Sabtu, 14 Agustus 2021

Anjuran Puasa Muharram


Hadits ini menerangkan tentang keutamaan berpuasa di hari Asy Syura, yaitu tanggal 10 Muharram. Dari Abu Qatadah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

"Puasa ‘Asyura (10 Muharram) aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu."  (HR. Muslim)

Dan berpuasa pada bulan Muharram termasuk amalan yang paling afdhal. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

"Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah berpuasa di bulan Muharram. Dan seutama-utama shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim)

Maka, berpuasa di bulan Muharram adalah hal yang disunnahkan, namun lebih khusus lagi berpuasa pada tanggal 10 Muharram, karena dengan hal tersebut Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan menghapuskan dosa-dosa kita setahun sebelumnya. 

Tentunya kita sebagai hamba, tidak mungkin lepas dari kesalahan dan dosa. Maka dengan berpuasa 10 Muharram bisa menjadi sebab Allah Subhananhu Wa Ta'ala mengampuni dosa-dosa tersebut.

Dan juga dianjurkan pula menggandengkan puasa Asysyura dengan puasa di tanggal 9 Muharram, yang disebut puasa tasu'a. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Jika aku menjumpai tahun yang akan datang, insya Allah aku akan berpuasa pula pada hari yang kesembilannya.” (HR. Muslim)

Apabila seseorang berpuasa di tanggal 9 dan 10 Muharram, maka dia telah melakukan amalan puasa yang disunnahkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Adapun berpuasa di tanggal 11 Muharram, maka secara keumuman juga termasuk yang disunnahkan. Akan tetapi jika dikhususkan, maka ulama berbeda pendapat terhadap keshahihan hadits tersebut. Sebagian ulama menganjurkan sebagai bentuk kehati-hatian agar jangan sampai seseorang mengira berpuasa tanggal 10 Muharram, padahal masih tanggal 9. 

Hendaknya kita bersemangat untuk berupaya menghidupkan anjuran Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk berpuasa di bulan Muharram ini, khususnya di tanggal 9 dan 10. 

Tambahan :

Syaikh bin Baz rahimahullah di dalam Majmu' Fatawa beliau menjelaskan, apabila tanggal 9 tidak berpuasa. Maka berpuasa tanggal 10 dan 11 mencukupi bagi seseorang untuk menyelisihi puasanya Yahudi yang hanya di tanggal 10 Muharram saja.

========================================================================

Artikel ini diambil dari kajian online yang disampaikan oleh Al Ustadz Askary hafizhahullah, yang bisa kita simak di https://youtu.be/_fEaSBuvwO8 dengan tambahan yang beliau sampaikan di grup Ikhwan Balikpapan, juga dari tambahan kami sendiri pada paragraf terakhir.


Minggu, 01 Agustus 2021

Agama adalah Nasehat


Hadits ke-3 dalam Kitab Jawami' Al Akhbar 
Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِي رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صلى الله عليه وسلم :

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ»، قَالُوا : لِمَنْ يَا رَسُولُ اللّٰهِ ؟ قَالَ : لِلّٰهِ، وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَ عَامَّتِهِمْ

رواه مسلم

Dari Tamin Addaary radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda "Agama itu adalah nasehat" kami bertanya "MIlik siapa (nasehat itu) wahai Rasulullah?" Beliau menjawab "Milik Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum"

(HR. Muslim)

SEKILAS TENTANG PERAWI

Hadits ini diriwayatkan dari Abu Ruqayyah Tamim bin 'Aush bin Khariji Addaary radhiallau 'anhu yang berasal dari Palestina. Beliau temasuk shahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang masuk Islam pada tahun ke 9 Hijriah, yakni di akhir-akhir masa hidup Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. 

Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sempat memberitakan hadits yang bercerita tentang perjalanan Tamim Ad Daary ketika bertemu Dajjal di sebuah pulau. 


PENJELASAN HADITS

Di dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda "Agama adalah Nasehat", sebuah ungkapan yang menunjukkan pentingnya nasehat di dalam agama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahwa nasehat adalah sesuatu yang akan membangun, menegakkan dan mengokohkan agama seseorang.

Seperti halnya sabda Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

الْحَجُّ عَرَفَةُ

"Haji adalah wukuf di Arafah" (HR. An Nasai dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Maksudnya, wukuf di Arafah adalah amalan yang paling utama dalam amalan Haji, sehingga tidak ada haji jika tidak melakukan wukuf di Arafah. Begitu pula dengan nasehat, tidak akan tegak agama kecuali dengan nasehat. 

Apa yang Dimaksud dengan Nasehat?

Nasehat adalah sebuah kalimat yang mengandung perbuatan menyampaikan sesuatu kepada seseorang berupa hal-hal yang membawa pada kebaikan. Seseorang yang menyampaikan nasehat adalah seseorang yang menghendaki kebaikan kepada orang yang dinasehati tersebut.

Kemudian dalam hadits ini Shahabat bertanya "Milik siapa (nasehat itu) wahai Rasulullah?"

Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab "(nasehat itu) adalah Milik Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum"


Apa yang dimaksud nasehat milik Allah?

Bukanlah yang dimaksud adalah Allah membutuhkan nasehat, karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak membutuhkan nasehat. Namun yang dimaksud adalah nasehat tersebut kembali kepada hamba itu sendiri di dalam menasehati dirinya dalam hal yang berkaitan tentang Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Maka seorang hamba wajib beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'a, mentauhidkanNya dalam perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma wa shifat. Menyifati Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan sifat yang sempurna sebagaimana Allah telah menyifati diriNya sendiri dan dengan apa yang telah Rasulullah sifati. Menegakkan tauhid, tunduk berserah diri hanya kepada Allah Ta'ala. 

Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, cinta dan benci karena Allah. Meyakini seluruh nikmat datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka itu  (datangnya) dari Allah”. 

(Qs. An Nahl: 53)


Apa yang dimaksud nasehat bagi kitab Allah?

Yang dimaksud adalah mengimani kitabullah adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan bukan makhluk. Dan tidak menyerupai sesuatu apapun dari ucapan makhluk. Firman Allah Maha Benar, tidak ada kekeliruan, kedustaan di dalamnya.

Seorang hamba memuliakan kitabullah dengan cara membacanya, mentadabburi kandungan di dalamnya, khusyu ketika membaca Al Quran, dan senantiasa membela Alquran dari penakwilan orang-orang yang hendak memalingkan makna Alquran ke makna yang menyimpang. Membenarkan segala isi Alquran, mengambil manfaat dan pelajaran dari nasehat-nasehat yang terdapat di dalamnya. Serta mengajak manusia agar mereka menghidupkan Al-Quranul Karim di dalam hati mereka.


Apa yang dimaksud nasehat bagi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam?

Membenarkan risalah, mengimani kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, menaati perintah dan larangannya, dan senantiasa mencintai dan membela sunnahnya, serta membenci orang yang membenci Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Kita berusaha senantiasa mengikuti bimbingan beliau, menyebarkan syariat yang beliau ajarkan, dan tidak mengamalkan ajaran agama yang tidak beliau ajarkan. Beradab dengan adabnya, mencintai keluarga dan para Shahabat beliau.


Apa yang dimaksud nasehat bagi pemimpin kaum muslimin?

Menolong mereka dalam menjalankan kebenaran, menaati mereka selama bukan dalam perkara maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mengingatkan mereka dengan cara yang baik, dan bila ingin menasehati, nasehati mereka dengan cara Rahasia, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam. Serta diharamkan melakukan pemberontakan kepada penguasa tersebut. 


Apa yang dimaksud nasehat untuk keumuman kaum muslimin?

Menasehati mereka dengan cara hikmah dan lembut. Membimbing mereka kepada kemashlahatan dalam kehidupan dunia dan akhirat mereka. Saling tolong menolong di atas kebaikan, ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mencegah berbagai hal yang dapat menimbulkan kemudharatan kepada mereka. Dan mengajarkan mereka ilmu syar'i, dan hal-hal yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Demikianlah kandungan secara ringkas dari hadits yang mulia ini, yang menunjukkan pentingnya saling menasehati sesama kaum muslimin dalam hal yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan hal yang menjadikan kita kuat dalam berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihin Wasallam. 

Wallahu a'lam bish shawab.

Dicatat Dari Kajian Online Ma'had Al Istiqamah

Kitab Jawami' Al Akhbar hadits ke-3

yang disampaikan oleh Ustadz Askary hafizhahullah.


Bagi yang ingin mendengarkan audio/video nya

silakan ke https://youtu.be/hUJzapJBfCY