Sabtu, 31 Juli 2021

Muharram Bukan Bulan Sial




Muqaddimah

Segala puji bagi Allah ﷻ yang menjadikan malam dan siang silih berganti, sebagai pelajaran (‘ibrah) bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.

Sebagaimana firman Allahﷻ :

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

"Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur."

(QS. Al-Furqaan : 62).

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada suri teladan kita, Rasulullah ﷺ, hamba-Nya yang paling bersyukur dan utusan-Nya yang mengajarkan kepada umatnya bagaimana bersyukur dengan sebaik-baiknya, amma ba’du,

Di dalam berjalannya waktu, silih bergantinya hari dan berlalunya bulan dan tahun, terdapat pelajaran yang berharga bagi orang yang mau merenungkannya.

Tidak ada satu tahunpun berlalu dan tidak pula satu bulanpun menyingkir, melainkan dia menutup lembaran-lembaran peristiwanya saat itu, pergi dan tidak kembali. Jika baik amal insan pada masa tersebut, maka baik pula balasannya. Namun jika buruk, penyesalanlah yang mengikutinya.

Bukanlah inti masalah ada pada : “kapan sebuah bulan telah usai dan kapan ia mulai menjelang”, akan tetapi yang menjadi inti masalah adalah “dengan apa kita dahulu mengisi bulan-bulan yang telah berlalu itu”* dan *“bagaimana kita akan hiasi bulan-bulan yang akan datang”

Sehingga ia senantiasa berada dalam dua keadaan :

Pertama  Senantiasa Muhasabah(intropeksi), yaitu memikirkan dan menghitung-hitung amalannya di tahun yang telah silam, lalu dia teringat akan dosa-dosanya, hingga hatinya menyesal, lisannyapun beristighfar, memohon ampun kepada Rabbnya.

Yang kedua yaitu Persiapan (isti’dad), yaitu dia mempersiapkan keta’atan pada hari-harinya yang menjelang, sembari memohon pertolongan kepada Rabbnya, agar bisa mempersembahkan ibadah yang terindah kepada Sang Penciptanya, Allah Rabbul'Alamin.

Bulan al-Muharram bukan Bulan Sial

Alhamdulillah kita telah memasuki bulan al-Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam kalender hijriyah.

Di bulan Muharram ini orang jawa meyebutnya bulan Syuro, tersebar mitos di tengah masyarakat kaum muslimin dari  suku jawa, sebagian suku sulawesi, atau mungkin juga suku yang lainnya,  meyakini bahwa bulan al-Muharram adalah bulan sial, bulan keramat, sehingga tidak boleh ada hajatan, acara pernikahan, melakukan perjalanan, membangun rumah dan kegiatan kegembiraan lainnya, Kalau orang sulawesi bilang Pamali.

Lebih dari itu, mereka meyakini siapa yang mengadakan hajatan pada bulan Muharram ini akan ditimpa musibah dan malapetaka. Sehingga mereka enggan menikahkan putra putrinya di bulan ini karena khawatir ditimpa petaka dan kesengsaraan bagi kedua mempelai, tidak melakukan perjalanan karena akan terjadi kecelakaan, karena mereka menganggap bulan Muharram sebagai bulan sial, bulan keramat, ini mitos yang tersebar. Allahul Musta'an.

7 Alasan (Dalil) Bahwa Bulan al-Muharram bukan Bulan Sial

Berkaitan dengan keyakinan tersebut, tentu saja tidak dibenarkan dalam syariat islam, dengan beberapa alasan (Dalil) sebagai berikut :

Alasan Pertama 

Ditinjau dari sisi syariat, bulan al-Muharram adalah bulan mulia, bulan yang mempunyai kehormatan,  salahsatu dari empat bulan yang haram (bulan suci)  dalam Islam.

Allah ﷻ berfirman :

ﺇِﻥَّ ﻋِﺪَّﺓَ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮﺭِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷﺭْﺽَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺣُﺮُﻡٌ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟْﻘَﻴِّﻢُ ﻓَﻼ ﺗَﻈْﻠِﻤُﻮﺍ ﻓِﻴﻬِﻦَّ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﻗَﺎﺗِﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻛَﻤَﺎ ﻳُﻘَﺎﺗِﻠُﻮﻧَﻜُﻢْ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ( سورة التوبة : ٣٦ )

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

(Qs. At-Taubah : 36)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya  :

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻃﻠﺤﺔ ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻗﻮﻟﻪ : ( ﺇﻥ ﻋﺪﺓ ﺍﻟﺸﻬﻮﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺛﻨﺎ ﻋﺸﺮ ﺷﻬﺮﺍ ) ﺍﻵﻳﺔ( ﻓﻼ ﺗﻈﻠﻤﻮﺍ ﻓﻴﻬﻦ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ) ﻓﻲ ﻛﻠﻬﻦ ، ﺛﻢ ﺍﺧﺘﺺ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﻓﺠﻌﻠﻬﻦ ﺣﺮﺍﻣﺎ ، ﻭﻋﻈﻢ ﺣﺮﻣﺎﺗﻬﻦ ، ﻭﺟﻌﻞ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﻴﻬﻦ ﺃﻋﻈﻢ ، ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻭﺍﻷﺟﺮ ﺃﻋﻈﻢ.

"Dan 'Ali bin Abi Thalhah telah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhuma sehubungan dengan makna firman-Nya : ("Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan"), hingga akhir ayat. ("Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri")

(At-Taubah : 36)

yaitu dalam semua bulan.

Kemudian dikecualikan dari semua bulan itu sebanyak empat bulan (Empat bulan Haram yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Al-Muharram, dan Rajab). Keempat bulan itu dijadikan sebagai bulanw Haram (suci) yang kesuciannya diagungkan, dan sanksi atas perbuatan dosa yang dilakukan padanya diperbesar serta pahala amal shalih yang dilakukan di dalamnya diperbesar pula."

(Tafsir Ibnu Katsir, 4 / 148)

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, bahwa beliau sedang berkhutbah di hadapan manusia, pada hari raya Idul Adha, saat haji Wada’. Diantara yang beliau sabdakan adalah :

إنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan :

Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar; antara Jumadi tsaniah dan Syaban.”

(HR. Al-Bukhari No. 3197 dan Muslim No. 1679)

Apa hikmah keempat bulan tersebut menjadi bulan haram ?

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan hikmah tersebut :

وإنما كانت الأشهر المحرمة أربعة، ثلاثة سرد وواحد فرد، لأجل أداء مناسك الحج والعمرة فحُرِّم قبل أشهر الحج شهرًا وهو ذو القعدة؛ لأنهم يقعدون فيه عن القتال، وحُرِّم شهر ذو الحجة لأنهم يوقعون فيه الحج ويشتغلون بأداء المناسك، وحُرِّم بعده شهرًا آخر وهو المحرم؛ ليرجعوا فيه إلى أقصى بلادهم آمنين، وحُرِّم رجب في وسط الحول لأجل زيارة البيت والاعتماد به لمن يقدم إليه من أقصى جزيرة العرب فيزوره ثم يعود إلى وطنه فيه آمنًا».

“Bulan haram itu ada empat -tiga berurutan dan satu terpisah-, hal itu disebabkan adanya pelaksanaan ibadah haji dan umrah (didalamnya). Satu bulan sebelum bulan haji, yaitu bulan Dzul Qo’dah, (bulan tersebut) dinyatakan sebagai bulan haram, karena mereka tidak melakukan peperangan didalamnya.

Bulan Dzul Hijjah ditetapkan sebagai bulan haram, karena mereka melakukan ibadah haji pada bulan itu dan sibuk dengannya. Bulan sesudahnya (juga) ditetapkan sebagai bulan haram, yaitu : Muharram, agar mereka dapat kembali ke negeri mereka yang paling jauh (sekalipun) pada bulan ini, dalam keadaan aman.

Bulan Rajab ditetapkan sebagai bulan haram yang terletak di pertengahan tahun, agar (manusia) berkesempatan mengunjungi Baitullah dan ini adalah kesempatan yang baik bagi orang yang datang dari tempat terjauh di wilayah Jazirah Arab, mereka mengunjunginya, kemudian pulang ke negerinya dalam keadaan aman di dalam bulan tersebut”

(Tafsir Ibnu Katsir : 3/25).

Lantas mengapa bulan suci ini dinamai al-Muharram ?

Ada dua pendapat yang menjelaskan alasan penamaan bulan ini :

1. Dinamakan al-Muharram dari kata Haram yang maknanya adalah larangan, sebagai penegasan terhadap keharaman berperang di bulan ini. Karena dahulu orang-orang Arab mengubah-ubah urutan bulan ini, mereka menghalalkan perang pada suatu tahun kemudian mengharamkan pada tahun berikutnya.

2. Dinamakan Muharram karena bulan ini termasuk salah satu dari empat asyhur al hurum  (Bulan-bulan haram) yang disinggung dalam surat At-Taubah ayat 36 di atas.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan :

ذَكَرَ الشَّيْخُ عَلَمُ الدِّينِ السَّخَاوِيُّ فِي جُزْءٍ جَمَعَهُ سَمَّاهُ «الْمَشْهُورُ فِي أَسْمَاءِ الْأَيَّامِ وَالشُّهُورِ » أَنَّ الْمُحَرَّمَ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِكَوْنِهِ شَهْرًا مُحَرَّمًا، وَعِنْدِي أَنَّهُ سُمِّيَ بِذَلِكَ تَأْكِيدًا لِتَحْرِيمِهِ ؛ لِأَنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تَتَقَلَّبُ بِهِ فَتُحِلُّهُ عَامًا وَتُحَرِّمُهُ عَامًا

Syaikh Alamuddin As Sakhowi menyebutkan dalam salah satu jilid karya yang beliau kumpulkan, yang beliau beri judul al masyhur fi asmaai al ayyam wa asy-syuhur, bahwa dinamakan Muharram karena bulan ini termasuk bulan haram. Adapun menurutku, dinamai Muharam sebagai penekanan terhadap keharaman berperang di bulan tersebut. Karena kaum Arab dahulu mengubah-ubah urutan bulan ini, mereka menghalalkan perang di suatu tahun lalu mengharamkan di tahun berikutnya” (Tafsir Ibnu Katsir 4/146).

Maka dari penjelasan ini menunjukkan bulan Muharram adalah bulan suci dan mulia disisi Allahﷻ. Menunjukkan bulan Muharram adalah bulan yang berkah, bulan yang baik,  bukan bulan sial, pamali ataupun keramat.

Alasan Kedua

Bulan al-Muharram mempunyai banyak keutamaan salahsatunya adalah bulan al-Muharram disebut dengan bulannya Allah ﷻ.

Satu-satunya bulan yang Allah ﷻ nisbatkan kepada diriNya yang maha mulia, adalah bulan Muharram.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram”.

(HR. Muslim 1163)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan :

“Nabi memberi nama Muharram dengan Syahrullah. Penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya. Karena Allah tidak akan menyandarkan sesuatu kepada dirinya kecuali pada makhluknya yang khusus".

(Lathaiful Ma’arif, hal.81)

puasa yang dilakukan pada tanggal sepuluh Muharram akan menghapus dosa setahun yang lalu, dan lebih utama lagi jika ditambah dengan tanggal sembilan atau sebelas. Dari Abu Qatadah al-Anshori radiyallahu'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاء أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ.

“Aku berharap pada Allah agar puasa di hari‘Asyura’ (tanggal sepuluh Muharram) bisa menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”.

(HR. Muslim) 

Sedangkan yang dilarang oleh syariat di bulan ini adalah melakukan peperangan kecuali apabila umat Islam diperangi. Termasuk diharamkan pula perbuatan-perbuatan menzalimi diri sendiri. “Perbuatan maksiat di bulan ini dilipatgandakan dosanya”. Apalagi jika maksiat tersebut bernuansa syirik dan khurafat, seperti keyakinan bahwa bulan Muharram adalah bulan sial.

Sehingga bagaimana mungkin bulan yang disebut Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sebagai bulannya Allah ﷻ, yang padanya ada puasa yang menghapus dosa setahun yang lalu,  menjadi waktu yang sial ?! Tentu ini adalah waktu penuh keberkahan.

Alasan Ketiga

Ditinjau dari Sejarah yang terjadi di bulan al-Muharram.

Pada bulan Muharram tepatnya tanggal 10 Muharram, Nabi Musa ‘alaihissalam diselamatkan dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya.

Abdullah ibnu ‘Abbas radiyallahu'anhuma mengisahkan :

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

"Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya: “Hari apa ini ?” mereka menjawab : "Hari yang baik, hari di mana Allah ﷻ menyelamatkan Bani israil dari musuhnya, sehingga Musa 'Alaihissalam pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah ﷻ. Akhirnya Nabi ﷺ bersabda : “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa alaihissalam dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa." (HR. Al Bukhari)

Kisah ini menuturkan kejadian suka-cita, bukan duka cita, apalagi kisah kesialan. Jadi, menganggap bulan Muharram sebagai bulan naas (sial) tidak ada landasan sejarah yang membenarkannya. Karena pada bulan ini justru kita mendapatkan anugerah yang sangat tinggi, wajarlah jika kemudian kaum muslimin mensyukurinya dengan berpuasa sunnah tanggal 10 Muharram. Dan lebih utama lagi ketika dia berpuasa sehari sebelumnya, yakni tanggal 9 Muharram atau sehari setelahnya, yakni tanggal 11 Muharram.

Alasan Keempat

Tidak boleh mencela waktu.

Menganggap Bulan Muharram sebagai bulan sial, ini adalah bentuk tindakan mencela waktu. Padahal mencela waktu dilarang dalam Islam. Apalagi jika yang dicela adalah bulan yang istimewa, disebut sebagai bulannya Allah ﷻ.

Dari Abu Hurairah radiyallahu'anhu Nabi ﷺ bersabda :

لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ؛ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ

“Janganlah kalian mencela dahr (waktu) karena Allah itu adalah dahr (yang mengatur waktu)”.

(HR. Muslim 6/5827)

Maksudnya bahwa Allahﷻ pencipta waktu dan mengaturnya, sebagaimana ditafsirkan dalam riwayat yang lain, sehingga dilarang mencela waktu, karena seorang yang mencela waktu, dia telah mencela Rabb yang mengatur waktu, yaitu Allahﷻ.

Dari Abu Hurairah radiyallahu'anhu Rasulullahﷺ bersabda :

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يُؤْذِيْنِيْ ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِيَ الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Allah ‘Azza wa jalla berfirman :

“Anak Adam telah menyakiti-Ku, ia mencela dahr (waktu), padahal Aku adalah (pencipta) dahr. Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang”.

(HR. Bukhari hal. 1035 No. 5827 dan Muslim 5/5824)

Ibnu Katsir menukil pernyataan Imam Syafi’i dan Abu Ubaidah –rahimahumullah-, menjelaskan maksud hadis ini :

كانت العرب في جاهليتها إذا أصابهم شدة أو بلاء أو نكبة قالوا : ” يا خيبة الدهر ” فيسندون تلك الأفعال إلى الدهر ويسبونه وإنما فاعلها هو الله تعالى فكأنهم إنما سبوا الله عز وجل لأنه فاعل ذلك في الحقيقة فلهذا نهى عن سب الدهر بهذا الاعتبار لأن الله تعالى هو الدهر الذي يصونه ويسندون إليه تلك الأفعال. وهذا أحسن ما قيل في تفسيره ، وهو المراد . والله أعلم

"Dahulu orang Arab saat masa Jahiliah jika tertimpa musibah mereka berucap :

 “Dasar waktu sial..!”

Mereka menyandarkan sebab musibah itu kepada waktu, kemudian mencelanya. Padahal yang menciptakan segala kejadian adalah Allahﷻ

Maka seakan-akan mereka telah mencela Allahﷻ. Karena pada hakikatnya Allahﷻ yang menimpakan kejadian itu. Inilah sisi alasan larangan mencela waktu. Karena Allah lah yang mengatur waktu dan sejatinya mereka telah menyandarkan kesialan musibah itu kepadaNya. Penjelasan ini adalah penjelasan paling baik untuk makna hadits ini.

(Umdah at Tafsir Ibnu Katsir, 3/295-296)

Hari, bulan dan tahun yang Allah Ta'ala ciptakan semuanya baik, tidak ada yang sial atau naas. Sesungguhnya kesialan, kecelakaan adalah bagian dari takdir Allah ﷻ.

yang tidak diketahui hamba-Nya kecuali setelah terjadi. Allah ﷻ bisa menimpakan kesialan atau kenaasan kepada siapapun, di manapun dan kapanpun, bila Allah ﷻ menghendakinya. Dan hamba harus rela menerima takdir tersebut.

Alasan Kelima

Menganggap waktu sebagai sumber sial adalah budaya kaum Jahiliyah dahulu.

Mengkambinghitamkan waktu (menjadikan waktu) sebagai penyebab kesialan suatu usaha, sejatinya merupakan mitos masyarakat Arab jahiliyah dahulu. Mereka sering berkumpul di berbagai kesempatan untuk berbincang-bincang tentang berbagai hal dan terkadang dalam perbincangan mereka terlontar ucapan-ucapan yang mempersalahkan waktu sebagai penyebab kesialan usaha mereka, atau manakala mereka ditimpa berbagai musibah lainnya.

Orang Jahiliyah dahulu juga punya mitos meyakini menikah di bulan Syawal, dapat mengundang kesialan. Mitos ini kemudian ditepis oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan menikahi Aisyah radiuallahu'anha di bulan Syawal.

تزوجني رسول الله صلى الله عليه و سلم في شوال وبنى بي في شوال فأي نساء رسول الله صلى الله عليه و سلم كان أحظى عنده منى ؟ قال وكانت عائشة تستحب أن تدخل نساءها في شوال

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  menikahiku di bulan Syawal, dan mengadakan malam pertama denganku di bulan Syawal. Manakah istri beliau yang lebih mendapatkan perhatian beliau selain aku?”

Salah seorang perawi mengatakan :

“Aisyah menyukai jika suami melakukan malam pertama di bulan Syawal.”

(HR. Muslim, An-Nasa’i, dan yang lain)

Sehingga menganggap Muharram sebagai bulan sial, adalah perbuatan tasyabbuh (menyerupai) dengan kaum Jahiliyah dahulu.

Ada sebuah keteladanan 

Nabi ﷺ dari kisah yang diceritakan Aisyah radiyallahu'anha di atas, bahwa dianjurkan untuk bersikap menyelisihi mitos anggapan sial. Agar keyakinan khurofat seperti ini, hilang dari masyarakat.

Alasan Keenam

Menganggap bulan Muharram sebagai bulan sial, termasuk perbuatan Thiyarah.

Dalam kajian masalah aqidah, berkeyakinan sial karena melihat peristiwa tertentu, mendengar suara tertentu atau terhadap hari tertentu disebut Thiyaroh atau Tathoyyur.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata : “Tathayyur adalah menganggap sial atas apa yang dilihat, didengar, atau yang diketahui. Seperti yang dilihat yaitu, melihat sesuatu yang menakutkan. Yang didengar seperti mendengar burung gagak, dan yang diketahui seperti mengetahui tanggal, angka atau bilangan. Tathayyur menafikan (meniadakan) tauhid dari dua segi :

Pertama, orang yang bertathayyur tidak memiliki rasa tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla dan senantiasa bergantung kepada selain Allah ﷻ.

Kedua, ia bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya dan merupakan sesuatu yang termasuk takhayyul dan keragu-raguan.” (Al-Qaulul Mufiid ‘alaa Kitaabit Tauhiid I/559-560).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :

لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ

“Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar”

(HR. Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220). 

Rasulullah ﷺ menyebut perbuatan ini sebagai Kesyirikan, sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radiyallahu'anhu, ia menyebutkan hadits secara marfu’ sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ . ثَلاَثًا وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّل.

“Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”.

Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud radiyallahu'anhu berkata :

“Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya.6 Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.”

(HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Dan dishahihlan oleh Syaikh Al Albani).

Adapun beberapa contoh perbuatan Tathoyyur :

1.  Menganggap bulan bulan Muharram adalah bulan keramat atau sial sehingga tidak boleh mengadakan hajatan, walimahan atau acara besar lainnya.

2. Menganggap anak sakit-sakitan karena nama yang terlalu berat diemban sehingga harus ada penggantian nama.

3. Mengganggap datangnya musibah itu karena si A yang baru datang ke kampung, sebelumnya tidak pernah terjadi. Sebagaimana dahulu Fir’aun beranggapan datangnya bencana gara-gara Nabi Musa ‘alaihis salam.

4. Anggapan sial dengan angka 13. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.

Tathoyyur (beranggapan sial dengan waktu, hari atau suara tertentu) ini akan menjadikan seseorang tidak termasuk 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa Sifat 70.000 orang tersebut adalah disebutkan oleh Nabi ﷺ :

هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.”

(HR. Bukhari no. 5752).


Alasan Ketujuh dan ini yang terahir yang bisa kami sebutka

Ketika beranggapan sial dibulan Muharram justru akan mengurangi Produktifitas amal Shalih

Sehingga ketika tidak dipergunakannya sebuah hari lebih-lebih sebulan untuk melakukan aktivitas sebagaimana layaknya, tentu akan mengurangi produktifitas kerja atau amalan. Ketika pada hari itu semestinya bisa dimanfaatkan misalnya untuk melakukan perjalanan pulang kampung, atau berangkat ke tempat kerja, pendidikan, silaturrahim atau hal-hal lain yang sangat bermanfaat, maka semuanya harus ditunda besok harinya atau harus buru-buru dilakukan sehari sebelumnya.

Masyarakat cenderung memahami naasnya (sialnya) suatu usaha hanya pada masalah-masalah duniawiyah. Takut kecelakaan, takut bangkrut, takut miskin dan takut mati. Ini menunjukkan bahwa orientasi kerja mereka hanya semata-mata hasil yang bagus, sementara mereka tidak siap untuk menerima kerugian, apalagi sampai pada tingkat kematian, karena mereka memang tidak cukup bekal amal untuk itu. Padahal semua manusia pasti mengalaminya. Dan yang jelas waktunya tidak mesti pada bulan Muharram, melainkan di semua bulan manusia bisa mendapatkan keberuntungan maupun kerugian. Tidak ada satu pun penelitian yang menghasilkan data bahwa pada bulan Muharram angka kecelakaan meningkat, angka kematian paling tinggi, kasus perceraian paling banyak, dan seterusnya. Apakah dengan menghindari bulan ini dari melakukan aktivitas tertentu lantas dijamin bebas dari masalah ? Tentu tidak jawabannya, sekali lagi semua tergantung dari usahanya dan taufiq dari Allah ﷻ, bukan waktu naas atau mujurnya seseorang.

Kalaupun terjadi kesialan, tertimpa musibah atau sesuatu yang tidak disenangi maka itu disebabkan karena dosa dan maksiat kepada Allah ﷻ, sebagaimana firman-Nya : 

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan mu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

(Asy-Syura : 30)

Allah ﷻ meyebutkan apa saja yang menimpa kita dan kerusakan yang ada baik di daratan maupun di lautan, disebabkan karena perbuatan manusia, sebabnya karena dosa-dosa manusia.

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan :

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.”

(Al-Jawab Al-Kaafi karya Ibnul Qayyim, hal. 87)

Sehingga ini seharusnya menjadi bahan intropeksi bagi kita, agar kita kembali kepada Allah ﷻ dan bertaubat kepadaNya. Bukan malah menyandarkan kesialan kepada bulan Muharram.

Khatimah (Penutup)

Alhamdulillah telah kita sebutkan tujuh alasan (dalil) terkait tentang bulan Muharram bukan bulan sial dan kramat, bahkan bulan Muharram adalah bulan yang baik dan mulia yang penuh dengan keutamaan.

Ketahuilah anggapan sial (Tathoyyur) terhadap bulan Muharram atau yang lainnya akan mengurangi tauhid seorang muslim dan termasuk kesyirikan karena :

1. Bergantung pada sesuatu yang bukan sebab secara hakiki, 
2. Memutuskan suatu kejadian seakan-akan menentang takdir Allah Azzawajalla 3. Dan Perbuatan tersebut akan mengurangi tauhid. 

Sehingga untuk menghilangkan persangkaan sial di sini kuncinya adalah Tawakkal. Karena tawakkal terdapat ketergantungan hati pada Allahﷻ. Hadits yang telah berlalu disebutkan,
“Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal”.

Disebutkan dalam Kitab Fathul Madjid : 335 
“Akan tetapi jika kita bertawakkal pada Allah dalam meraih maslahat dan menolak mudhorot, maka was-was untuk beranggapan sial akan hilang dengan izin Allah Ta'ala.”

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafidzahullah berkata :

“Penyembuh dari beranggapan sial adalah dengan bertawakkal pada Allah Ta'ala. Kemudian meninggalkan anggapan sial dan tidak memiliki keraguan lagi dalam hati.”
 (I’anatul Mustafid 2/16)

Ingatlah pelajaran dari firman Allah Ta’ala :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. Ath Tholaq: 3).

Sehingga jangan menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan Tawakkal pada Allah Ta'ala. Ketika mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, ucapkanlah :

اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ

“Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.”

Wallahua'lam bishowab.


نسأل الله أن يبارك لنا ولكم في هذا الشهر المحرم . اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعا ورزقًا طيبًا وعملاً متقبلاً.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله رب العالمين .

Ditulis oleh saudaramu yang butuh kepada Ampunan-Nya

Abu Mujahid Irwan Salam bin Abdussalam Al-Mandary

Semoga Allah ﷻ mengampuni dosanya, kedua orang tuanya serta Istri dan Anaknya.

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang, Mamuju-Tengah Sulawesi Barat

Selesai disusun Ahad ba'da shubuh 18 Muharram 1442 H/06 September 2020 M

Sumber :  Majmu'ah Salafy Sulbar
Channel Telegram : https://t.me/Alhaqqu_Ahabbu_Ilaina

Rabu, 28 Juli 2021

Islam Iman Dan Ihsan - Hadits Arbain (2) - Bagian 2

 




Melanjutkan pembahasan sebelumnya :
Islam, Iman, Ihsan dan Tanda Hari Kiamat (Bag.1)

Berkata As-Syaikh Al- Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah:

5. Dan diantara faedah hadits ini: bagusnya adab pelajar di hadapan guru dimana Jibril -alaihis shalat was salam- duduk di hadapan nabi ﷺ dengan model duduk ini yang menunjukkan atas adabnya dan perhatiannya serta persiapannya terhadap apa yang akan disampaikan kepadanya maka dia pun menempelkan kedua lututnya ke lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau.

6. Diantaranya: bolehnya memanggil nabi ﷺ dengan namanya berdasarkan ucapannya, "wahai Muhammad" dan ini kemungkinannya itu terjadi sebelum adanya larangan yaitu sebelum adanya larangan Allah tentang hal itu di dalam firman-Nya:

{ لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا } [النور/63]

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)." [Qs. An-Nur: 63]

Berdasarkan salah satu penafsiran dan ada kemungkinan bahwa ini berlangsung sesuai dengan kebiasaan bangsa Arab yang mereka datang kepada Rasul ﷺ kemudian mereka memanggilnya dengan namanya "wahai Muhammad" dan ini lebih dekat (kepada kebenaran), karena (kemungkinan) pertama butuh kepada (kepastian) sejarah.

7. Dan diantara faedah hadits ini: bolehnya seseorang bertanya tentang sesuatu yang dia ketahui dengan tujuan mengajarkan orang yang belum tahu, karena Jibril dikala itu mengetahui jawabannya, berdasarkan ucapannya dalam hadits, "engkau benar" karena jika tujuan penanya adalah ingin mengajarkan orang-orang yang ada disekitar orang yang menjawab maka itu tergolong bentuk taklim bagi mereka.

8. Dan diantara faedah hadits ini: sesungguhnya penyebab memiliki hukum yang sama dengan yang terlibat langsung apabila yang terlibat langsung didasari di atas sebab tersebut, berdasarkan sabda nabi ﷺ, "ini adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian" padahal gurunya adalah Rasul ﷺ akan tetapi ketika Jibril yang menjadi sebab bertanya kepadanya maka Rasul ﷺ menjadikannya sebagai yang mengajarkan (agama).


Bersambung insya Allah ta'ala...


📕 At-Ta'liqat Ala Al-Arba'in An-Nawawiyyah karya Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah.


Sumber : Butiran Faedah


Jumat, 23 Juli 2021

Islam Iman dan Ihsan - Hadits Arbain (2)


Hadits Arbain ke dua. Tentang Islam, Iman, dan Ihsan serta tanda Hari Kiamat.

عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَيضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari 'Umar radhiallahu'anhu juga berkata, "Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah ﷺ, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas menempuh perjalanan jauh. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi ﷺ lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi ﷺ, kemudian ia berkata, 

'Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam?' 

Rasulullah ﷺ menjawab, 'Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadan, serta haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya.' Dia berkata, 

'Kamu benar.' Umar berkata, 'Maka kami kaget terhadapnya karena dia menanyakannya dan membenarkannya.' Dia bertanya lagi, 

Kabarkanlah kepadaku tentang iman itu?' 

Beliau menjawab, 'Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.' Dia berkata, 'Kamu benar.' 

Dia bertanya, 'Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu?' 

Beliau menjawab, 'Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.' 

Dia bertanya lagi, 'Kapankah hari akhir itu?' 

Beliau menjawab, 'Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.' 

Dia bertanya, 'Lalu kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya?' 

Beliau menjawab, 'Apabila seorang budak melahirkan (anak) tuannya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, penggembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan.' Kemudian dia bertolak pergi. 

Maka aku tetap saja heran kemudian beliau berkata, 'Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa penanya tersebut?" Aku menjawab, 'Allah dan rasul-Nya lebih tahu.' Beliau bersabda, "Itulah Jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama kalian.' [HR. Muslim]

Syarah :

Hadits ini diambil darinya beberapa faedah:

1. Diantaranya : Bahwa diantara petunjuk nabi ﷺ adalah bermajelis dengan para sahabatnya dan petunjuk ini menunjukkan atas bagusnya akhlak nabi ﷺ,

2. Diantaranya : Bahwasanya sepantasnya bagi seorang insan harus memiliki pergaulan yang baik dengan orang-orang dan bermajelis dengan mereka serta tidak menyendiri dari mereka.

3. Dan diantara faedah dari hadits : Bahwa bergaul dengan orang-orang lebih utama (afdhal) daripada menyendiri selama insan tersebut tidak mengkhawatirkan akan agamanya, namun jika dia mengkhawatirkan akan agamanya maka menyendiri lebih utama, berdasarkan sabda nabi ﷺ:

« يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتَّبِعُ بِهَا شَغَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ » [رواه البخاري]

"Hampir-hampir (tiba masanya) harta seorang muslim adalah seekor kambing, ia giring ke puncak gunung dan tempat turunnya embun.." [HR. Bukhari]

4. Diantara faedah hadits ini : Bahwa malaikat -alaihimus shalatu was salam- memungkinkan untuk menampakkan diri dihadapan manusia dalam wujud manusia, karena Jibril -alaihis shalat was salam- muncul di hadapan para sahabat dalam bentuk yang disebutkan dalam hadits berupa lelaki yang sangat hitam rambutnya dan sangat putih bajunya, tidak terlihat jejak safarnya dan tidak ada satupun dari sahabat yang mengenalnya.

Baca lanjutan pembahasannya di 
Islam Iman Dan Ihsan - Hadits Arbain (2) - Bagian 2


At-Ta'liqat Ala Al-Arba'in An-Nawawiyyah karya Ibnu Utsaimin rahimahullah.

Sumber : Butiran Faedah



Kamis, 22 Juli 2021

Amalan yang Tertolak - Hadits Arbain (5)

Amalan yang Tertolak


Dari Ummil Mukminin Ummu Abdillah Aisyah - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا - berkata: telah bersabda rasulullah ﷺ:

" من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد " رواه البخاري ومسلم

"Barangsiapa mengada-ada dalam perkara kami ini apa yang bukan bagian darinya maka dia tertolak." HR. Bukhari dan Muslim,

Dalam riwayat Muslim:

" من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد "

" Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang bukan merupakan perkara kami maka dia tertolak."


Penjelasan Hadits

Hadits ini berkata ulama: Sesungguhnya dia adalah timbangan zhahir amalan-amalan dan hadits Umar yang ada di awal kitab: "Sesungguhnya amalan-amalan bergantung pada niat-niat" adalah timbangan batin amalan-amalan, karena amalan dia memiliki niat dan dia memiliki bentuk sehingga bentuk amalan itulah yang merupakan zhahir amalan dan niat adalah batin amalan.

Dan di dalam hadits ini ada beberapa faedah: bahwa barangsiapa yang mengada-ada dalam perkara ini - yaitu Islam - apa yang bukan bagian darinya maka dia tertolak atasnya sekalipun baik niatnya. Dan dibangun di atas kaidah ini bahwa semua kebid'ahan tertolak atas pelakunya sekalipun baik niatnya.

Dan termasuk faedah hadits ini: bahwa barangsiapa mengamalkan suatu amalan sekalipun asalnya disyariatkan akan tetapi amalannya bukan dalam bentuk yang telah diperintahkan dengannya maka amalan tersebut menjadi tertolak berdasarkan riwayat kedua dalam riwayat Muslim.

Berdasarkan ini maka barangsiapa menjual suatu jualan yang diharamkan maka jual belinya adalah batil, dan barangsiapa shalat sunnah tanpa ada sebab pada waktu terlarang maka shalatnya batil, dan barangsiapa berpuasa pada hari raya maka puasanya batil dan seterusnya, karena ini semuanya bukan berdasarkan perintah Allah dan rasul-Nya sehingga menjadi batil dan tertolak.

At-Ta'liqat Ala Al-Arba'in An-Nawawiyyah, karya Ibnu Utsaimin (hal. 6)

Sumber : Butiran Faedah


Amalan Bergantung Pada Niatnya - Hadits Arbain (1)




Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al-Khatthab - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ - berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

" إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه 

" Sesungguhnya amalan-amalan bergantung pada niat-niat, dan bagi setiap orang bergantung pada apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya kepada dunia yang akan dia dapatkan dan wanita yang akan dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya. " Muttafaqun 'Alaih.

Penjelasan :

Hadits ini merupakan dalil yang agung tentang amalan-amalan hati, karena niat-niat termasuk dari amalan-amalan hati, berkata ulama:

"Hadits ini adalah setengah ibadat, karena dia adalah mizan (timbangan) amalan-amalan batin sedangkan hadits Aisyah - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا - :

"Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini apa yang bukan bagian darinya maka dia tertolak."

Dan dalam lafazh lain:

"Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada padanya urusan kami maka dia tertolak"

Adalah setengah agama, karena dia adalah mizan amalan-amalan zhahir sehingga diambil faedah dari sabda nabi ﷺ :

"Sesungguhnya amalan-amalan bergantung pada niat-niat."

Bahwasanya tidaklah dari sebuah amalan melainkan dia memiliki niat, karena setiap insan yang berakal lagi bisa memilih tidak akan mungkin melakukan suatu amalan tanpa niat",

Sehingga sebagian ulama mengatakan:

"Kalau sekiranya Allah membebankan kepada kita suatu amalan tanpa niat tentulah itu merupakan pembebanan kepada apa yang tidak mungkin sanggup dikerjakan. "

Dan bercabang dari faedah ini:

▪️ Bantahan bagi orang-orang yang suka was-was yang mereka mengamalkan amalan-amalan dengan beberapa kali kemudian dikatakan oleh syaitan kepada mereka: "Sesungguhnya kalian belum berniat." Maka kami katakan kepada mereka: "Tidak, tidak mungkin selamanya kalian mengamalkan suatu amalan melainkan dengan niat maka ringankan beban ini atas diri kalian dan tinggalkan was-was ini."

▪️ Dan diantara faedah hadits ini: bahwa insan akan diberi pahala atau dosa atau diharamkan sesuai dengan niatnya berdasarkan sabda nabi ﷺ : " dan barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. "

▪️ Dan diambil faedah dari hadits ini juga: bahwa amalan-amalan sesuai dengan apa yang menjadi wasilah (media) baginya, karena terkadang sesuatu yang mubah pada hukum asalnya bisa menjadi sebuah ketaatan apabila seorang insan niatkan dengannya suatu kebaikan, seperti dia berniat dengan makan dan minumnya kebugaran untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, dan oleh karena ini Nabi ﷺ bersabda:

"Sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur ada keberkahan."

▪️ Dan termasuk faedah-faedah hadits ini: bahwasanya semestinya bagi seorang guru untuk membuat permisalan yang dapat menjelaskan dengannya sebuah hukum, dan Nabi ﷺ telah membuat untuk perkara ini sebuah permisalan (contoh) dengan hijrah, yaitu berpindah dari negeri kesyirikan menuju negeri Islam dan menjelaskan bahwa hijrah yaitu amalan yang satu bisa berdampak bagi seorang insan sebuah pahala dan bisa menjadi keharaman bagi insan, sehingga orang yang melakukan hijrah yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya ini yang akan diberi pahala, dan akan sampai kepada tujuannya.

▪️ Dan hadits ini masuk pada Bab Ibadah, pada Bab Mu'amalah, pada Bab Pernikahan dan pada setiap Bab Fikih. ¬

📕 At-Ta'liqat Ala Al-Arba'in An-Nawawiyyah, Ibnu Utsaimin (hal. 3 - 5) cet. Dar Al-Aqidah.

Sumber : Butiran Faedah