Sabtu, 01 Mei 2021

Kesalahan yang Berkaitan dengan Zakat Fitrah





Oleh Asy Syaikh Al Allamah Abu Abdil Mu'izz Muhammad Ali Farkus hafizhahullah

Yang Pertama :  mengeluarkan harta sebagai shadaqah bagi orang miskin dengan tanpa niat zakat fitrah yang diwajibkan. Dan ini merupakan kesalahan dikarenakan zakat tidaklah sah kecuali dengan niatnya berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

"إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى".

"Sesungguhnya amalan-amalan dinilai dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan".

Oleh karena inilah wajib atas orang yang menyerahkan zakat fitrah untuk meniatkan zakat yang wajib baginya dan hendaknya ia mengharap wajah Allah Ta'ala; sebab ikhlas merupakan syarat diterimanya segala ibadah berdasarkan firman Allah Ta'ala :

"وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين".

"Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untukNya".


Yang kedua : melafazhkan niat zakat dan menyebutkan (nama-nama) orang-orang miskin. Dan ini kesalahan, dikarenakan tidak ada dalam syariat perbuatan melafazhkan niat, dikarenakan niat tempatnya di hati yakni berada di hati orang yang mengeluarkan zakat dimana ia bermaksud dengannya ibadah yang disyariatkan ini dengan tanpa melafazhkannya atau menyebutkan nama-nama pihak yang menerima zakat, dan perlu diketahui bahwa tidak datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau melakukannya atau memerintahkannya, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dan sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

"وإياكم ومحدثات الأمور؛ فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة". 

"Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama dikarenakan setiap perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat".

Yang ketiga : orang yang mengeluarkan zakat meletakkan tangannya di atas zakatnya lalu membaca Al Fatihah atau selainnya dari Al Quran ketika ingin mengeluarkan zakat tersebut; maka ini merupakan kebid'ahan yang diada-adakan, tidak ada dasarnya dalam syariat yang suci; sebab tidak datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan dari shahabatnya yang mulia bahwasanya mereka membaca Al Fatihah atau Al Quran atas zakat ketika dikeluarkan atau sebelumnya atau sesudahnya, dan sungguh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

"من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد". وفي لفظ : "من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد".

"Barangsiapa yang mengada-ngadakan dalam agama kami sesuatu yang bukan termasuk darinya maka ia tertolak", dan dalam lafazh yang lain : "Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasar dalam agama kami maka amalan tersebut tertolak".


Yang keempat : meyakini bahwa zakat fitrah merupakan amalan sunnah yang dilakukan oleh orang kaya terhadap orang faqir untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya, sehingga ia tidak meminta-minta di hari ied, sehingga orang kaya merasa berjasa terhadap orang yang ia beri, dan sebaliknya orang faqir merasa rendah dihadapan orang yang memberi. Dan keyakinan ini salah; dikarenakan zakat fitrah merupakan hak yang diwajibkan secara syariat, dan ia merupakan shadaqah harta atas badan dan jiwa yang ditentukan ukurannya dan diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak disebabkan seseorang selesai dari berpuasa di bulan Ramadhan.

Yang kelima : meyakini bahwasanya waktu kewajiban menunaikan zakat fitrah adalah waktu yang luas dan tidak ditentukan dimana hal ini mendorong seseorang untuk berpendapat bolehnya menyegerakannya setahun atau dua tahun sebelumnya dan berpendapat bolehnya untuk mengakhirkannya hingga hari apapun setelah hari ied dengan tanpa adanya hukuman dan hal ini juga mendorong seseorang untuk menunda-nunda dari menunaikannya sebelum shalat ied bahkan ia mengakhirkannya dengan alasan luasnya waktu kewajiban untuk mengeluarkannya dan tidak ditentukan. Dan ini merupakan kesalahan dikarenakan waktu penunaian zakat fitrah ditentukan sebelum shalat ied berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma :

"....فمن أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة، ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات".

"...Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (ied) maka ia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat (ied) maka ia shadaqah dari shadaqah-shadaqah".

Dan berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu anhuma ia berkata : 

"....وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة".

"...Dan Rasulullah memerintahkan untuk menunaikan zakat fitrah sebelum manusia keluar menuju shalat (ied)". Dan inilah waktu yang paling utama baginya dan sah diterima oleh pihak yang diserahi tanggung-jawab untuk membagikannya sehari atau dua hari sebelum hari ied berdasarkan tindakan Ibnu Umar radhiallahu anhuma.

Yang keenam : seorang yang mukallaf (muslim dan baligh) tidak mencari orang-orang yang berhak menerima zakat fitrah sehingga ia memberikannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya, hal ini disebabkan rasa malas untuk mencari orang-orang yang berhak dari kalangan fuqara dan orang-orang miskin; maka bisa jadi ia mengeluarkan zakat fitrahnya kepada orang-orang tertentu yang biasa ia berikan zakat kepadanya disebabkan karena hubungan nasab atau hubungan kekerabatan atau hubungan pertemanan atau hubungan tetangga atau karena ia pegawai yang bekerja di sisinya atau selain itu dari sebab-sebab yang ada, walaupun pihak yang diberi zakat fitrah adalah orang kaya lagi berkecukupan. Dan ini adalah kesalahan; dikarenakan zakat adalah hak dari hak-hak Allah dimana tidak boleh pilih kasih namun wajib untuk ditekankan tentang siapa yang berhak menerimanya.

Dan bisa jadi ia memberikan zakat fitrahnya kepada selain fuqara dan orang-orang miskin dari delapan golongan yang berhak menerima zakat harta. Dan ini adalah kesalahan; dikarenakan zakat fitrah berkaitan dengan badan dan jiwa tidak berkaitan dengan harta; maka tidak sah untuk dikeluarkan melainkan kepada fuqara dan orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma :

"فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث، وطعمة للمساكين".

"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin", maka pendalilan hadits ini jelas menunjukkan bahwa zakat fitrah khusus diperuntukkan bagi fuqara dan orang-orang miskin tanpa selainnya.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

"ولا يجوز دفع زكاة الفطر إلا لمن يستحق الكفارة، وهو من يأخذ لحاجته، لا في الرقاب والمؤلفة قلوبهم وغير ذلك".

"Tidak diperbolehkan menyerahkan zakat fitrah kecuali kepada orang yang berhak menerima kaffarah yaitu orang yang mengambil karena ia butuh bukan kepada budak dan orang yang dilembutkan hatinya dan selain itu".


Yang ketujuh :  meyakini wajibnya zakat fitrah atas janin dan ini merupakan pendapat Ibnu Hazm rahimahullah yaitu apabila janin di perut ibunya telah sempurna berumur 120 hari sebelum nampaknya fajar dari malam iedul fitri dimana pada waktu tersebut ruh ditiupkan kepadanya, dan sebagai pengamalan terhadap apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hazm rahimahullah dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu bahwa beliau memberikan/mengeluarkan zakat fitrahnya anak kecil, orang tua dan janin. Dan ini merupakan kesalahan dikarenakan tidak ada dalil yang mengharuskan zakat fitrah atas janin, dan Ibnul Mundzir rahimahullah menukilkan kesepakatan ulama bahwa tidak ada kewajiban zakat bagi janin di perut ibunya.

Adapun perbuatan Utsman radhiallahu anhu jika shahih (atsar tersebut) maka hanyalah menunjukkan hal itu hukumnya mustahab (sunnah) dan tidak lebih dari itu; dikarenakan hal itu dianggap shadaqah yang dikeluarkan dari pihak yang tidak diwajibkan sehingga hukumnya sunnah seperti shadaqah-shadaqah sunnah yang lain, dan dikarenakan janin tidaklah mendapatkan hukum-hukum dunia melainkan dalam hal warisan dan wasiat dengan syarat janin tersebut keluar dari perut ibunya dalam keadaan hidup.

Yang kedelapan :  meyakini bahwa zakat fitrah tidaklah wajib kecuali bagi yang memiliki harta mencapai nishab. Dan ini adalah kesalahan dikarenakan cukup sebagai syarat wajibnya zakat fitrah adalah islam dan ukuran zakat fitrah tersebut melebihi makanan pokok orang yang mengeluarkannya dan makanan pokok orang yang ia tanggung nafkahnya di hari ied dan malam ied atau zakat fitrah tersebut melebihi kebutuhan-kebutuhan pokok dia.

https://ferkous.com/home/?q=art-mois-109

Diterjemahkan oleh Channel Telegram Dinul Qoyyim

Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: