Minggu, 08 November 2020

Gelar Bukanlah Ilmu




Sebagian orang menyangka bahwa tanda seorang yang berilmu adalah jika dia memiliki banyak hafalan dan riwayat. Sebagian lagi ada yang menyangka bahwa tanda seorang alim adalah jika dia memiliki gelar akademis seperti Lc, MA, doktor, profesor, dan yang lain. Ini adalah pemahaman yang keliru.

Jika seseorang memiliki semua yang disebutkan, namun ilmu yang dimilikinya tidak menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dirinya dan tidak memberikan perubahan ke arah yang baik dalam kehidupannya dengan menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidupnya, dia bukanlah seorang yang berilmu. Ilmu yang dimilikinya justru akan menjadi hujah yang dapat membinasakannya. Wallahul musta’an.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, 

“Ilmu itu bukanlah dengan banyak meriwayatkan hadits, namun ilmu adalah khasy-yah.”

Al-Imam Malik rahimahullah berkata, 

“Ilmu itu bukan dengan sekadar banyak menghafal riwayat, namun ilmu adalah cahaya yang diletakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hati seorang hamba.”

(Tafsir Ibnu Katsir, 3/555)

Abu Hayyan at-Taimi berkata, 

“Ulama itu ada tiga: 

1. Seorang yang berilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Seorang yang berilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

3. Seorang yang berilmu tentang perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Yang berilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan perintah-Nya, dialah yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sekaligus mengerti tentang sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya.

Adapun yang berilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun tidak mengerti tentang sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya.

Sementara itu, yang berilmu tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah orang yang mengerti sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya, namun dia tidak takut kepada-Nya.”

(Jami’ Bayani Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/47)

Al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengingatkan para pelajar yang belajar agama di bangku universitas :

“Hal yang menyedihkan di zaman kita sekarang ini adalah yang menjadi tolok ukur menentukan keilmuan manusia adalah gelar-gelar. Anda punya gelar, maka Anda akan diberi pekerjaan dan jabatan sesuai dengan gelar tersebut. Bisa jadi, seseorang bergelar doktor lalu diberi pekerjaan sebagai pengajar di sebuah universitas, padahal dia adalah orang yang paling jahil.

Sementara itu, ada seorang pelajar setingkat sekolah menengah yang jauh lebih baik darinya, dan ini kenyataan. Sekarang ini, ada orang yang bergelar doktor namun dia tidak mengerti ilmu sedikit pun. Bisa jadi, dia lulus dengan cara menipu atau lulus dalam keadaan ilmu tersebut belum melekat pada dirinya. Namun, dia tetap diangkat sebagai pegawai karena memiliki ijazah doktor. Di sisi lain, ada seorang penuntut ilmu yang baik, lebih baik daripada manusia lainnya dan lebih baik seribu kali daripada doktor ini, namun dia tidak diberi jabatan. Dia tidak mengajar di perguruan tinggi. Mengapa? Karena dia tidak berijazah doktor.”

(Syarah Riyadhus Shalihin, 3/436).

Ustadz Askary -hafizhahullah-

Sumber : Channel Telegram Syiar Salafiyah

Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: