zhuhur

Bersamaan dengan dihentikannya pelaksanaan Shalat Jum’at di masa sekarang ini, maka seorang muslim mengerjakan shalat di rumahnya di hari Jum’at pada waktu zhuhur dengan mengerjakan shalat 4 rakaat dengan niat shalat Zhuhur, dan tidak boleh mengerjakannya 2 rakaat atau mengerjakan shalat Jum’at dengan keluarganya. Hai’ah Kibarul Ulama menyebutkan, “Barangsiapa yang khawatir akan mendapatkan madharat atau memadharatkan orang lain, maka ada rukhsah (keringanan) baginya untuk tidak menghadiri shalat Jum’at dan shalat berjamaah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “tidak boleh memadharatkan diri sendiri dan orang lain”. HR. Ibnu Majah. Dan pada setiap hal yang telah disebutkan, apabila tidak menghadiri shalat Jum’at, maka ia mengerjakan shalat Zhuhur 4 raka’at.”

6. Peringatan keras dari memanipulasi fatwa Haiah Kibarul Ulama

Sebagian manusia mengajak tetangga-tetangganya dan warga kampungnya di tempat-tempat shalat sementara waktu ini untuk mengerjakan shalat berjamaah padanya, sebagai pengganti dari masjid-masjid. Mereka ini bermaksiat kepada waliyyul amr dan menyelisihi fatwa ahlul ilmi. Karena tujuan dari ditutupnya masjid-masjid pada hari-hari ini adalah karena larangan untuk berkumpul. Karena berkumpulnya manusia merupakan sebab terbesar menyebarnya wabah penyakit ini dan menularnya di tengah-tengah manusia.

7. Peringatan keras dari pemikiran Khawarij

Sebagian orang-orang yang memiliki pemikiran khawarij pada zaman ini, mereka menyangka bahwa dihentikannya sementara waktu dari pelaksanaan shalat Jum’ah dan shalat berjamaah di masjid-masjid karena alasan wabah Corona, mereka menuduh bahwa ini merupakan bentuk perbuatan murtad dari Islam. Dan bahwa negeri-negeri yang menutup masjid-masjid umum dan masjid-masjid Jami’ karena alasan tersebarnya penyakit Corona, maka menjadi negri-negri kafir. Dan pemikiran ini adalah hasil dari keyakinan kaum Khawarij sejak awal munculnya mereka hingga hari ini, disebabkan kejahilan akan agama Allah, serampangan dalam mengkafirkan seseorang, menghalalkan darah, mengajak kepada fitnah dan kekacauan, wal’iyyadzu billah.

Dan sungguh Haiah Kibarul Ulama (lembaga yang beranggotakan para ulama besar) telah berfatwa akan bolehnya menghentikan shalat Jum’at dan shalat jamaah di masjid-masjid pada peristiwa ini (yaitu wabah Corona), yang mana melanda seluruh dunia, dalam rangka mencegah tersebarnya virus ini. Karena virus ini dapat menyebar melalui interaksi dan berkumpulnya manusia. Dan para ulama tersebut berfatwa -sebagaimana biasanya- berdasarkan dalil-dalil dari al Kitab dan as Sunnah serta kaidah-kaidah dalam syariat Islam.

Hanya kepada Allah lah, saya memohon agar Allah mengangkat wabah ini dari negri kami dan negri-negri kaum muslimin semuanya. Dan semoga Allah merahmati negri-negri ini dan hamba-hamba-Nya. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari penyakit yang buruk.
Walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

Ditulis oleh,
Ali bin Yahya al Haddady
23/7/1441 H
ahadddadi32@gmail.com

Penerjemah: https://t.me/Catatan_santri

Rabu, 11 Maret 2020

Biasakan Tebarkan Salam


Ditulis oleh : Ustadz Askary hafizhahullah

Saudaraku Muslim!

Termasuk diantara hal yang menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang diantara kita adalah menebarkan salam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda:

« لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا.أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».

"Kalian tidaklah masuk ke dalam surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling cinta- mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian melakukannya akan menumbuhkan rasa cinta diantara kalian? Tebarkan salam diantara kalian."
(HR.Muslim)

Jangan kikir untuk mengucapkan salam, walaupun kepada orang yang engkau tidak mengenalinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  ditanya: Islam apakah yang terbaik? Maka beliau menjawab:

« تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ »

"Engkau memberi makan, dan engkau mengucapkan salam baik kepada orang yang engkau kenali dan yang tidak engkau kenal."
(Muttafaq Alaihi)

Mari kita saling menasehati dalam menghidupkan amalan mulia ini
Barakallahu fiikum.

MENGUCAPKAN SALAM DISAAT BERTEMU KEMBALI
Karena pentingnya menebarkan salam, syariat islam senantiasa menganjurkan kaum muslimin agar mereka melakukannya setiap awal kali bertemu, meskipun perpisahan terjadi dalam waktu yang sangat singkat, dan meskipun terpisah oleh dinding, pohon, dan yang semisalnya, lalu bertemu kembali, maka dianjurkan untuk kembali mengucapkan salam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا لَقِىَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ فَإِنْ حَالَتْ بَيْنَهُمَا شَجَرَةٌ أَوْ جِدَارٌ أَوْ حَجَرٌ ثُمَّ لَقِيَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ أَيْضًا.

"Apabila salah seorang kalian bertemu saudaranya (muslim), maka hendaknya ia mengucapkan salam kepadanya. Apabila ada pohon yang menjadi penghalang diantara keduanya, atau dinding, atau batu, lalu dia menemuinya kembali, maka hendaknya dia mengucapkan salam pula kepadanya."
(HR.Abu Dawud)

Berkata Ath Thibi Rahimahullah: "Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk mengucapkan salam meskipun berulang kali di saat terjadinya perubahan kondisi dan bagi setiap yang datang."
Berkata Al-Munawi Rahimahullah: "Perintah untuk mengucapkan salam meskipun perpisahannya singkat dengan mengucapkan salam yang kedua, ketiga dan bahkan lebih dari itu." Ada yang mengatakan: "Menebarkan salam menghilangkan kedengkian dengan usaha yang paling mudah . serta menumbuhkan persaudaraan dengan pemberian yang paling ringan."
(Faidhul Qadir:1/ 436)

Semoga Allah Ta'ala senantiasa menjadikan kita sebagai hamba- hamba-Nya yang bersaudara karena-Nya.

JANGAN BERSEDIH KETIKA UCAPAN SALAM MU TIDAK DIBALAS
Terkadang engkau menemui orang yang tidak menjawab ucapan salam yang engkau sampaikan kepadanya, apakah karena dia tidak terbiasa menjawab ucapan salam, atau mungkin disebabkan karena ada penyimpangan dalam memahami Islam yang benar, sehingga dia enggan menjawab ucapan salam kecuali yang sepaham dengannya. Jangan bersedih dan tetaplah mengucapkan salam, sebab bila dia tidak menjawab ucapan salam yang engkau sampaikan, maka ada ciptaan Allah Ta'ala yang jauh lebih mulia darinya yang akan menjawab salam tersebut, yaitu para malaikat. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sabdanya:

وَإِنْ سَلَّمَ فَلَمْ يَقْبَلْ وَرَدَّ عَلَيْهِ سَلاَمَهُ ، رَدَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ ، وَرَدَّ عَلَى الآخَرِ الشَّيْطَانُ

"Apabila dia mengucapkan salam, lalu yang lain tidak menerimanya dan menolak membalas ucapan salamnya, maka para malaikat yang membalas salam tersebut kepadanya, dan Setan membalas kepada yang lainnya (yang enggan membalas ucapan salam."
(HR.Ahmad dan Ibnu Hibban)

Bergembiralah dengan balasan malaikat kepadamu, walhamdulillah.

Senin, 09 Maret 2020

Jangan Terbiasa Masbuk




Ikhwati fillah, seseorang terlambat dari melakukan shalat jamaah karena adanya udzur adalah hal yang dimaafkan di dalam syariat, seperti sakit, sedang melakukan perjalanan safar, atau menahan buang air, dan yang semisalnya.

Namun membiasakan diri untuk terlambat dalam menegakkan shalat berjamaah, yang menyebabkan dia tidak mendapati takbiratul ihram bersama imam, bukanlah hal yang baik bagi seorang muslim.

Berkata Ibrahim At-Taimi Rahimahullah:

إذا رأيت الرجل يتهاون في التكبيرة الأولى فاغسل يدك منه

"Apabila engkau melihat seseorang yang bermudah-mudahan (meninggalkan) untuk mendapati takbir pertama (bersama imam), maka cuci tanganlah engkau darinya."

(Hilyatul Auliya': 4/ 215) 

Untuk itu, saya menasehati diri saya dan juga saudara- saudaraku muslim, agar semangat dan membiasakan diri menegakkan shalat berjamaah bersama imam, dan melakukan takbiratul ihram  bersama imam.

Barakallahu fiikum

Nasehat dari Ustadz Askary hafizhahullah. Semoga bisa kita amalkan dan istiqamah. Aamiin

==================================================================

Follow IG dan FB @ayongajicom
Kunjungi juga www.ayo-ngaji.com

Barakallahu fiikum