Kamis, 27 Agustus 2020

Amal Itu Tergantung Niatnya




Hadits tentang Timbangan Amalan yang Dzahir dan yang Batin.


عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ صلى الله عليه وسلم :
[ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَن كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللّٰهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللّٰهِ وَ رَسُولِهِ، وَمَن كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَتٍ يَنكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ ]

متفق عليه

Dari Umar bin Khaththab radhiallahu'anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah Shalllahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya menuju kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dia dapatkan atau karena wanita yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya itu menuju kepada apa yang dia tuju .” (Muttafaqun 'Alaih)

Keutamaan Hadits

Hadits ini banyak digunakan para Ulama untuk memulai menulis kitab mereka. Seperti Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An Nawawiyah dan para ulama yang lainnya.

Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata :
Bahwa sepantasnya bagi seorang yang menulis sebuah kitab untuk memulai dengan hadits ini, sebagai peringatan bagi penuntut ilmu agar meluruskan dan membenarkan niatnya.

Imam An Nawawi rahimahullah menyebut hadits ini sepakat kaum muslimin tentang kemuliaannya, dan begitu banyak faedah-faedah dalam hadits ini. Juga Ulama sepakat tentang keshahihannya.

Imam Syafii dan mayoritas ulama lainnya mengatakan bahwa hadits ini merupakan sepertiga dari Islam.
Karena amalan seorang hamba itu terjadi dengan hati, lisan, dan perbuatan anggota badan. Dan niat itu tempatnya ada di hati, sedangkan hati merupakan salah satu dari tiga hal tersebut, bahkan yang paling utama.

Sedangkan menurut Imam Ahmad rahimahullah, pokok-pokok Islam itu kembalinya kepada tiga hadits. Yang pertama adalah hadits Umar bin Khaththab tentang amalan itu tergantung niatnya
Yang kedua adalah hadits 'Aisyah tentang tertolaknya amalan yang tidak diperintahkan
Yang ketiga adalah hadits Nu'man bin Basyir tentang halal dan haram telah jelas. 

Imam Syafi'i rahimahullah juga mengatakan : Hadits ini masuk ke dalam 70 bab dari permasalahan-permasalahan fiqih.

Sebagian Ulama mengatakan bahwa hadits ini seperempat dari Islam.

Penjelasan Hadits

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya"

Ini merupakan peringatan bagi seseorang untuk senantiasa meluruskan niatnya ketika hendak melakukan sebuah Ibadah. Niat murni untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tidak untuk yang lainnya.

Allah Jalla wa 'Ala berfirman :

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

"Padahal mereka tidak diperintah melainkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (Al Bayyinah ayat 5)

Allah Jalla wa 'Ala berfirman :

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ

"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni itu." (Az Zumar, ayat 3)

Kemudian,

وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"..dan seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan"

Apabila seseorang berniat karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka itulah yang akan dia dapatkan. Namun apabila dia berniat untuk selain Allah, atau terdapat niat riya' di dalamnya, maka Allah Jalla wa 'Ala menolak amalan tersebut, dan tidak menerimanya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi :

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan dia menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia dan perbuatan syiriknya itu. (HR. Muslim)

Kemudian,

فَمَن كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللّٰهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللّٰهِ وَ رَسُولِهِ

"Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya menuju kepada Allah dan Rasul-Nya"

Hijrah secara bahasa artinya adalah meninggalkan. Sedangkan secara syar'i, hijrah adalah meninggalkan negara kafir menuju negara islam. Dan diantara bentuk hijrah, adalah meninggalkan kejahilan di masa lalu seperti syirik, kufur, bid'ah, maksiat, menuju kepada tauhid, sunnah, ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. (HR. Bukhari)

Maka barang siapa yang berhijrah dengan niat menuju Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan pahala disebabkan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Kemudian,

مَن كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَتٍ يَنكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dia dapatkan atau karena wanita yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya itu menuju kepada apa yang dia tuju."

Barang siapa yang niat hijrahnya kerena dunia yang ingin dia capai, atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka dia tidak mendapatkan apa yang telah Allah siapkan untuk hamba-hambanya yang ikhlas.

Faedah Hadits 

1. Pentingnya niat dalam beribadah. 

Setiap ibadah diharuskan adanya niat. Misal ketika kita ingin berwudhu, maka kita harus berniat. jika ingin shalat, juga harus berniat. Jika ingin puasa, juga harus berniat, dan seterusnya. 

2. Pentingnya Ikhlas

Hadits ini menjelaskan bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal seseorang. Tidak akan diterima amalan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala tanpa niat yang ikhlas.

3. Niat dapat membedakan suatu ibadah dengan suatu kebiasaan.

Perbuatan yang merupakan sekedar kebiasaan, bisa berubah menjadi ibadah dikarenakan niat. Seperti mandi, maka membedakannya adalah dengan niat. Jika ia sedang berhadats besar, lalu ia mandi, maka haruslah berniat untuk mengangkat hadats tersebut. Namun jika dia mandi tanpa niat tersebut, hanya sekedar agar bersih dari kuman, maka mandinya tersebut tidak mengangkat hadats yang ada pada dirinya.

4. Niat membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lainnya.

Misalkan shalat, maka dia harus menetapkan niat apakah dia niat shalat dzuhur atau ashar. Puasa sunnah, atau puasa wajib, yang membedakan adalah niatnya.

5. Diantara manusia ada yang beramal karena mengharapkan akhirat, dan ada yang mengharapkan dunia.

Maka barang siapa yang beramal dengan niat mengharapkan akhirat, maka dialah orang yang berhasil. Sedangkan yang menghendaki dunia, dia tidak akan mendapatkan sama sekali apa yang ada di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa menjadikan kita termasuk dari hamba-hambaNya yang ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. Aamiin

Wallahu a'lam 

Referensi Utama : Audio/Video Kajian Online Pembahasan Kitab Jawami'ul Akhbar - Hadits ke 1
Oleh Ustadz Askary hafizhahullah. Simak kajiannya di https://youtu.be/7riBnu5Vwbs