Minggu, 13 September 2020

Hukum Mewarnai Uban



Pertanyaan :

Bismillah,
Ustadz, bolehkah menghitamkan rambut (uban)?
Jazakallahu khoiron.

Dijawab oleh :
Ustadz Saeed Albandunjie Abu Yaman


Asal hukum menggunakan warna bagi rambut yang beruban (mewarnai uban) adalah boleh. Selama terjauh dari 2 perkara, yaitu :

1. Tidak menggunakan warna hitam

عن جابر بن عبد الله قال أتي بأبي قحافة يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : غيروا هذا بشيء واجتنبوا السواد

Seperti di hadits Jabir di Shahih Muslim.
Datang di hari Fath Makkah Abu Quhaafah yang mana rambut kepala dan jenggotnya penuh uban yang putih. (seperti pohon tsaqomah yang daun-daunnya putih) maka bersabda Rasulullah ﷺ : _"Warnailah (ubahlah dari warna putih uban tersebut ke warna lain) dan jauhilah dari warna hitam."

Maka boleh mewarnai dengan  (hena) berwarna kuning atau merah dan sebagainya, selain warna hitam.

Jika mewarnai dengan warna hitam maka hukumnya haram.

Dan telah datang dari hadits Ibnu Abbas  radhiallahu 'anhu, Beliau berkata: .

 يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام ، لا يريحون رائحة الجنة

"Akan datang suatu kaum di akhir zaman menggunakan pewarna rambut berwarna hitam. Seperti dada-dada merpati yang kebanyakan hitam. Yang mana mereka tidak akan mencium bau surga."

Catatan untuk takhriij hadits :

1- Hadits Jabir di Shohih Muslim, diillahkan (didhaifkan) pada lafadz; ( واجتنبوا السواد). Jauhilah "warna hitam".
Bahwa lafdz di atas mudraj. Bukan ucapan Nabi ﷺ tetapi ucapan perawi yang dimasukkan. Dikira ucapan Nabi ﷺ. Dengan hujjah di Musnad Ahmad 3/338

ثنا حسن وأحمد بن عبد الملك قالا ثنا زهير عن أبي الزبير عن جابر قال أحمد في حديثه ثنا أبو الزبير عن جابر قال: أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم بأبي قحافة أو جاء عام الفتح ورأسه ولحيته مثل الثغام أو مثل الثغامة قال حسن فأمر به إلى نسائه قال غيروا هذا الشيب قال حسن قال زهير قلت لأبي الزبير أقال : جنبوه السواد؟ ، قال : لا .

Berkata Zuhair, aku berkata kepada Abi Zubair : Apakah berkata : Jauhilah warna hitam. Berkata Abi Zubair : tidak.
Namun illah ini ghoiri qodihah (pendhaifan yang tidak berpengaruh). Karena di Shohih Muslim yang  meriwayatkan dengan tambahan adalah Ibn Juraij yang sangat kuat hapalannya

 عن ابن جريج عن أبي الزبير عن جابر بن عبد الله قال أتي بأبي قحافة يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : غيروا هذا بشيء واجتنبوا السواد.

Dan Ibn Juraij didukung pula oleh Ayuub Assikhtiyani seperti di Mustakhraj Abu Awaanah

عن ايوب عن ابي الزبير عن جابر قال : أتي بابي قحافة الى النبي صلى الله عليه وسلم عام الفتح وكان رأسه ولحيته مثل الثغامة فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ابعثوا به الى عند نسائه فليغيرنه وليجنبنه السواد.

Maka lafadz : menjauhi warna hitam tsabit/kuat dari ucapan Nabi ﷺ.

2- Adapun hadits Ibnu Abbas diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasa’i. Hadits ini sanadnya shahih, namun terjadi ikhtilaf antara ucapan Nabi marfu' atau ucapan shahabat mauquf.

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar : yang rojih mauquf ucapan Ibnu Abbas dan ucapan Ibnu Abbas hukumnya marfu hukman, (karena bukan dari akal dan pendapat Ibnu Abbas tentang adzab akhirat.)

Maka dengan ini An-Nawawi memilih bahwa : memakai warna hitam perkara yang haram.

قال الحافظ ابن حجر رحمه الله : وإسناده قوي إلا أنه اختلف في رفعه ووقفه ، وعلى تقدير ترجيح وقفه ، فمثله لا يُقال بالرأي ، فحكمه الرفع . ولهذا أختار النووي أن الصبغ بالسواد يُكره كراهية تحريم.

Fathul Baari 6/499



2. Tidak mengikuti model orang kafir dalam bentuk penyajian rambutnya.


Sesuai ucapan Nabi ﷺ : barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dihukumi seperti kaum tersebut.

  عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dikeluarkan Abu Daud dari Ibn Umar dengan sanad yang shohih.

Wallahu a'lam

Sumber : 
https://web.mahadmuqbilalwadii.com/2020/02/bolehkah-mewarnai-uban.html

Jumat, 11 September 2020

Hukum Onani Dalam Islam



APA HUKUM ONANI DALAM ISLAM DAN BAGAIMANA MENJAWAB SYUBHAT ONANI ITU LEBIH BAIK DARI PACARAN?


Pertanyaan :

Assalamu'alaikum...
afwan ustadz, apa hukumnya onani atau masturbasi yang dilakukan oleh seorang remaja yang mulai akil baligh. Dia merasa lebih baik melakukan onani daripada pacaran yang dianggapnya mendekati zina
Jazakallahu khairan


Dijawab Oleh :
Ustadz Saeed Albandunjie Abu Yaman


Onani atau masturbasi maknanya dari definisi bahasa Arab adalah istimna (الاستمناء).
Masdar Dari wazan istifaal istimnaa (استفعال / استمناء)

Dimana wazan ini kebanyakan diartikan meminta, seperti (istighfaar) meminta ampun dan (istidzaan) meminta izin. Maka makna istimnaa/onani/masturbasi adalah meminta keluarnya air mani dengan sengaja. Yang diistilahkan di zaman now (العادة السرية) : adat kebiasaan buruk yang tersembunyi.

Hukum Onani menurut jumhur ulama Al-Hanafiyah, Malikiyah, as-Syafiiyah dan yang masyhur dari madzhab Hanabilah adalah haram.

Dalilnya adalah ayat Al-Qur'an :


وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ - ٥ اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ - ٦ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعٰدُوْنَ ۚ - ٧

"Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas."
(QS. Al-Mu’minun : 5-7)

Wajah pendalilan bahwa sifat orang mu'min adalah menjaga alat vital mereka, kecuali kepada yang dihalalkan seperti kepada suami/istri atau budak-budak belian. Dan barangsiapa yang membuncahkan syahwatnya kepada selain kedua perkara yang halaal tersebut, seperti : onani (ini poinnya), berzina atau homosexual/lesbian atau sex with animals, maka termasuk orang2 berdosa besar yang melampaui batas.

Maka tidak ada syubhat bahwa onani lebih baik dari pacaran, karena pacaran itu haram. Pacaran adalah pintu masuk atau penyebab perzinahan, seperti firman-Nya :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا 

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk."
 (QS. Al-Isra a : 23)

Dengan demikian sudah jelas bahwa kedua-duanya, baik onani ataupun pacaran, sama-sama haram.

SOLUSI :

Lalu bagaimana solusi bagi laki-laki yang libidonya tinggi, baik untuk remaja yang sudah akil baligh, yang masih jomblo atau (mungkin) yang sedang puber kedua kalinya (sudah beristri tapi istrinya sakit atau bekerja di luar negeri), tapi belum sanggup menikah, maka disyariatkan dan diperintahkan agar mereka ini untuk banyak berpuasa.

Puasa adalah terapi terbaik untuk menurunkan libido yang tinggi, seperti di hadits yang muttafaqun alaih dari Ibn Mas'ud

 يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء

Beliau ﷺ bersabda, "Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan (menurunkan syahwat) baginya”.

(HR. Al-Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]

Jika onani adalah obat yang baik untuk menurunkan syahwat, maka sudah pasti Nabi ﷺ tentu akan menganjurkannya bagi yang syahwatnya tinggi dan belum mampu menikah. Namun karena onani haram maka Nabi ﷺ memerintahkan untuk puasa yang merupakan thibunnabawi dan menjadi solusi terbaik untuk menurunkan syahwat.

Disamping itu di dalam Islam Allah tidak menginginkan umat-Nya yaitu manusia untuk mencelakakan dan memberikan madharat kepada kesehatan dan agamanya. Alloh berfirman :

وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا 

"Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allâh Maya Penyayang kepadamu."
(An-Nisa : 29)


Onani atau masturbasi dari segi kesehatan pun sangat membahayakan fisik dan psikologis seseorang. Dari segi fisik terutama membahayakan organ vital dan kemampuan seksualnya, seperti :

1. Menyebabkan impotensi.
2. Menyebabkan ejakulasi dini atau premature ejaculate.
3. Badan penis menjadi melengkung (penis pisang) yang bisa mengakibatkan mengurangi kesuburan.
4. Penyebab mandul.
5. Bisa melemahkan prostat.

Sementara dampak psikologisnya antara lain :

1. Addiction. Kecanduan, yang berakibat juga kehidupannya dipenuhi dengan khayalan dengan gadis impiannya.
2. Merasa tidak butuh lawan jenis.
3. Mengakhirkan usia pernikahan.
4. Rendah diri, karena dosa-dosa yang membebani.

Dan permasalahan di atas baru akan terasa oleh pelaku onani di saat menikah nanti di malam pertama, saat honey moon.
Dan saat (fight in the ring), dimana dia akan merasakan disfungsi ereksi. Yang memuncak menjadi rasa malu dan tentu menimbulkan kekecewaan kepada pihak perempuan atau isteri barunya.

Jika terus terjadi seperti ini maka ujung-ujungnya bisa menyebabkan perceraian, karena pihak perempuan tidak merasakan kepuasan bathin dari suaminya atau suaminya tidak bisa memberikan keturunan kepada istrinya.

Bahkan yang paling ekstrem, banyak juga terjadi dimana para gadis yang dinikahi -tapi sampai satu bulan pernikahan- mereka masih perawan karena pasangannya atau suami belum/tidak bisa merobek selaput dara (hymen break) isterinya.

Pengalaman saya di Yaman banyak kasus yang berobat ke klinik kami karena penyakit kelamin yang dialami oleh para pengantin baru. Penyebab utamanya adalah karena mereka kerap mempraktekkan onani pra pernikahan secara brutal.

Dan akar dari penyebab onani terbesar di kebanyakan negeri Arab adalah karena tingginya mahar pernikahan. Dimana anak perempuan dijadikan investasi bisnis. Yang banyak anak perempuannya banyak uangnya (Abul Banaat Marzuuq).

Untuk menikahi seorang gadis perawan saja, maharnya (maskawin) antara 1 juta - 3,5 juta riyal Yaman atau sekitar 6000$ - 2000$, yang kalau dirupiahkan berkisar antara Rp 81 juta - Rp 270 juta!!!. Ini hanya Untuk mahar saja, belum biaya untuk acara resepsi pernikahannya.

Bayangkan sebegitu mahalnya, sementara di Indonesia apa yang disebut mahar tunai pernikahan bisa berupa seperangkat alat sholat!.

Maka banyak pemuda di negara-negara Arab yang susah menikah sehingga banyak yang sudah berumur kepala 3 masih belum menikah. Dan tentunya untuk melampiaskan syahwat terpendamnya, mereka mempunyai rahasia top secret : no slut, no hotels, no fees and absolutely free!. Apa itu? Ya... onani/masturbasi!

Kesimpulan :
Jangan ada persepsi onani/masturbasi itu lebih baik dari pacaran, karena Kedua-duanya sama-sama haramnya. Sebagaimana disebutkan dalil-dalilnya di atas.

Dan pembahasan ini membantah fatwa-fatwa kontemporer yang membolehkan onani saat sedang kumat syahwatnya yaitu "Daripada zina maka boleh beronani."

Onani bukan solusi masalah (problem solver) dan tidak menyelesaikan masalah!. Justru banyak berpuasa lah yang menjadi terapi terbaik (the best therapy) untuk menurunkan libido (gairah seksual) sehingga kita aman dari melakukan onani.

Wallahu a'lam

Sumber : Web Ma'had Muqbil Al Wadi'i



Kamis, 10 September 2020

Makna Nama Allah




Berkata As-Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah:

Yaitu sebuah nama yang agung dari nama-nama Allah yang baik, dan nama tersebut adalah yang paling banyak disebut di dalam Alquran yang mulia dari nama-nama Allah yang baik, dan nama itu telah disebutkan di dalam Alquran lebih dari 2200 kali, dan nama ini belum pernah diletakkan untuk nama lain, dan Allah Jalla wa 'Ala telah memulai dalam 33 ayat dengan nama itu.

Dan sekelompok ulama telah menyebutkan bahwasanya itu merupakan nama Allah yang paling agung, yang apabila berdoa dengannya maka akan dikabulkan, dan apabila Dia diminta dengan menyebutkannya maka akan diberikan.

Dan nama ini memiliki kekhususan dan keistimewaan yang dikhususkan dengannya, diantaranya bahwa nama tersebut merupakan sumber bagi semua nama-nama Allah yang baik, dan semua nama bersandar kepadanya.

Allah ta'ala berfirman:


(وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ ) [سورة اﻷعراف 180]


"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu." [Qs. Al-A'raf: 180]

Dan nama itu urgensi bagi seluruh makna-makna asmaa-ul husna, yang menunjukkan atas makna-makna tersebut secara global, dan asmaa-ul husna memiliki rincian dan penjabaran bagi sifat-sifat ilahiyyah yang itu merupakan sifat-sifat kemuliaan, kesempurnaan dan keagungan, dan nama itu lah yang menjadi rujukan seluruh nama-nama Allah yang baik, dan pusat dari makna-maknanya.

Dan yang paling komplit dan terbaik apa yang disebutkan tentang maknanya ialah apa yang teriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwa beliau mengatakan:


[ الله : ذو الألوهية والعبودية على خلقه أجمعين ] رواه ابن جرير في (تفسيره) .


"Allah adalah Yang memiliki sifat uluhiyyah (ketuhanan) dan 'ubudiyyah (yang diibadahi) atas makhluk-Nya seluruhnya." [HR. Ibnu Jarir di dalam tafsirnya].

Yaitu yang dia memiliki sifat-sifat kemuliaan, kesempurnaan, dan keagungan yang berhak karenanya untuk diibadahi, dan untuk dikhususkan semata dengan kerendahan, kepatuhan, dan ketundukan. »

Mukhtashar Fiqh Al-Asmaa Al-Husna, Abdurrazzaq Al-Badr hal: (8)

Sumber : https://t.me/butiranfaedah/157

Metode Menasehati Penguasa


 

METODE SYAR'I DALAM MENASEHATI PENGUASA

Berkata Al-'Allamah Shaleh Al-Fawzan hafizhahullah:

Nasehat kepada penguasa adalah wajib, berdasarkan sabda Beliau Shallallahu 'alaihi Wa Sallam:

« الدين النصيحة، قلنا لمن يا رسول الله؟ قال: "لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم" »

"Agama adalah nasehat, kami bertanya, bagi siapakah wahai rasulullah? Beliau menjawab: bagi Allah, bagi rasul-Nya, bagi pimpinan muslimin dan keumuman mereka."

Akan tetapi dilakukan secara tersembunyi antara pemberi nasehat dengan penguasa, dengan dalil hadits:

«من كان عنده نصيحة لولي الأمر فليأخذ بيده ولينصحه سرا، فإن قبل وإلا فقد أدى ما عليه»

"Barangsiapa yang memiliki sebuah nasehat bagi penguasa maka hendaknya dia ambil tangan penguasa dan nasehati dia secara tersembunyi, jika diterima (itu yang diharapkan) dan jika tidak maka dia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya." atau seperti yang teriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Dan dahulu Usamah bin Zaid menasehati Utsman bin Affan, amirul mukminin radhiallahu 'anhu, secara tersembunyi dan tidak menampakkan hal itu kepada manusia maka inilah yang sunnah dalam menasehati penguasa,

Adapun mengingkari penguasa dengan demonstrasi atau dalam media-media cetak, atau dalam kaset-kaset, atau dalam media-media sosial, atau dalam buku-buku dan buletin-buletin maka semua itu menyelisihi sunnah dan hal itu akan menghantarkan kepada berbagai kerusakan, fitnah, kejelekan, mengobarkan semangat memberontak kepada penguasa, akan memecah belah antara penguasa dan rakyat, dan akan memunculkan kebencian diantara penguasa dengan rakyatnya.

Hal itu bukanlah termasuk dari petunjuk Islam yang menganjurkan untuk menyatukan kalimat dan ketaatan kepada penguasa maka itu merupakan perkara munkar dan bukan bagian dari nasehat sama sekali, hanya saja itu bagian dari keributan sekalipun pada hak individu manusia maka bagaimana dengan penguasa?

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan bagi nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya. 

🖥 Sumber artikel:‏
http://alfawzan.af.org.sa/node/13500

https://t.me/butiranfaedah/100