Jumat, 30 April 2021

Apakah Lailatul Qadar Hanya Malam Ganjil

Kapan Malam Lailatul Qadar



Apakah Lailatul Qadar Terjadi Hanya Pada Malam-Malam Ganjil dan Tidak Pada Malam-Malam Genap

Jawab : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa Lailatul Qadr terkadang terjadi pada malam genap, sebagaimana terkadang terjadi juga pada malam ganjil. Beliau rahimahullah berkata:

Lailatul Qadr terjadi pada 10 terakhir bulan Ramadhan, demikianlah yang shahih dari Nabi ﷺ beliau bersabda:

"Lailatul Qadr itu pada 10 terakhir Ramadhan", dan terjadi pada malam-malam ganjil".

Akan tetapi perhitungan ganjil jika tinjauannya adalah hari yang telah dilalui, maka bisa dicari pada malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29. Namun jika tinjauannya adalah hari yang tersisa, sebagaimana sabda Nabiﷺ :

"Maka carilah pada 9 yang tersisa, 7 yang tersisa, 5 yang tersisa, 3 yang tersisa"

Maka berdasarkan hadits ini, apabila bulan berumur 30 hari, maka Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam yang genap, sehingga bisa terjadi pada malam ke-22, yang itu merupakan 9 yang tersisa, dan malam ke-24 yang itu merupakan 7 hari yang tersisa. Demikian pula yang ditafsirkan oleh Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu'anhu dalam sebuah hadits yang shahih. Dan seperti ini pula Nabi ﷺ menegakkan malam-malam tersebut dalam sebulan. Namun apabila bulan berumur 29 hari, maka penanggalan (dengan tinjauan) hari yang tersisa sama dengan penanggalan (dengan tinjauan) hari yang telah berlalu (yakni sama-sama pada malam ganjil).

Jika demikian, maka hendaknya seorang mukmin itu mencarinya pada 10 terakhir Ramadhan semuanya (baik malam ganjil maupun malam genap), sebagaimana sabda Nabi ﷺ : "Carilah pada 10 terakhir".

Dan terjadinya Lailatul Qadr pada 7 terakhir lebih banyak (kemungkinannya) dan paling besar kemungkinannya adalah tarjadi pada malam ke-27, sebagaimana Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu telah bersumpah bahwa Lailatul Qadr itu pada malam ke-27. Beliau ditanya, 'dengan apa engkau tahu itu?" Beliau menjawab, "Berdasarkan tanda-tanda yang telah diberitakan kepada kami oleh Rasulullah ﷺ. "Nabi ﷺ memberitakan kepada kami bahwa matahari pada pagi harinya terbit seperti bejana tidak ada sinar silaunya."

Tanda yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka'b radhiyallahu'anhu dari Nabi ﷺ merupakan di antara alamat yang paling terkenal dalam hadits. Diriwayatkan pula bahwa di antara tandanya "Malam yang tenang bercahaya". Malam yang tenang, tidak terlalu panas tidak pula terlalu dingin. Bisa jadi Allah ﷻ tunjukkan pada sebagaian manusia dalam mimpi atau ketika jaga. Dia bisa melihat cahayanya, atau melihat orang yang mengatakan kepadanya. Bisa jadi Allah ﷻ bukakan pada hatinya persaksian, yang dengannya menjadi jelaslah hal tersebut, Wallaahu A'lam.

Majmu' Fatawa 25/284-286

Majmu'ah Salafy Sulbar
Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina

Puasa Tapi Tidak Shalat




Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan : "Di sana ada orang yang berpuasa dan mengerjakan berbagai ibadah namun tidak mau menegakkan shalat, maka apakah puasa dan ibadahnya dapat diterima ?

Jawaban : Bismillahi walhamdulillah yang benar, orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah dikafirkan dengan kekufuran yang besar (mengeluarkannya dari bingkai keislaman) karena perbuatannya tersebut. Oleh karena itu tidaklah sah amalan puasanya dan tidak pula amalan ibadah lainnya hingga ia bertaubat kepada Allah ﷻ. Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ :

ولو أشركوا لحبط عنهم ما كانوا يعملون

"Dan seandainya mereka berbuat syirik, niscaya akan gugur apa yang telah mereka kerjakan."

Serta ayat-ayat maupun hadits-hadits yang semakna dengannya. Sebagian ‘ulama memandang bahwa ia tidak dikafirkan dengan kekufuran yang besar karena sebab itu, puasanya tidak batal, dan ibadahnya pun tidak gugur. Tentu selagi ia masih mengakui kewajibannya, hanya saja ia meninggalkannya karena menggampangkan maupun bermalas-malasan.

Dan yang benar adalah pendapat pertama bahwa ia dikafirkan karena meninggalkannya dengan kekufuran yang besar, bila secara sengaja meninggalkannya meskipun  ia mengakui kewajibannya. Hal ini berdasarkan dalil-dalil yang banyak.

Diantaranya adalah sabda Nabi ﷺ :

بين الرجل وبين الكفر و الشرك ترك الصلاة

"Antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat."

Imam Muslim meriwayatkan hadits ini di dalam shahihnya dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma. 

Dan berdasarkan sabda Nabi ﷺ :

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر

"Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir."

Imam Ahmad dan penulis kitab sunan yang empat meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih dari hadits Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami radhiyallahu ‘anhu.

‘Al-‘allamah Ibnul Qayim rahimahullah menguraikan panjang lebar pendapat tentang masalah tersebut dalam sebuah risalah tersendiri, di dalam “Ahkamush Shalati wa Tarkiha” (hukum-hukum shalat dan meninggalkannya). Sebuah risalah penuh manfaat, baik untuk mengulanginya, dan mengambil faedah darinya."

Sumber http://www.binbaz.org.sa/fatawa/424

Majum'ah Salafy Sulbar
Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina

Hal yang Boleh Dilakukan Orang yang Berpuasa

Puasa Boleh Melakukan ini



1. Sikat Gigi/ Bersiwak

Rasulullah ﷺ bersabda :

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

"Jika aku tidak memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak pada setiap sholat."  (Muttafaq 'alaih)

Al-Imam al-Bukhari menjelaskan:

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي للأمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ وَيُرْوَى نَحْوُهُ عَنْ جَابِرٍ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ وَلَمْ يَخُصَّ الصَّائِمَ مِنْ غَيْرِهِ

"Abu Hurairah berkata, dari Nabi ﷺ : "Jika aku tidak memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap berwudhu". Dan diriwayatkan yang semisal dengan itu dari Jabir dan Zaid bin Kholid dari Nabi ﷺ dan tidak mengkhususkan puasa dari yang lain" (Shahih al-Bukhari (7/18))

Adapun menggunakan sikat gigi dan pasta gigi tidak mengapa pada saat berpuasa. Namun hendaknya berhati-hati agar tidak ada percikan air yang masuk menuju kerongkongan. Jika sikat gigi dengan pasta gigi hanya dilakukan pada saat selesai sahur sebelum Subuh dan setelah berbuka di waktu Maghrib, maka itu lebih baik.


2. Berkumur-Kumur dan Memasukkan Air ke Dalam Hidung Asal Tidak Berlebihan

Karena disyariatkan berkumur-kumur (al-madhmadhah) dalam berwudhu’ menunjukkan bolehnya,  Sebagian orang pada saat berpuasa, tidak berkumur-kumur pada waktu berwudhu’ karena khawatir batal puasanya. Ini adalah sebuah kesalahan. Berkumur-kumur dalam berwudhu’ adalah perintah Nabi ﷺ :

إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ

"Jika engkau berwudhu’, berkumur-kumurlah." (HR. Abu Dawud)

Demikian juga memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq) dan mengeluarkannya dari hidung (istintsar) saat berwudhu’ tidaklah membatalkan puasa, bahkan harus dilakukan pada saat berwudhu’. Baik di saat puasa atau di saat tidak berpuasa.

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنْ الْمَاءِ ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ

"Jika salah seorang dari kalian berwudhu’, maka hiruplah air dengan dua rongga hidungnya kemudian keluarkan." (HR. Muslim no. 349)

Juga dalam hadits yang lain :

وبَالِغْ في الاِستنشَاقِ إلاَّ أنْ تكونَ صَائِمًا .

"Dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam ber-ustinsyaq (memasukkan air kedalam hidung ketika berwudhu) kecuali bila kalian berpuasa." (HR.  Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasai disahihkan oleh al-Albani).


3. Mandi/ Mengguyurkan Air di Atas Kepala dan Berenang

Sebagaimana Nabi ﷺ pernah mengguyurkan air di atas kepala beliau pada saat berpuasa di waktu terik matahari yang sangat panas.

عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رُئِيَ بِالْعَرْجِ وَهُوَ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنْ الْحَرِّ أَوْ الْعَطَشِ

"Dari sebagian Sahabat Nabi ﷺ bahwa Nabi ﷺ dilihat di al-‘Arj (nama suatu tempat) menuangkan air pada kepala beliau dalam keadaan berpuasa, karena panas atau haus." (HR. Abu Dawud, Ahmad, lafadz sesuai riwayat Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani). 


4. Kesiangan dalam Keadaan Junub

Berdasarkan hadits Aisyah dan Ummu Salamah rafiyallahu'anhuma riwayat Bukhari dan Muslim :

أنَّ النَّبي ﷺ كَان يُدرِكُهُ الفَجرُ وهو جُنبٌ مِن أهلِه ثُمَّ يغْتسِلُ ويصُوم

"Sesungguhnya Rasulullah ﷺ kadang shubuh mendapatinya (yakni beliau memasuki shubuh), padahal beliau sedang junub (setelah bercampur) dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa."

Tidak ada perbedaan apakah junub akibat Jima' (berhubungan suami istri) atau mimpi basah.Demikian pula kesiangan dalam keadaan telah suci dari haidh dan nifas sebelum shubuh diperbolehkan untuk berpuasa.


5. Memeluk dan Mencium Istri Karena Kasih Sayang Bukan Syahwat

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ

"Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Rasulullah ﷺ mencium dalam keadaan berpuasa, beliau memeluk dalam keadaan berpuasa. Akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menjaga nafsu." (HR. Bukhari dan Muslim) 


6. Tukang Masak Mencicipi Masakan Karena Kebutuhan dan Tidak Menelannya dan Mencium Bau-Bauan

Sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :

لاَ بَأْسَ أَنْ يَذُوقَ الْخَلَّ ، أَوِ الشَّيْءَ مَا لَمْ يَدْخُلْ حَلْقَهُ وَهُوَ صَائِمٌ

"Tidak mengapa mencicipi cuka atau sesuatu selama tidak masuk ke dalam tenggorokan pada saat berpuasa." (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya no. 9369 (3/47)). 


7. Bersuntik dengan sesuatu yang Tidak Bermakna Makanan dan Minuman, Tes Darah atau Ada Anggota Tubuh yang Terluka

Boleh bersuntik cairan apa saja yang tidak bermakna makanan dan minuman,juga apabila ada anggota tubuh yang terluka dan mengeluarkan darah, hal itu tidaklah membatalkan puasa. Seperti juga tes darah yang mengambil sedikit sample darah, tidaklah membatalkan puasa. Sekedar keluarnya darah bukanlah pembatal puasa. Hanya saja jika darah keluar cukup banyak dan membuat lemah keadaan seseorang, akan menyulitkan keadaannya dalam berpuasa.


8. Menggunakan Celak Mata dan Tetes Mata

Celak mata yang digunakan pada saat berpuasa tidaklah membatalkan puasa. Ini adalah pendapat dari al-Imam Abu Hanifah dan al-Imam asy-Syafi’i.Nabi juga memerintahkan memakai celak pada para Sahabatnya secara umum tanpa membedakan di dalam atau di luar Ramadhan.

Sama juga dengan penggunaan tetes mata yang bisa berakibat adanya bagian yang masuk ke tenggorokan. Namun bagian yang masuk ke tenggorokan itu adalah sangat sedikit dan dimaafkan, seperti juga tersisanya air pada saat berkumur.

Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin. 


9. Obat yang Dimasukkan Melalui Dubur

Jika seseorang sedang berpuasa, kemudian menggunakan obat yang dimasukkan lewat dubur, hal itu tidaklah membatalkan puasa. Karena hal itu bukanlah makan minum atau yang semakna makan dan minum. Ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin dalam salah satu fatwanya.

Sumber Bacaan Kitab Manhajus Salikin wa Taudhih al-Fiqhi fid-Din Kitab as-Shiyam oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'dy rahimahullah

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang Mamuju Tengah Sul-Bar.

Akhukum al-Faqir Ilallahi Ta'ala Abu Mujahid al-Indunisy_


Majmu'ah Salafy Sulbar

Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina

Syarat-Syarat Dikatakan Batal Puasanya




1. Melakukannya dengan Mengetahui Hukum Perkara itu Sebagai Pembatal Puasa

Sehingga jika ia tidak mengetahui bahwa sebenarnya hal itu membatalkan puasa, tidaklah batal puasanya. Contohnya: Seseorang yang muntah secara sengaja. Ia melakukannya karena tidak tahu bahwa sebenarnya hal itu membatalkan puasa, maka puasanya tidaklah terhitung batal.Demikian juga seseorang yang melakukan pembatal puasa namun ia tidak mengetahui bahwa sebenarnya belum masuk waktu berbuka, sedangkan ia menyangka sudah masuk waktunya, tidaklah batal puasanya,contohnya: Seseorang yang makan dan minum karena menyangka sudah masuk waktu Maghrib.Ia baru terbangun dari tidur,sementara Jam di kamarnya menunjukkan waktu yang tidak cocok (lebih cepat), sedangkan di luar gelap karena mendung. Ia menyangka sudah masuk Maghrib, sehingga ia makan dan minum, maka tidaklah batal puasanya. Dengan catatan:

*Setelah mengetahui kesalahannya ia tidak meneruskan pembatal puasa tersebut.*

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

"Wahai Robb kami janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau tersalah (tak sengaja)." (Qs. al-Baqarah: 286)


2. Melakukannya dengan Sadar (Ingat)

Sehingga jika seseorang melakukan pembatal puasa dalam keadaan lupa, maka puasanya tetap sah dan tidak batal.

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ 

وَسَقَاهُ

_"Barangsiapa yang lupa dalam keadaan berpuasa, kemudian ia makan dan minum, maka sempurnakanlah puasanya, karena itu adalah pemberian makan dan minum dari Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan catatan:

Benar-benar lupa, dan setelah ingat segera menghentikannya dan orang yang melihatnya wajib mengingatkannya.


3. Melakukannya dengan Sukarela atau Sengaja

Sehingga seseorang yang melakukan pembatal puasa karena tidak sengaja, puasanya tetap sah,contohnya: Seseorang yang sedang berkumur-kumur, tanpa sengaja air masuk hingga tenggorokan.Contoh yang lain: Seseorang yang mimpi basah (ihtilam). Ia mengeluarkan mani tanpa sengaja. Puasanya tetap sah.Berbeda dengan mengeluarkan mani secara sengaja (dengan masturbasi/onani), itu membatalkan puasa (Sebagaimana dalam pembahasan pembatal-pembatal puasa).

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

"Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku keadaan tersalah (tidak sengaja), lupa, dan hal-hal yang terpaksa (bukan kehendak sendiri)." (HR. Ibnu Majah, dishahihkn oleh al-Albany)

Demikianlah tiga syarat batalnya puasa, jika seseorang melakukannya dan terpenuhi ketiga syarat tersebut, maka puasanya batal.

Sumber Bacaan Kitab Manhajus Salikin wa Taudhih al-Fiqhi fid-Din Kitab as-Shiyam oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'dy rahimahullah

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang Mamuju Tengah Sul-Bar.


Akhukum al-Faqir Ilallahi Ta'ala Abu Mujahid al-Indunisy


Majmu'ah Salafy Sulbar

Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina

Kamis, 29 April 2021

Pembatal-Pembatal Puasa

Pembatal Puasa



1. Makan dan Minum dengan Sengaja dan Perbuatan yang Semakna dengan Makan dan Minum

Definisi makan dan minum sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin adalah : "Memasukkan sesuatu ke lambung melalui mulut, sesuatu yang dimakan atau diminum yang bersifat umum sesuatu yang memberi manfaat, memberi mudharat (termasuk merokok), atau sesuatu yang tidak memberi manfaat tidak pula mudharat." Berdasarkan keumuman ayat :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

"Dan makan dan minumlah hingga nampak jelas bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar.(Qs. al-Baqarah:187)

[Majalis Syahr Ramadhan, Majelis ke 14 tentang Mufaththirat ash-Shaum]

Adapun yang semakna dengan makan dan minum adalah :

Infus, memasukkan obat dan nutrisi tubuh melalui pembuluh darah. (Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin).

Cuci darah, sebagaimana dijelaskan oleh (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah  10/19).

Merokok yang dalam istilah bahasa Arab, merokok adalah syurbud dukhon (meminum uap), sehingga semakna dengan meminum. Selain itu ada unsur atau zat yang sampai tenggorokan atau bahkan lambung, sehingga semakna dengan makan atau minum (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 203 - 204).


2. Berhubungan Suami Istri atau Mengeluarkan Mani dengan Sengaja

Jima' (berhubungan suami istri) di siang hari Ramadhan yang dilakukan oleh orang yang wajib berpuasa, selain membatalkan puasa juga mengharuskan pembayaran kaffaroh sebagaimana dalam hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَكْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ قَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهَذَا قَالَ أَفْقَرَ مِنَّا فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

"Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu: Datang seseorang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah binasa!” Rasulullah bertanya, “Apa yang membinasakanmu?” Orang itu menjawab, “Aku telah berhubungan dengan istriku di siang Ramadhan.” Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan, “Mampukah engkau untuk memerdekakan budak?” Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian kata beliau, “Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian kata beliau, “Mampukah engkau memberi makan 60 orang miskin?” Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian didatangkan satu wadah kurma kepada Nabi dan beliau berkata (kepada laki-laki itu), “Shadaqahkan ini.” Orang itu bertanya, “Kepada yang lebih fakir dari kami? Sungguh di Kota Madinah ini tiada yang lebih membutuhkan kurma ini daripada kami.” Mendengar itu Rasulullah ﷺ tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau  berkata, “Pulanglah dan berikan ini kepada keluargamu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Termasuk yang membatalkan puasa dalam kategori jenis ini adalah mengeluarkan mani secara sengaja, seperti masturbasi/onani. Dalam suatu hadits Qudsi, Allah عزوجل berfirman tentang orang yang berpuasa:

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

"Orang yang berpuasa itu meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku." (HR. Bukhari 1761)


3. Muntah dengan Sengaja.

Muntah dengan sengaja membatalkan puasa. Seperti memasukkan jari ke mulut hingga pangkal lidah, sehingga muntah. Atau, menyengaja mencium bau-bau yang busuk agar muntah. Demikian juga menyengaja melihat hal-hal yang menjijikkan dengan tujuan agar menjadi muntah, ini semua membatalkan puasa. Namun bagi orang yang tidak menyengaja untuk muntah, tapi karena keadaan tertentu seperti seorang yang terserang masuk angin atau mabuk perjalanan kemudian muntah, maka ini tidak membatalkan puasa.

من استقَاء وهو صائمٌ فعليهِ القضاءُ ومن ذرعهُ القيْءُ فليْسَ عليهِ القضاءُِ

"Barangsiapa yang  sengaja muntah padahal dalam keadaan berpuasa, dia wajib membayar qadha, dan barangsiapa yang tidak kuasa menahan muntah (tidak sengaja), tidak ada qadha atasnya." (HR. Imam Malik dengan sanad yang shahih)

4. Obat Tetes Hidung.

Pada saat berpuasa, Rasulullah ﷺ melarang seseorang yang berwudhu’ menghirup air ke hidungnya terlalu dalam :

وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

"Dan bersungguh-sungguhlah dalam istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), kecuali jika engkau dalam keadaan berpuasa." (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah dan selainnya dishahihkan oleh al-Albany)

Hadits tersebut dijadikan dalil oleh sebagian Ulama yang menunjukkan bahwa penggunaan tetes hidung membatalkan puasa. Masuknya air ke hidung sehingga sampai kerongkongan akan membatalkan puasa. Berbeda dengan sekedar menghirup kemudian mengeluarkan lagi, seperti yang dilakukan dalam berwudhu’, hal itu tidak membatalkan puasa.


5.Keluarnya Darah Haid dan Nifas khusus untuk Wanita.

Telah dijelaskan pada pembahasan syarat-syarat wajib Berpuasa, bahwa wanita yang haid dan nifas haram untuk berpuasa dan juga termasuk pembatal puasa.


6.Memiliki Niat Kuat untuk Membatalkan Puasa.

Seseorang yang memiliki niat tekad yang sangat kuat untuk membatalkan puasa, maka terhitung puasanya telah batal, meski ia belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda jika hanya sekedar terbetik keinginan sesaat untuk membatalkan puasa,maka hal ini tidaklah membatalkan puasa.Sama dengan seseorang yang punya keinginan berbuat kejahatan.Jika sekedar terbetik keinginan, kemudian tidak dijadikan niat yang kuat, maka hal ini tidaklah terhitung sebagai suatu kejahatan, selama belum dilakukan.Tapi,seseorang yang ingin berbuat kejahatan, dan berupaya keras untuk mempersiapkan kejahatan itu, bertekad dan memiliki niat yang sangat kuat, maka terhitung ia telah menjalankan kejahatan tersebut. Sebagaimana dalam hadits berikut :

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

"Jika dua orang muslim bertemu dengan pedang masing-masing, maka pembunuh dan yang dibunuh ada di neraka. Aku (seorang Sahabat) bertanya: (kalau) pembunuhnya sudah jelas (berdosa), mengapa yang terbunuh juga demikian? Rasul bersabda: karena dia bertekad kuat untuk membunuh lawannya."(HR. Bukhari No.30)

Sumber bacaan Kitab Shiyam dari Manhajis Salikin oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'dy, Kitab Shiyam dari Fiqh Al-Muyassar oleh Sekelompok Ulama dan Catatan Pribadi Penyusun.

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang Mamuju Tengah Sulawesi Barat.

Disusun oleh Akhukum,

Abu Mujahid


Majmu'ah Sulbar

Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina

Rabu, 28 April 2021

Fenomena Tarawih Ngebut

Tarawih Ngebut



Tujuan shalat, adalah untuk mengingat Allah ﷻ Sebagaimana firman-Nya :

 وَأَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِىٓ

"Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku." (QS. Thaha:14)

Karena itu, shalat yang baik seharusnya tidak menghilangkan tuma'ninah dalam setiap gerakannya, tidak tergesa-gesa, apalagi dilakukan dengan " gerakan superkilat" . Bahkan ada sebagian saudara kita kaum muslimin yang melakukan shalat Tarawih dalam waktu yang sangat singkat, sangat cepat, 23 rakaat bisa selesai dalam waktu 10 menit atau bahkan 7 menit, Imam membaca al-Fatihah dengan sangat cepat, tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, bahkan posisi sujud bagaikan ayam yang mematuk biji-bijian atau burung gagak yang mematuk makanan, kemudian akhirnya menjadi viral "Inilah Shalat tercepat di dunia", Allahul Musta'an. Perhatikanlah hadits datang dari sahabat Abu Abdillah al-Asy’ari radliyallaahu ‘anhu bahwasanya :

أنَّ رسولَ الله ﷺ رأى رجلاً لا يُتمُّ رُكوعَهُ يِنْقُر في سجوده وهو يصلي، فقال رسول الله ﷺ : لوماتَ هذا على حاله هذه مات على غير ملة محمد ينقر صلاته كما ينقر الغرابُ الدَّم مثلُ الذين لا يُتِمُّ ركوعَه وينقر في سجوده مثل الجائع يأكل التمرة والتمرتانِ لا يُغنيَان عنه شيئً . 

"Rasulullah ﷺ melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’nya, dan waktu sujud dilakukan cepat (seakan-akan) mematuk dalam keadaan dia sholat. Maka Rasulullahﷺ bersabda : "Kalau orang ini mati dalam keadaan seperti itu, ia mati di luar agama Muhammad. Ia sujud seperti burung gagak mematuk makanan. Perumpamaan orang ruku’ tidak sempurna dan sujudnya cepat seperti orang kelaparan makan sebiji atau dua biji kurma yang tidak mengenyangkannya." (HR. Abu Ya’la,alBaihaqy, at-Thabrany, dan dihasankan oleh Al-Albaany)

Dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah radiyallahu'anhu beliau berkata :

 نهاني خليلي صلى الله عليه وسلم أن أَنْقُرَ في صلاتي نقرَ الدِّيكَ و أنْ ألْتَفِتَ إلتِفَاتَ الثَّعْلَبِ و أن أُقْعِيَ إقعاءَ القردِ.

"Sahabat dekatku, (Nabi Muhammad ﷺ) melarangku sujud dalam shalat (dengan cepat) seperti mematuknya ayam jantan, melarangku berpaling (ke kanan atau ke kiri) seperti berpalingnya musang, dan melarangku duduk iq-aa’ seperti kera". (HR. Ahmad, dan Ibnu Abi Syaibah, dihasankan oleh Al-Albany) 

Ketahuilah, barakallahufikum, sejelek-jelek pencuri adalah yang mencuri dalam shalatnya, dalam hadits disebutkan :

أسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِيْ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ لاَ يَتِمُّ رُكُوْعَهَا وَلاَ سُجُوْدَهَا

"Seburuk-buruk pencuri adalah seseorang yang mencuri dari sholatnya. (Para Sahabat bertanya) : Bagaimana seseorang bisa mencuri dari shalatnya? Rasul menjawab : "Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya." (HR. Ahmad dan At-Thabrany, al-Haitsamy menyatakan bahwa para perawi hadits ini adalah perawi-perawi hadits shohih, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Haakim).

Seorang yang tidak Thuma’ninah (tenang) dalam sholat bisa menyebabkan shalat tidak sah, karena Thuma'ninah adalah salahsatu rukun dalam Shalat. 

Nabi ﷺ dalam hadits yang dikenal dengan Musius Shalah (Orang yang jelek Shalatnya) pernah memerintahkan seorang yang tidak thuma’ninah dalam shalat untuk mengulangi shalatnya hingga tiga kali. Kemudian Beliau memberikan bimbingan tentang tatacara shalat yang benar. Dalam hadist Abu Hurairah radiyallahu'anha bahwasanya :

 رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ اْلمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلاَثًا فَقَالَ وَالَّذِيْ بَعَثَكَ بِاْلحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِيْ فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ اْلقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا

"Rasulullah ﷺ masuk ke dalam masjid, kemudian masuk pula seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu melakukan shalat kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Nabi menjawab salam tersebut kemudian mengatakan kepadanya : ‘Kembalilah ulangi shalat, karena sesungguhnya engkau belum shalat’. Maka kemudian laki-laki itu mengulangi shalat sebagaimana shalatnya sebelumnya, kemudian ia mendatangi Nabi dan mengucapkan salam, kemudian Nabi mengatakan :

‘Kembali ulangilah shalat karena engkau belum shalat (Hal ini berulang tiga kali).

Maka kemudian laki-laki itu mengatakan : ‘Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan lebih baik dari shalatku tadi, maka ajarilah aku’. Rasul ﷺ bersabda : "Jika engkau berdiri untuk shalat, bertakbirlah, kemudian bacalah yang mudah bagimu dari Al-Qur’an, kemudian ruku’lah sampai engkau thuma’ninah dalam ruku’,kemudian bangkitlah dari ruku’ sampai engkau thuma’ninah beri’tidal, kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah dari sujud sampaiengkau thuma’ninah dalam sujud,kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud,kemudian bangkitlah sampai engkau thuma’ninah dalam duduk, dan lakukanlah hal yang demikian ini pada seluruh sholatmu." (HR. Bukhari-Muslim)

Berkata Imam Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah :

وأما مايفعل بعض الناس من الإسراع المفرط فإنه خلاف المشروع، فإن أدَّى إلى الإخلال بواجب أو ركن كان مبطلا للصلاة.

وكثير من الأئمة‏ :‏

لا يتأنَّى في صلاة التراويح وهذا  خطأ منهم، فإن الإمام لا يصلي لنفسه فقط، وإنما يصلي لنفسه ولغيره، فهو كالولي يجب عليه فعل الأصلح، وقد ذكر أهل العلم أنه يكره للإمام أن يسرع سرعة تمنع المأمومين فعل ما يجب‏.‏

"Adapun mengenai apa yang dilakukan orang-orang seperti tergesa-gesa dalam shalat adalah hal yang berlebih-lebihan, demikian ini menyalahi apa yang telah ditentukan dalam agama. Apabila shalat dengan cara seperti ini meninggalkan salah satu dari kewajiban atau rukun shalat, maka hal itu telah membatalkan Shalatnya.

Banyak dari para imam yang memimpin shalat tidak memanfaatkan waktu dalam shalat Tarawih, dan ini adalah kesalahan dari mereka. Hal ini karena imam tidak saja memimpin dirinya dalam shalat, namun dia memimpin dirinya dan orang lain. Maka dia seperti pemimpin, ia diwajibkan melakukan apa yang paling bermanfaat dan paling sesuai. Para ulama telah menyebutkan bahwa dibenci dari seorang Imam tergesa-gesa dalam shalat sampai pada keadaan dimana orang-orang yang mengikutinya dalam shalat tidak dapat melakukan gerakan yang wajib dilakukan."

(Fushulu fi As-Shiyam wa At-Tarawih wa Az-Zakat, hal. 18-19)

Akhukum Abu Mujahid al-Indunisy


Majmu'ah Salafy Sulbar

Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina


Keberkahan Makan Sahur



Saudaraku jika engkau Bersahur, maka engkau akan mendapatkan keberkahan, diantaranya :

1.  Berkah terbesar yang akan diraih dengan melaksanakan sahur adalah mengikuti sunnah Nabi ﷺ baik sunnah qauliyah (ucapan) sebagaimana hadits Anas radhiyallahu'anhu riwayat Bukhari dan Muslim :

تسحروا فإن في السحور بركة

"Hendaklah kalian makan sahur, karena pada santapan sahur terdapat berkah."

Atau sunnah fi'liyah (perbuatan) sebagaimana dalam hadits riwayat Anas bin Malik radiyallahu'anhu dari Zaid bin Tsabit radiyallahu bahwa ia berkata :

تسحرنا مع رسول الله ﷺ ثم قمنا إلى الصلاة، قلت : كم كان قدر ما بينهما ؟ قال : خمسين آية .

"Kami pernah melakukan sahur bersama Rasulullahﷺ kemudian kami pergi menunaikan shalat Subuh." Aku (Anas) pun bertanya : "Berapa selang waktu antara keduanya (sahur dan shalat Subuh) ?" Zaid bin Tsabit menjawab :"Lama bacaan lima puluh ayat."


2. Menyelisihi kebiasaan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) berdasarkan hadits 'Amr bin al-'Ash radiyallahu'anhu bahwa Rasulullahﷺ bersabda :

فصلُ ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر.

"Pembeda antara puasa kami (umat islam) dengan puasa ahli kitab adalah makan Sahur ."

3. Menguatkan orang yang berpuasa dalam beribadah.

4. Memberi tambahan semangat dalam melaksanakan ibadah.

5. Menjadi sebab untuk berdzikir dan berdo'a di waktu terkabulnya do'a, karena bangun diwaktu sahur.

6. Mendapatkan kesempatan untuk menyusulkan niat berpuasa esok harinya,yaitu bagi orang yang lupa berniat sebelum tidur. (Syarh Riyadhussholihin Ibnu Utsaimin)

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang Mamuju Tengah Sulawesi Barat.

Disusun oleh Akhukum al-Faqir ila Maghfirati Rabbih

Abu Mujahid al-Indunisy


Majmu'ah Salafy Sulbar

Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina

Niat Puasa Ramadhan

Niat Puasa Ramadhan



Berniat dalam puasa adalah syarat sahnya puasa, sebagaimana dimaklumi bersama dalam hadits Umar bin Khattab radiyallahu'anhu  Rasulullah ﷺ bersabda :

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

"Setiap amalan sesuai niatnya, dan seseorang tidaklah mendapatkan kecuali apa yang dia niatkan". (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka setiap ibadah harus ada niat dan niat itu letaknya di dalam hati tidak dilafadzkan, sebab niat artinya maksud dan keinginan melakukan sesuatu, sehingga kalau dia bermaksud melakukan sesuatu maka itulah niatnya.

Para ulama dan juga ahli bahasa sepakat bahwa niat tempatnya dalam hati dan tidak diucapkan, karena itu apa yang dilakukan sebagian kaum muslimin dengan membaca "Nawaitu shauma ghadin... saya berniat berpuasa besok...dst" adalah amalan bid'ah yang tidak diketahui dalilnya bahkan menyelisihi nash-nash secara syar'i dan menyelisihi kesepakatan para ulama dan ahli bahasa serta akal sehat, sebab agama ini mudah dan bacaan seperti ini membuat orang sulit.

Niat harus dilakukan dari malam hari dan menghadirkan niat itu pada seluruh malam Ramadhan, ini dikuatkan oleh Madzhab Syafi'iyah, Hambaliyah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sebagaimana hadits Ibnu Umar radiyallahu'anhu bahwa Nabiﷺ bersabda :

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له

"Siapa yang tidak berniat puasa dari malam hari sampai sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya." (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albany)

Kemudian apakah niat harus setiap malam atau cukup satu kali saja mencakup seluruh puasa dalam bulan Ramadhan ? 

Terjadi silang pendapat diantara ulama dan yang dhohir Insyaallah pendapat yang kuat dia berniat setiap malamnya karena puasa tidak sama dengan ibadah Haji yang banyak rangkaian didalamnya tapi niatnya hanya satu, adapun puasa amalannya tidak bersambung tapi ada pemisah siang dengan malamnya, ini dikuatkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, Imam Syaukani dan lainnya.

Wallahu a'lam

Sumber bacaan Kitab Shiyam dari Manhajis Salikin oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'dy, Kitab Shiyam dari Fiqh Al-Muyassar oleh Sekelompok Ulama dan Catatan Pribadi Penyusun.

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang Mamuju Tengah Sulawesi Barat.

Disusun oleh Akhukum al-Faqir ila Maghfirati Rabbih

Abu Mujahid al-Indunisy


Majmu'ah Salafy Sulbar

Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina

Selasa, 27 April 2021

Syarat Wajib Puasa


Syarat wajibnya berpuasa di bulan Ramadhan ada enam :

1. Muslim, adapun orang kafir tidak diwajibkan berpuasa dan tidak sah puasanya jika ia melakukannya, sebagaimana dalam surah at-Taubah : 54

وما منعهم أن تُقبل منهم نفقاتُهم إلاَّ أنهم كفروا بِالله وبرسولهِ .

"Tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima infak-infak mereka selain karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya".

2. Mencapai usia baligh, adapun anak-anak yang belum baligh tidak ada pembebanan syariat, sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahu'anha riwayat Ahmad, Abu Daud dan selainnya, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani :

رُفع القلمُ عن ثلاثةٍ : عن النائم حتى يستيقِظ وعن الصغير حتى يكبرُ وعن المجنون حتى يعقل أو يفيقَ .

"Pena (pencatat amalan) diangkat dari tiga golongan : dari orang yang tidur hingga dia terbangun, dari anak kecil hingga dia baligh (dewasa) dan dari orang gila hingga dia berakal (sadar)."

Adapun usia baligh pada seorang anak bisa diketahui dengan melihat salah satu dari tanda-tanda berikut :

- Berusia genap  lima belas tahun (menurut hitungan tahun hijriah).

- Tumbuh rambut disekitar  kemaluan (meskipun usianya belum genap lima belas tahun).

- Keluar air mani (sperma) karena syahwat, baik keluar karena mimpi basah maupun dalam keadaan terjaga (meskipun usianya belum lima belas tahun).

- Mengalami haid, ini khusus anak perempuan (meskipun belum berusia lima belas tahun). (Syarh al-Mumti' 6/333).

3. Berakal, sehingga tidak ada ketentuan pembebanan syariat terhadap orang yang tidak berakal sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahu'anha yang lalu.

4. Memiliki kemampuan berpuasa, maka orang yang tidak mampu tidak wajib berpuasa, berdasarkan firman Allah ﷻ :

لا يكلفُ اللهُ نفساً إلا وُسعها (سورة البقرة : )

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya." (Qs. al-Baqarah : 286)

Tidak mampu yang menjadi udzur baginya untuk tidak berpuasa terbagi menjadi dua :

Pertama, tidak mampu bersifat tidak tetap karena sakit yang masih berkemungkinan sembuh maka dia mengqadha (menganti) puasa diluar Ramadhan.

Kedua, tidak mampu bersifat tetap karena usia lanjut (yang belum pikun) atau sakit yang tidak berkemungkinan sembuh (berdasarkan pemeriksaan pakar medis yang ahli di bidangnya dan terpercaya atau berdasarkan kebiasaan yang terjadi). Maka dia membayar fidyah dengan memberi makan fakir miskin.

5. Mukim (tinggal menetap), maka seorang musafir mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.

6. Tidak ada penghalang yaitu terbebas dari haid dan nifas khusus wanita. jika dia haid dan nifas haram berpuasa dan tidak sah puasanya. (Syarat 5 dan 6 merupakan syarat tambahan yang disebutkan oleh Syaikh al-Utsaimin pada kitab asy-Syarh al-Mumti' 6/335 dan 340).

Sumber bacaan Kitab Shiyam dari Manhajis Salikin oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'dy, Kitab Shiyam dari Fiqh Al-Muyassar oleh Sekelompok Ulama dan Catatan Pribadi Penyusun.

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang Mamuju Tengah Sulawesi Barat.

Disusun oleh Akhukum al-Faqir ila Maghfirati Rabbih

Abu Mujahid al-Indunisy

Majmu'ah Salafy Sulbar

Hukum Puasa Ramadhan

Hukum Puasa Ramadhan


Berpuasa Ramadhan hukumnya fardhu 'ain, artinya wajib bagi setiap hamba Allahﷻ yang memenuhi syarat wajibnya puasa Ramadhan berdasarkan nash al-Qur'an, as-Sunnah serta Ijma Ulama.

1. Dari al-Qur'an tentang wajibnya puasa Ramadhan disebutkan dalam surah al-Baqarah : 183.

Allah ﷻ berfirman :

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS. Al-Baqarah : 183)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata :

يخبر تعالى بما منَّ به على عباده، بأنه فرض عليهم الصيام، كما فرض على الأمم السابقة، لأنه من الشرائع والأوامر التي هي مصلحة للخلق في كل زمان

"Allah ﷻ mengabarkan atas nikmat yang diberikan kepada hambanya, berupa diwajibkannya puasa (Ramadhan) atas mereka,  sebagaimana diwajibkan atas ummat-ummat sebelumnya. Sesungguhnya puasa Ramadhan termasuk syariat dan perintah yang terkandung padanya kebaikan bagi hamba pada setiap waktu."

(Taisir Karimirrahman : 86)

2. Dari as-Sunnah tentang wajibnya puasa Ramadhan diantaranya hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma riwayat Bukhari dan Muslim :

بني الإسلام على خمس : شهادة أن لاإله إلا الله وأن محمدارسول الله وإقام الصلاة وإيتاءالزكاة والحج وصوم رمضان .

"Islam dibangun diatas lima dasar : persaksian tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan Shalat, membayar Zakat, menunaikan ibadah Haji dan berpuasa Ramadhan".

3. Adapun Ijma' (kesepakatan Ulama) tentang wajibnya puasa Ramadhan telah dinukil oleh banyak Ulama (al-Majmu' 6/249). Ijma' ini bersifat qath'i (meyakinkan), karena wajibnya puasa Ramadhan merupakan perkara  yang telah diketahui dalam agama Islam. Siapa yang mengingkari tentang wajibnya dia kafir keluar dari islam.

Sumber bacaan Kitab Shiyam dari Manhajis Salikin oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'dy, Kitab Shiyam dan Fiqh Al-Muyassar oleh Sekelompok Ulama, juga Catatan Pribadi Penyusun.

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang Mamuju Tengah Sulawesi Barat.

Disusun oleh Akhukum al-Faqir ila Maghfirati Rabbih

Abu Mujahid al-Indunisy

Majmu'ah Salafy Sulbar

Channel Telegram Al Haqqu Ahabbu Ilaina

Definisi Puasa



Puasa secara bahasa  adalah : 

الإمساك عن الشيئ

Artinya : Menahan dari sesuatu. Maka siapa saja yang menahan dirinya dari sesuatu disebut orang yang berpuasa, sebagaimana puasanya Maryam alaihassalam, disebutkan dalam Al-Qur'an Allah ﷻ berfirman :

فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِىٓ إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

"Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini." (QS. Maryam : 26)

Maka puasanya Maryam adalah dengan tidak (menahan) berbicara kepada orang lain.

Adapun Puasa secara syariat adalah :

الإمساك عن الأكل والشرب وسائر المفطرات مع النية من طلوع الفجر الصادق إلى غروب الشمس .

Artinya : "Menahan dari makan, minum dan pembatal-pembatal puasa lainnya dengan berniat (beribadah kepada Allahﷻ) mulai dari terbitnya fajar shadiq (waktu shubuh) sampai terbenamnya matahari".

Dari pengertian puasa tersebut, menunjukkan bahwa puasa mempunyai dua rukun asasi yaitu :

1. Menahan dari pembatal-pembatal puasa dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dalilnya adalah firman Allahﷻ :

فَالْئٰنَ بٰشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ  ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ

"Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam." (QS. Al-Baqarah : 187)

Yang di inginkan dengan benang putih adalah siang dan benang hitam adalah malam.

2. Berniat, yaitu orang yang berpuasa ketika dia menahan dirinya dari pembatal-pembatal puasa, berniat dalam rangka beribadah kepada Allah ﷻ. Maka dengan niat tersebut akan membedakan amalan yang dimaksudkan ibadah dengan tidak dimaksudkan ibadah, dengan niat akan membedakan satu ibadah dengan ibadah yang lain, bahkan dengan niat menjadikan amalan itu diterima atau tidak. Dalilnya adalah sabda Rasulullah ﷺ :

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

"Sesungguhnya setiap amalan sesuai dengan niatnya dan seseorang akan mendapatkan apa yang dia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)


Sumber bacaan Kitab Shiyam dari Manhajis Salikin oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'dy, Kitab Shiyam dari Fiqh Al-Muyassar oleh Sekelompok Ulama dan Catatan Pribadi Penyusun.

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang Mamuju Tengah Sulawesi Barat.

Disusun oleh Akhukum al-Faqir ila Maghfirati Rabbih

Abu Mujahid al-Indunisy

Majmu'ah Salafy Sulbar

Channel Telegram Al Haqqu Ahabbu Ilaina

Biografi Asy-Syaikhah Ummu Abdillah bintu Asy Syaikh Muqbil



Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Saya Ummu Abdillah Aisyah binti Imam Mujaddidus Sunnah (pembaharu Sunnah) qami'ul bid'ah (pelumat kebid'ahan) As-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'iy rahimahullah.

Aku dilahirkan di kota (Madinah) Rasulullah ﷺ, hanya saja aku belum pernah menetap di sana sama sekali.

Aku dibesarkan dan berkembang di desaku Dammaj, di sebuah rumah ilmu dengan suasana Diniyah dan ilmiah, kami tidak mengangkat kepala untuk selain ilmu.

Aku memulai dari masa kecilku walhamdulillah dalam menuntut ilmu, maka aku mempelajari ilmu membaca dan menulis melalui tangan ayahku yang mulia.

Dan juga beliau mengajarkan itu kepada kami kepada sebagian isteri dari para santri ayahku, yang mereka telah diutus untuk menuntut ilmu dari Mesir dan Sudan, dan aku mulai belajar Al-Quranul Karim bersamaan dengan Mabadiy Fi Ilmit Tajwid (Dasar-dasar ilmu tajwid), dan menghapal sebagian matan-matan seperti kitab Riyadhus Shalihin dan Umdatul Ahkam.

Kemudian aku beralih ke pelajaran-pelajaran ayahku rahimahullah yang umum, aku hadir di tempat khusus para wanita, sehingga terkadang aku sendirian di tempat tersebut, tidak ditemukan satu wanita pun di tempat tersebut selain diriku.

Dan ayahku rahimahullah adalah orang yang begitu besar perhatiannya dalam mendidik aku dan mengajariku serta mengarahkan ku, sehingga beliau terkadang menyerahkan pembahasan dan kesibukannya kepadaku.

Dan aku mulai mempelajari walhamdulillah tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits melalui tangan ayahku kitab: "Mukhtasar Ulumil Hadits" karya Ibnu Katsir, "Tadribur rawi" karya As-Suyuthi, "Gharatul Fashl Alal Mu'taddin Ala Kutubil Ilal" karya ayahku. Sebagaimana aku mempelajari "Nuzhah An-Nazhar" karya Ibnu Hajar, "Syarah Ilal At-Tirmidzi" karya Ibnu Rajab melalui tangan beberapa masyaikh pondok - maksudnya Darul Hadits di Dammaj - dahulu.

Dan aku mulai mempelajari melalui tangan ayahku tentang sejarah dan Sirah: "As-Shahih Al-Musnad Min Dalail An-Nubuwwah" karya ayahku rahimahullah di dalam dars (pelajaran) khusus maupun umum juga, dan dari "Shahih Bukhari" dan yang aku maksud dengan dars khusus adalah: pelajaran yang ayahku mengkhususkan aku untuk mempelajarinya di rumah, dan dars umum adalah: pelajaran-pelajaran umum yang disampaikan beliau di kursinya di masjid.

Sedangkan tentang tauhid dan akidah aku hadir dalam beberapa pelajaran ayahku dalam kitab: "Al-Jami' As-Shahih Fil Qadar" dan "As-Syafa'ah" yang keduanya karya ayahku rahimahullah. Dan sebagian dari "Tauhidul Asma was Shifat" karya Ibnu Khuzaimah, dan "As-Sunnah" karya Abdullah bin Ahmad. Dan pelajaran-pelajaran ini berlangsung pada dars-dars umum.

"At-Tadmuriyyah" dan "Al-Fatwa Al-Hamawiyyah" dan "Al-Iman Al-Awsath" karya Syaikhul Islam, dan "Syarah Al-Aqidah At-Thahawiyyah" karya Ibnu Abil Izz, dan "Fathul Majid Syarah Kitab At-Tauhid" melalui tangan sebagian masyaikh pondok.

Dan aku punya beberapa pertanyaan tentang kitab-kitab ini yang dahulu aku tanyakan kepada ayahku tentangnya.

Sedangkan dalam ilmu nahwu: "At-Tuhfah As-Saniyyah", dan "Mutammimah Al-Aajurumiyyah" serta "Syarah Qathrun Nada", dan "Syarah Ibni Aqil". Aku pelajari itu semua melalui tangan ayahku rahimahullah. Dan beliau selalu menyuruhku untuk mengi'rab di hadapan beliau semua apa yang telah lewat bersama kami i'rabnya dari syawahid (teks-teks yang menjadi inti pembahasan, pent) dari ayat-ayat Qur'an dan contoh-contoh serta bait-bait syair.

Dan aku telah menghapal walhamdulillah kitab "Alfiyah Ibni Malik". Dan kami begitu sangat suka dengan ilmu nahwu karena seringnya ayahku Rahimahullah memberikan perhatian terhadapnya di dalam pelajaran-pelajaran beliau dan ulasan-ulasan beliau.

Dan aku pun menghadiri pelajaran-pelajaran ayahku tentang fikih dan matan-matan hadits dari: "Shahih Bukhari" dan "Shahih Muslim", dan "As-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fi As-Shahihain", dan "Dzammul Masalah" karya ayahku.

Dan dalam Ushul fiqih: "Al-Ushul Min Ilmi Al-Ushul", dan "Al-Waraqat", dan "Ar-Risalah" karya As-Syafi'i melalui tangan sebagian masyaikh pondok.

Dan tentang tafsir: "Tafsir Al-Hafizh Ibni Katsir", dan "As-Shahih Al-Musnad Min Asbab An-Nuzul". Dan ini berlangsung dalam pelajaran-pelajaran ayahku yang umum.

"Muqaddimah Fi Ushul At-Tafsir" karya Syaikhul Islam melalui tangan sebagian masyaikh pondok.

Dan karena banyaknya nasehat ayahku tentang motivasi dalam menuntut ilmu aku bergumam dalam hati agar aku menjadi termasuk dari Hafizh Hadits, namun belum juga ditakdirkan itu untukku.

Dan inilah sebagian yang dimudahkan Rabb-ku untukku, sedangkan ilmu itu begitu mudah dan Rabb kita telah berfirman:

(وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ) [القمر:17].

"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" [Qs. Al-Qamar: 17]

Dan ayahku rahimahullah telah memuji aku di dalam kata pengantarnya terhadap kitabku "Al-Jami' As-Shahih Fil Ilmi Wa Fadhlih" dan beliau katakan: "adapun Ummu Abdillah Al-Wadi'iyyah maka beliau adalah seorang wanita pengajar - semoga Allah menjaganya - dengan memberikan taklim saudari-saudarinya dalam ilmu akidah, Al-Quran, hadits, nahwu, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saudari-saudarinya Fillah pada surat-surat yang sampai kepadanya dari banyak negeri di Yaman, dan dia tidak pernah mengangkat kepalanya untuk selain ilmu, taklim dan menulis kitab, dan kitabnya "As-Shahih Al-Musnad Fi As-Syamail Al-Muhammadiyyah" yang hampir selesai pencetakannya. Saya memohon kepada Allah agar memberinya Taufiq, dan memudahkan baginya untuk terus melanjutkan dalam berkhidmat kepada Sunnah Nabawiyah, dan berdakwah kepadanya, dan agar melindunginya dari fitnah dunia dan setelah kematian, sesungguhnya Dia atas segala sesuatunya maha kuasa.

Dan beliau rahimahullah berkata di dalam "Mukadimah Nashihati Lin Nisa": .. dia seorang wanita yang dapat memberikan faedah dalam berbagai bidang ilmu, beradab dengan adab Rasul ﷺ, wanita yang utama, semangat dalam mengisi waktunya dengan sebenarnya, dan oleh karenanya Allah berikan keberkahan pada ilmunya, semangat untuk memberikan faedah kepada saudari-saudarinya, dia mengajarkan kitab hingga selesai kemudian akan beralih kepada kitab lainnya, cinta kepada kitab-kitab akidah, fikih dan bahasa. Selesai.

Dan dari usiaku yang masih beliau aku telah mengajar, dan pada tahun-tahun pertama dimana aku mengajar aku mengajarkan qiroah (membaca) dan kitabah (menulis), Al-Quran, menghapal beberapa matan, hingga Allah bukakan dan aku mengajarkan setelah itu dengan mengajarkan para wanita di pondok Darul Hadits di Dammaj.

Dan aku telah mengambil faedah dari arahan-arahan ayahku baik khusus maupun umum dan diantaranya:

Berpegang dengan dalil berdasarkan pemahaman kaum salaf shaleh dan membuang jauh sikap taklid (membebek).

Dan bahwa kebenaran itu tidak dikenal dengan sosoknya; akan tetapi sosok orang-orang akan dapat dikenal dengan kebenaran (yang dibawanya).

Menerima ilmu karena tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih membahagiakan dari ilmu, bukan kekuasaan, bukan pula kepemimpinan, dan bukan juga dunia dan seisinya.

Tidak menoleh kepada perpecahan dan pengelompokan.

Meninggalkan perdebatan yang tidak ada faedah padanya.

Menjauhkan diri dari kesibukan-kesibukan semampunya dan memfokuskan diri pada ilmu.

Menjaga waktu dan menghidupkannya dengan ilmu dan ketaatan kepada Rabb alam semesta.

Aku tulis kalimat ini sebagai talbiyah bagi sebagian saudari-saudariku Fillah sekalipun aku banyak menghindar darinya, akan tetapi terkadang datang sebuah permohonan yang aku tidak sanggup untuk menolaknya, dan kami tahu akan kelemahan kami dan ketidak mampuan kami, dan kami bukanlah apa-apa, dan kami memohon kepada Rabb kami Taufiq-Nya selalu dan tambahan dari karunia-Nya hingga kami berjumpa dengan-Nya subhanah dan agar Allah jadikan kemanfaatan bagi kami dan menjadikan keberkahan bagi kami.

✍🏼 Ditulis oleh:

Ummu Abdillah Aisyah binti As-Syaikh Muqbil rahimahullah

Sumber : Channel Telegram Butiran Faedah


 

Minggu, 25 April 2021

Hati-Hati Pahala Puasa Berkurang




Berkata As-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ta'ala:

Wahai kaum muslimin, jagalah puasa-puasa kalian dari perbuatan sia-sia, keji, kedustaan dalam ucapan dan perbuatan. Karena siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan amalan dusta maka Allah tidak butuh pada perbuatan meninggalkan makan dan minumnya (puasanya).

Tegakkan shalat pada waktu-waktunya secara berjamaah, perbanyaklah shalat, dzikir, membaca Al-Quran, sedekah dan lainnya dari amalan-amalan ketaatan. Jauhkanlah sesuatu yang Allah haramkan atas kalian seperti ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), menipu, dusta, mencela dan mencaci maki. Apabila salah seorang mencelamu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku sedang puasa". Jauhkan diri dari mendengar musik-musik dan alat-alat yang melalaikan berupa radio maupun lainnya.

Karena sejatinya puasa adalah tameng yang akan melindungi orang yang berpuasa dari dosa-dosa, dan menyelamatkannya dari api neraka. Maka barangsiapa yang berani menjerumuskan diri ke dalam keharaman-keharaman, atau meremehkan kewajiban-kewajiban di dalam puasanya maka hal itu akan mengurangi pahalanya.

Ad-Dhiya Al-Lami' (5/466).

Sumber : Channel Telegram Butiran Faedah


Rabu, 14 April 2021

Bacaan Dzikir Setelah Shalat Dhuha

Dzikir Setelah Shalat Dhuha


Pertanyaan :


Bismillaah. Allahu yahfadzuk yaa Ustadz, Afwan ijin bertanya...

Doa setelah sholat Sunnah Dhuha

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrod itu cara pengamalannya bagaimana ya?

Ana dulu diingatkan seorang Ustadzah bahwa doa tersebut tidak bisa dibuat dalil untuk doa setelah Sholat Dhuha , dan ana dianggap menjerumuskan ummat pada perkara bid'ah karena menshare doa tersebut dari suatu akun. Namun sekarang ana lihat pada akun dakwah Ustadzah tersebut menshare sendiri doa tersebut.

Jadi yg shohihnya bagaimana ya Ustadz, mohon pencerahannya.


Dijawab oleh Ustadz Sholehudin hafizhahullah

Aamiin wa anti kadzalik...

Pertama: Hadits ini shahih di shahihkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. Hadits: 619.

Adapun yang dilakukan oleh Ustadzah anti adalah sebuah kekeliruan yang bisa saja disebabkan ketidaktahuannya, maka berikan udzur kepadanya.

Adapun pelaksanaannya ialah dibaca setelah shalat Dhuha, karena teks haditsnya menunjukkan demikian: 

صلى رسول الله ﷺ الضحى، ثم قال:... الحديث.

"Rasullullah ﷺ shalat Dhuha, kemudian beliau membaca:..." Al-Hadits.

Artinya istighfar ini dibacakan setelah shalat Dhuha hingga diulang-ulang hingga sebanyak 100 kali. Maka ini sangat sesuai dengan hadits lain dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu yang dibawakan imam Bukhari dalam kitab yg sama berikutnya, disebutkan:

«توبوا إلى الله فإني أتوب إليه كل يوم مائة مرة»

"Bertaubatlah kalian kepada Allah karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya setiap hari seratus kali". Hadits Shahih As-Shahihah no: 1425.

Maka dalam hadits ini ada anjuran untuk memperbanyak istighfar dan taubat, dan istighfar nya para Nabi merupakan bentuk Ubudiyah kepada Allah dan menampakkan kelemahan dan kekurangan diri atas apa yang telah diwajibkan atas mereka sehingga ini akan menimbulkan sikap rendah hati (tawadhu') yang sepantasnya dicontoh oleh para umatnya. Wallahu a'lam.

Sumber : Channel Telegram Butiran Faedah

Dzikirnya adalah

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ


-Allahummaghfir-lii, wa tub 'alaiya, innaka antat tawwaburrahiim-

"Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang"


Senin, 05 April 2021

Kesalahan Orang Yang Berpuasa (6) - Tidak Berniat Puasa Ramadhan Pada Malam Hari




Kesalahan yang keenam
: tidak berniat puasa Ramadhan pada malam hari. 

Fadhilatusy Syaikh Prof. Dr. Ahmad bin Umar Baazmul hafizhahullah berkata :

Diantara kesalahan-kesalahan adalah bahwasanya sebagian orang yang berpuasa tidak berniat puasa pada malam hari sebelum terbitnya fajar dan ini merupakan kesalahan yang besar; dikarenakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له. 

"Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar maka tidak ada puasa baginya".

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له. 

"Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak ada puasa baginya".

Maka dua hadits ini menunjukkan atas wajibnya berniat puasa pada malam hari sebelum terbitnya fajar dan bahwasanya barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak sah puasanya. 

Al Maimuni berkata : aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal : apakah kita butuh di bulan Ramadhan untuk berniat puasa dari malam hari ? Maka Al Imam Ahmad menjawab : ya demi Allah. 

Dan disini ada pertanyaan yang penting yang dibutuhkan oleh orang-orang yang berpuasa yaitu bagaimana cara berniat (puasa) ? 

Maka jawaban dari pertanyaan yang penting ini adalah kita katakan : barangsiapa yang bertekad dalam hatinya untuk berpuasa besok maka sungguh telah tercapai niat yang dituntut secara syariat, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : barangsiapa yang terlintas dalam hatinya bahwa ia akan berpuasa besok maka sungguh ia telah berniat dan orang yang berpuasa tatkala ia makan malam maka ia makan malam seperti orang yang berniat ingin berpuasa, oleh karena inilah dibedakan antara makan malam yang dilakukan di malam ied (hari raya) dan makan malam yang dilakukan di malam-malam Ramadhan. 

Adapun mengeraskan niat puasa seperti mengucapkan : 'nawaitu an ashuma syahra Ramadhan' (aku berniat puasa di bulan Ramadhan) atau aku berniat puasa besok hari Rabu karena Allah; maka ini adalah kebid'ahan yang menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya sehingga tidak boleh mengeraskan niat puasa bahkan tidak boleh mengeraskan niat pada semua ibadah sebab niat tempatnya di hati dan melafazhkannya adalah bid'ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : mengeraskan ucapan niat tidaklah disyariatkan menurut seorangpun dari ulama kaum muslimin dan tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tidak dilakukan oleh seorangpun dari para khalifah beliau dan para sahabat beliau serta salaf umat ini dan para aimmahnya.... 

Dan niat yang wajib dalam ibadah seperti wudhu, mandi, shalat, puasa, zakat dan selain itu tempatnya di hati dengan kesepakatan para aimmah kaum muslimin.

Dan niat adalah maksud dan keinginan yang tempatnya di hati bukan di lisan dengan kesepakatan orang-orang yang berakal maka jika ia berniat dalam hatinya maka sah niatnya menurut para imam yang empat dan para aimmah (ulama) kaum muslimin yang lain terdahulu maupun belakangan dan dalam hal ini tidak ada perselisihan di sisi para ulama yang diikuti dan dimintai fatwa. 

Namun sebagian orang-orang belakangan dari para pengikut aimmah menduga bahwa melafazhkan niat adalah wajib dan ia tidak menyatakan wajibnya mengeraskan ucapan niat namun pendapat ini merupakan kesalahan yang jelas yang menyelisihi kesepakatan kaum muslimin dan apa yang diketahui dengan pasti dari agama Islam menurut orang yang mengerti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sunnah para khalifah beliau dan mengerti bagaimana para shahabat dan para tabi'in melakukan shalat; dikarenakan setiap orang yang mengerti hal itu maka ia akan mengetahui bahwa mereka tidaklah melafazhkan niat dan Nabi shallallallahu alaihi wasallam tidaklah memerintahkan mereka dengannya dan beliau tidak mengajari hal tersebut kepada seorangpun dari para shahabat.

Sumber : artikel berjudul : "Maa Laa Yashihhu fis Shiyam"- halqah 06.

Channel Telegram Dinul Qoyyim 

Minggu, 04 April 2021

Kesalahan Orang yang Berpuasa (5) - Baru Tahu Masuk Ramadhan di Siang Hari Tapi Tetap Tidak Berpuasa

Kesalahan Orang Berpuasa (5)



Kesalahan yang Kelima :
Baru tahu masuk Ramadhan di siang hari, tapi tetap tidak berpuasa.

Fadhilatusy Syaikh Prof. Dr. Ahmad bin Umar Baazmul hafizhahullah berkata :

Diantara kesalahan-kesalahan yang terjatuh padanya sebagian orang yang berpuasa adalah : bahwasanya sebagian manusia apabila telah tetap masuknya bulan Ramadhan di pertengahan siang di hari ketiga puluh dari bulan Sya'ban (yakni sudah masuk 1 Ramadhan, tapi mereka baru mengetahui di siang hari) maka ia tidak menahan diri dari pembatal-pembatal puasa bahkan ia terus berbuka dengan alasan bahwa menahan diri dari pembatal-pembatal puasa harus dari semenjak sebelum waktu fajar dan ini tidak diragukan lagi termasuk kesalahan; dikarenakan Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan orang yang makan dan minum di hari Asyura untuk meninggalkan makan dan minum dan harus menyempurnakan puasanya. 

Dari Salamah bin Al Akwa' radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus di hari Asyura seseorang dari Aslam lalu ia menyerukan kepada manusia : "sesungguhnya hari ini adalah hari Asyura maka barangsiapa yang telah makan dan minum maka janganlah ia makan apapun (yakni hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya) dan hendaklah ia menyempurnakan puasanya, dan barangsiapa yang belum makan dan belum minum maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya".

Syeikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata :

Dalam hadits ini terdapat dua faedah :

1. Bahwasanya puasa hari Asyura pada awalnya diwajibkan dan hal itu nampak pada perhatian beliau dengannya yang tergambar pada sikap mengumumkan perintah beliau untuk berpuasa pada hari tersebut dan perintah menahan diri dari makan bagi yang telah makan sebelumnya dan memerintahkannya untuk berpuasa di sisa harinya; dikarenakan puasa tathawwu' (sunnah) tidak ada padanya perintah menahan diri setelah berbuka. 


2. Bahwasanya orang yang wajib baginya puasa pada siang hari seperti orang gila yang sadar (di siang hari) dari kegilaannya, anak kecil yang mencapai usia baligh dan orang kafir yang masuk islam (di siang hari) dan seperti orang yang sampai kepadanya kabar bahwa hilal Ramadhan terlihat tadi malam maka sah niat mereka dari siang hari dimana wajib puasa baginya walaupun setelah mereka makan atau minum sehingga keadaan ini dikecualikan dari keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له. 

"Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum waktu fajar maka tidak ada puasa baginya".

Saya (Syeikh Ahmad Baazmul, pent) katakan : dan pendapat ini dipilih oleh sekelompok para ulama diantaranya adalah Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Asy Syaukani dan Ibnu Si'di rahimahumullah. 

Adapun mengqadha (mengganti) hari tersebut maka tidaklah wajib atas mereka, Al Allamah As Si'di rahimahullah berkata : Apabila telah tegak bukti (masuknya Ramadhan) di pertengahan siang dengan dilihatnya hilal Ramadhan maka wajib atas mereka menahan diri dari pembatal-pembatal puasa dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memilih pendapat bahwa tidak wajib bagi mereka mengqadha hari tersebut dan pendapat beliau ini sangat kuat dikarenakan dibangun di atas dasar bahwa hukum-hukum tidaklah berlaku melainkan setelah sampainya hukum-hukum tersebut, maka mereka berbuka (tidak berpuasa) dikarenakan dugaan mereka (bahwa bulan Sya'ban belum berakhir, pent) dan hukum yang nampak bagi mereka adalah bahwa hari tersebut tidak termasuk Ramadhan sehingga apabila nampak (bagi mereka) bahwa hari tersebut termasuk Ramadhan maka wajib bagi mereka menahan diri (dari pembatal-pembatal puasa) dan tidak wajib bagi mereka mengqadha sesuatu yang tidak sampai bagi mereka (bukti masuknya Ramadhan).

📚Sumber : artikel berjudul "Maa Laa Yashihhu fis Shiyam" halqah 06.

__________

*Permasalahan ini bisa jadi jarang terjadi seiring dengan perkembangan media-media komunikasi di zaman sekarang wallahu a'lam, pent. 

Channel Telegram Dinul Qoyyim