Sabtu, 31 Oktober 2020

Contoh Perbuatan Menyerupai Orang Kafir

Menyerupai Orang Kafir


Sudah merupakan sunnatullah bahwa di antara umat ini akan ada yang terjerumus ke dalam kesesatan, dengan cara mengikuti langkah-langkah orang-orang sebelum mereka dari kalangan ahli kitab dan musyrikin.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallambersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ أَوْ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّلَسَلَكْتُمُوْهُ. قَالُوْا: الْيَهُوْدُ وَالنَصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Kalian pasti akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke dalam lubang dhabb, kalian pun memasukinya.” Para sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” __

(Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)**

Berikut ini adalah sebagian bentuk penyerupaan terhadap ahli kitab dan kuffar yang sebagian kaum muslimin terjatuh ke dalamnya.

1. Menjadikan Kuburan Orang-Orang yang Dianggap Shaleh Sebagai Masjid

Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya,

قَاتَلَ ا الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerangi kaum Yahudi, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”

(Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Lihat pembahasan lebih rinci tentang hukum membangun masjid di atas kuburan dalam kitab Tahdzir As-Sajid min Ittikhadzil Qubur Masajid karangan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.

2. Tidak Menerima Kebenaran Kecuali Apa yang Datang dari Kelompoknya

Termasuk salah satu karakter kaum Yahudi adalah mereka telah mengetahui kebenaran sebelum tampak orang yang mengucapkannya dan yang menyerunya. Namun tatkala datang kepada mereka yang mengucapkan al-haq tersebut dan ternyata bukan dari kelompok yang mereka kehendaki, maka mereka pun enggan untuk mengikuti dan mereka tidak menerima kebenaran kecuali yang datang dari kelompok yang merekamenisbatkan diri kepadanya. Padahal mereka tidaklah mengikuti apa yang wajib dalam keyakinan mereka. 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ نُؤۡمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا وَيَكۡفُرُونَ بِمَا وَرَآءَهُۥ وَهُوَ ٱلۡحَقُّ مُصَدِّقٗا لِّمَا مَعَهُمۡۗ قُلۡ فَلِمَ تَقۡتُلُونَ أَنۢبِيَآءَ ٱللَّهِ مِن قَبۡلُ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٩١

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah”, mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Mereka kafir kepada al-Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang al-Quran itu adalah (Kitab) yang haq; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah, “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?”

(Qs.Al-Baqarah: 91)

Hal ini banyak menimpa orang-orang yang menisbatkan diri kepada kelompok tertentu dalam berilmu atau beragama dari kalangan ahli tasawwuf, atau kepada selain mereka, atau kepada seorang pemimpin yang diagungkan oleh mereka dalam agama kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Mereka tidak mau menerima ajaran agama ini baik pendapat maupun riwayat kecuali yang dibawa oleh pemimpin mereka. Padahal Islam mengharuskan mengikuti kebenaran tersebut secara mutlak, baik pendapat maupun riwayat, tanpa mengkhususkan seseorang atau kelompok kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 

(lihat Kitab Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, 1/74—75)

Wallahul hadi ilaa sabiilir rasyaad.

Ditulis oleh :

Al-Ustadz Abu Mu'awiyah Askary hafizhahullah

Sumber : Channel Telegram Syiar Salafiyah



Kamis, 29 Oktober 2020

Jerat Jerat Setan



Sebuah kisah seorang pendeta yang dititipkan kepadanya seorang gadis untuk dijaga! Kemudian dia menzinahinya! Sehingga hamil dan membunuhnya lalu menguburnya! Kemudian sujud kepada syaitan dan menjadi kufur kepada Allah yang maha agung.. Langkah-langkah syaitan:

Itulah sebuah kisah yang dituturkan oleh Ibnu Katsir - رَحِمَهُ اللّٰهُ - di dalam surat Al-Hasyr, dan bukan merupakan sebab turunnya ayat:

{كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ} [الحشر : 16]

"(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam." [Qs. Al-Hasyr: 16]


Kisah tersebut bukanlah merupakan sebab turunnya ayat, akan tetapi hal itu disebutkan seperti penjelasan baginya dan sebagai tafsiran, dan beliau menuturkan bahwa ada 3 orang dari Bani Israel mendapat giliran, dan mereka memiliki seorang saudara perempuan yang tercantik dari para wanita (di kaumnya); maka ketiganya berkata: kepada siapa kita titipkan saudara perempuan ini selagi kita tidak ada?

Dan di sana ada seorang pendeta yang tengah menyepi di tempat pertapaan rahib untuk beribadah kepada Allah padanya dan pendeta tersebut adalah orang yang gigih dalam beribadah, menghadap Rabb-nya, maka ketiga lelaki itu membawa saudara perempuannya kepada pendeta, dan mereka berkata: kami ada urusan demikian dan demikian, dan kami menitipkan dia kepadamu, hingga kami kembali.

Maka pendeta bertanya: kemana aku akan bawa dia? - Yakni tidak mungkin aku menerimanya di tempat pertapaanku -!!

Maka mereka pun menjawab: kami akan buatkan untuknya sebuah rumah di belakang tempat pertapaan, dan kami hanya meminta engkau untuk menjaga kondisinya dari kejauhan, kami tidak meminta darimu untuk berkumpul dengannya, maka rahib (pendeta) tersebut pun menerima!!

Ini adalah satu langkah (syaitan)...

Kemudian datang syaitan dengan langkah berikutnya... Yaitu di tempat dimana pendeta tersebut tinggal, yaitu di tempat pertapaannya dia beribadah kepada Allah, maka syaitan pun mendatanginya, seraya berkata: apa sebaiknya bagimu, kamu seorang lelaki yang sempurna kejantanannya, lurus dalam ibadah, zuhud terhadap dunia, mementingkan akhirat lantas kamu biarkan wanita miskin ini tanpa kamu tanya kebutuhannya? Bukankah bagus jika kamu berbuat demikian?! Maka pendeta tersebut pergi dan memanggilnya, hai hentah!! Maka perempuan tersebut pun menjawab!

Pendeta bertanya: apakah engkau ada keperluan?

Dan ternyata dia memiliki suatu keperluan yang dia inginkan agar bisa dipenuhi, kemudian pendeta itu meletakkan keperluannya di pintunya kemudian pergi, maka ini satu langkah...

Dan syaitan datang dengan langkah berikutnya...

Dia katakan: apa yang sebaiknya kamu lakukan jika kamu dengan keadaanmu sekarang, tidakkah kamu memberikan kasih sayang kepada wanita miskin ini, karena saudara-saudaranya telah pergi, tidak ada satupun selainmu yang dapat memberikan ketentraman terhadap kegelisahannya, mengurai kedekatannya, menghilangkan keterasingannya, sehingga dia merasakan ketenangan dan kasih sayang?

Maka pendeta tersebut pun datang dan duduk di muka pintu sedangkan gadis tersebut di belakang pintu, maka pendeta mengajaknya bicara demi menenangkannya - tidak lebih -!

Kemudian syaitan datang dengan langkah berikutnya, dia katakan: apa yang sebaiknya bagimu dimana manusia datang dan pergi dalam keadaan kamu duduk di depan pintu wanita miskin ini, apakah mereka tidak akan berperasangka kepadamu yang bukan-bukan dengannya? Masuklah, dan biarkan pintu terbuka sedikit.

Maka masuklah pendeta kemudian dia jadikan pintu tertutup, kemudian jatuh hatilah kepadanya dan menghamilinya, dan ketika terjadi hal itu!! Pendeta menjadi gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa, maka dia pun membunuh wanita tersebut, kemudian dia masuk (ke tempat pertapaannya), dan ketika datang saudara-saudara wanita tersebut, mereka bertanya kepadanya, dimana saudara perempuan kami?

Dia pun mengusap satu tetes atau dia tetes air mata dari kedua pipinya, dan berkata: dia telah mati, dan aku telah mengurus jenazahnya dengan sebaik mungkin, hingga aku menguburkannya di makamnya. 

Maka mereka pun mempercayainya dan mereka pun menangis berlinang air mata dan pergi, kemudian mereka tidur di malam harinya lalu syaitan mendatangi mereka dan mendatangi mereka semua dengan sebuah kejadian mereka lihat di dalam mimpi, bahwa pendeta tersebut telah menggauli saudara perempuan mereka dan menghamilinya, kemudian membunuhnya dan menguburkannya di suatu tempat.

Maka mereka semua terbangun dalam keadaan kaget, dan berkatalah yang paling muda dari mereka, dia katakan: apakah kalian melihat seperti yang telah aku lihat (dalam mimpi)? Dan mereka tidak ingin bersegera menjawabnya, maka pemuda itu berkata: aku melihat demikian dan demikian, maka keduanya berkata: kami pun melihat seperti apa yang kamu lihat, maka mereka pun pergi ke suatu tempat dan mereka menggalinya dan mengeluarkan wanita tersebut, dan mereka mengadukan hal itu kepada raja atas perbuatannya, dan dihadirkanlah pendeta tersebut.

Apa yang sebaiknya kamu lakukan dengan kondisimu di tempat yang kamu tinggali, dan kedudukan yang kamu dapatkan, untuk kamu melakukan seperti yang kamu lakukan ini dari perbuatan keji? Maka diperintahkan untuk menghukum pendeta kemudian dia pun disalib lalu datanglah syaitan kepadanya, dan berkata: sesungguhnya aku ini temanmu, dan aku pada hari ini sanggup untuk membebaskanmu, pendeta tersebut bertanya: bagaimana (caranya)?

Syaitan berkata: sujudlah kepadaku dengan satu kali sujud (saja), dan aku akan membebaskanmu.

Pendeta menjawab: bagaimana aku bisa sujud kepadamu sedangkan aku dalam keadaan seperti yang kamu lihat? - dimana dia disalib di atas sebongkah kayu -.

Maka syaitan berkata: isyaratkan dengan kepalamu, maka pendeta pun sujud dengan mengisyaratkan kepalanya, maka dia pun menjadi kafir!!

Maka perhatikanlah, bagaimana mulanya perkara tersebut?

Maka janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan karena sesungguhnya dia tidaklah datang kepadamu dari penghujungnya, namun dia akan menunda-nunda kamu sedikit demi sedikit, maka waspadalah dari meremehkan terhadap perkara-perkara seperti ini, dan putuskanlah perkaranya dari awalnya hingga selesai; dan oleh karena itu Allah - تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ - memerintahkan agar jangan melihat kepada keharaman, dan Allah - تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ - memerintahkan kita untuk tidak mendekati zina, maka Allah - عَزَّ وَجَلَّ - berfirman:

(ولا تقربوا الزنا)

"Dan jangan kamu dekati zina". 

Tidak dikatakan kepada kita "Jangan berbuat zina", akan tetapi dikatakan "jangan kamu mendekati zina!"

Maka penghantar zina tidak dibolehkan, tidak sepatutnya seseorang berdiam diri dalam kondisi bercampur baur, dalam keadaan campur aduk, dan dalam keadaan biasa saja, karena perkara tersebut akan semakin bertambah sedikit demi sedikit, hingga berakhir kepada perkara yang besar, dan ini semuanya termasuk dari langkah-langkah syaitan. 

Disampaikan oleh : As-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Sa'id Ruslan

Sumber : Channel Telegram Berbagi Faedah

Hukum Memberontak Pada Penguasa









Pertanyaan :

Wahai Fadhilatusy Syaikh, apakah boleh memberontak terhadap penguasa yang fasik ketika ada kemampuan untuk itu ?

Dijawab oleh Asy Syaikh Al Allamah Zaid bin Muhammad Hadi Al Madkhali rahimahullah

Tidak diperbolehkan memberontaknya selama ia seorang penguasa muslim. Dikarenakan tindakan memberontak mengakibatkan kemudharatan-kemudharatan yang tidak terlintas dalam benak berupa tertumpahnya darah, tercabik-cabiknya kehormatan dan kekacauan di masyarakat.

Namun wajib untuk mencurahkan nasehat dengan cara-cara yang syar'i dan bermanfaat dan dengan hikmah dalam dakwah, dan dengan menyebarkan ilmu di tengah-tengah masyarakat serta mendoakan kebaikan terhadap penguasa muslim yang muncul darinya kezhaliman terhadap rakyat atau ia melakukan kemaksiatan kepada Allah yang dengannya ia berarti menzhalimi dirinya sendiri. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahinya hidayah, maka hidayah hati manusia di tangan Allah, maka memberontak penguasa seluruhnya merupakan kejelekan.

Dan tidak diperbolehkan memberontak penguasa kecuali terhadap penguasa kafir yang kekufurannya jelas, dan dengan syarat adanya kemampuan yang dengannya memungkinkan untuk mencopotnya dengan tanpa adanya pertumpahan darah dan dengan tanpa dirampasnya harta serta dengan tanpa adanya kekacauan di masyarakat dan di negeri tersebut, ini yang nampak bagiku dalam menjawab pertanyaan ini. Wallahu a'lam.

📚Al Aqdul Munadhdhadh Al Jadid (1/89).

Sumber : Channel Telegram Ad Dinul Qoyyim