Selasa, 27 April 2021

Biografi Asy-Syaikhah Ummu Abdillah bintu Asy Syaikh Muqbil



Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Saya Ummu Abdillah Aisyah binti Imam Mujaddidus Sunnah (pembaharu Sunnah) qami'ul bid'ah (pelumat kebid'ahan) As-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'iy rahimahullah.

Aku dilahirkan di kota (Madinah) Rasulullah ﷺ, hanya saja aku belum pernah menetap di sana sama sekali.

Aku dibesarkan dan berkembang di desaku Dammaj, di sebuah rumah ilmu dengan suasana Diniyah dan ilmiah, kami tidak mengangkat kepala untuk selain ilmu.

Aku memulai dari masa kecilku walhamdulillah dalam menuntut ilmu, maka aku mempelajari ilmu membaca dan menulis melalui tangan ayahku yang mulia.

Dan juga beliau mengajarkan itu kepada kami kepada sebagian isteri dari para santri ayahku, yang mereka telah diutus untuk menuntut ilmu dari Mesir dan Sudan, dan aku mulai belajar Al-Quranul Karim bersamaan dengan Mabadiy Fi Ilmit Tajwid (Dasar-dasar ilmu tajwid), dan menghapal sebagian matan-matan seperti kitab Riyadhus Shalihin dan Umdatul Ahkam.

Kemudian aku beralih ke pelajaran-pelajaran ayahku rahimahullah yang umum, aku hadir di tempat khusus para wanita, sehingga terkadang aku sendirian di tempat tersebut, tidak ditemukan satu wanita pun di tempat tersebut selain diriku.

Dan ayahku rahimahullah adalah orang yang begitu besar perhatiannya dalam mendidik aku dan mengajariku serta mengarahkan ku, sehingga beliau terkadang menyerahkan pembahasan dan kesibukannya kepadaku.

Dan aku mulai mempelajari walhamdulillah tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits melalui tangan ayahku kitab: "Mukhtasar Ulumil Hadits" karya Ibnu Katsir, "Tadribur rawi" karya As-Suyuthi, "Gharatul Fashl Alal Mu'taddin Ala Kutubil Ilal" karya ayahku. Sebagaimana aku mempelajari "Nuzhah An-Nazhar" karya Ibnu Hajar, "Syarah Ilal At-Tirmidzi" karya Ibnu Rajab melalui tangan beberapa masyaikh pondok - maksudnya Darul Hadits di Dammaj - dahulu.

Dan aku mulai mempelajari melalui tangan ayahku tentang sejarah dan Sirah: "As-Shahih Al-Musnad Min Dalail An-Nubuwwah" karya ayahku rahimahullah di dalam dars (pelajaran) khusus maupun umum juga, dan dari "Shahih Bukhari" dan yang aku maksud dengan dars khusus adalah: pelajaran yang ayahku mengkhususkan aku untuk mempelajarinya di rumah, dan dars umum adalah: pelajaran-pelajaran umum yang disampaikan beliau di kursinya di masjid.

Sedangkan tentang tauhid dan akidah aku hadir dalam beberapa pelajaran ayahku dalam kitab: "Al-Jami' As-Shahih Fil Qadar" dan "As-Syafa'ah" yang keduanya karya ayahku rahimahullah. Dan sebagian dari "Tauhidul Asma was Shifat" karya Ibnu Khuzaimah, dan "As-Sunnah" karya Abdullah bin Ahmad. Dan pelajaran-pelajaran ini berlangsung pada dars-dars umum.

"At-Tadmuriyyah" dan "Al-Fatwa Al-Hamawiyyah" dan "Al-Iman Al-Awsath" karya Syaikhul Islam, dan "Syarah Al-Aqidah At-Thahawiyyah" karya Ibnu Abil Izz, dan "Fathul Majid Syarah Kitab At-Tauhid" melalui tangan sebagian masyaikh pondok.

Dan aku punya beberapa pertanyaan tentang kitab-kitab ini yang dahulu aku tanyakan kepada ayahku tentangnya.

Sedangkan dalam ilmu nahwu: "At-Tuhfah As-Saniyyah", dan "Mutammimah Al-Aajurumiyyah" serta "Syarah Qathrun Nada", dan "Syarah Ibni Aqil". Aku pelajari itu semua melalui tangan ayahku rahimahullah. Dan beliau selalu menyuruhku untuk mengi'rab di hadapan beliau semua apa yang telah lewat bersama kami i'rabnya dari syawahid (teks-teks yang menjadi inti pembahasan, pent) dari ayat-ayat Qur'an dan contoh-contoh serta bait-bait syair.

Dan aku telah menghapal walhamdulillah kitab "Alfiyah Ibni Malik". Dan kami begitu sangat suka dengan ilmu nahwu karena seringnya ayahku Rahimahullah memberikan perhatian terhadapnya di dalam pelajaran-pelajaran beliau dan ulasan-ulasan beliau.

Dan aku pun menghadiri pelajaran-pelajaran ayahku tentang fikih dan matan-matan hadits dari: "Shahih Bukhari" dan "Shahih Muslim", dan "As-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fi As-Shahihain", dan "Dzammul Masalah" karya ayahku.

Dan dalam Ushul fiqih: "Al-Ushul Min Ilmi Al-Ushul", dan "Al-Waraqat", dan "Ar-Risalah" karya As-Syafi'i melalui tangan sebagian masyaikh pondok.

Dan tentang tafsir: "Tafsir Al-Hafizh Ibni Katsir", dan "As-Shahih Al-Musnad Min Asbab An-Nuzul". Dan ini berlangsung dalam pelajaran-pelajaran ayahku yang umum.

"Muqaddimah Fi Ushul At-Tafsir" karya Syaikhul Islam melalui tangan sebagian masyaikh pondok.

Dan karena banyaknya nasehat ayahku tentang motivasi dalam menuntut ilmu aku bergumam dalam hati agar aku menjadi termasuk dari Hafizh Hadits, namun belum juga ditakdirkan itu untukku.

Dan inilah sebagian yang dimudahkan Rabb-ku untukku, sedangkan ilmu itu begitu mudah dan Rabb kita telah berfirman:

(وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ) [القمر:17].

"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" [Qs. Al-Qamar: 17]

Dan ayahku rahimahullah telah memuji aku di dalam kata pengantarnya terhadap kitabku "Al-Jami' As-Shahih Fil Ilmi Wa Fadhlih" dan beliau katakan: "adapun Ummu Abdillah Al-Wadi'iyyah maka beliau adalah seorang wanita pengajar - semoga Allah menjaganya - dengan memberikan taklim saudari-saudarinya dalam ilmu akidah, Al-Quran, hadits, nahwu, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saudari-saudarinya Fillah pada surat-surat yang sampai kepadanya dari banyak negeri di Yaman, dan dia tidak pernah mengangkat kepalanya untuk selain ilmu, taklim dan menulis kitab, dan kitabnya "As-Shahih Al-Musnad Fi As-Syamail Al-Muhammadiyyah" yang hampir selesai pencetakannya. Saya memohon kepada Allah agar memberinya Taufiq, dan memudahkan baginya untuk terus melanjutkan dalam berkhidmat kepada Sunnah Nabawiyah, dan berdakwah kepadanya, dan agar melindunginya dari fitnah dunia dan setelah kematian, sesungguhnya Dia atas segala sesuatunya maha kuasa.

Dan beliau rahimahullah berkata di dalam "Mukadimah Nashihati Lin Nisa": .. dia seorang wanita yang dapat memberikan faedah dalam berbagai bidang ilmu, beradab dengan adab Rasul ﷺ, wanita yang utama, semangat dalam mengisi waktunya dengan sebenarnya, dan oleh karenanya Allah berikan keberkahan pada ilmunya, semangat untuk memberikan faedah kepada saudari-saudarinya, dia mengajarkan kitab hingga selesai kemudian akan beralih kepada kitab lainnya, cinta kepada kitab-kitab akidah, fikih dan bahasa. Selesai.

Dan dari usiaku yang masih beliau aku telah mengajar, dan pada tahun-tahun pertama dimana aku mengajar aku mengajarkan qiroah (membaca) dan kitabah (menulis), Al-Quran, menghapal beberapa matan, hingga Allah bukakan dan aku mengajarkan setelah itu dengan mengajarkan para wanita di pondok Darul Hadits di Dammaj.

Dan aku telah mengambil faedah dari arahan-arahan ayahku baik khusus maupun umum dan diantaranya:

Berpegang dengan dalil berdasarkan pemahaman kaum salaf shaleh dan membuang jauh sikap taklid (membebek).

Dan bahwa kebenaran itu tidak dikenal dengan sosoknya; akan tetapi sosok orang-orang akan dapat dikenal dengan kebenaran (yang dibawanya).

Menerima ilmu karena tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih membahagiakan dari ilmu, bukan kekuasaan, bukan pula kepemimpinan, dan bukan juga dunia dan seisinya.

Tidak menoleh kepada perpecahan dan pengelompokan.

Meninggalkan perdebatan yang tidak ada faedah padanya.

Menjauhkan diri dari kesibukan-kesibukan semampunya dan memfokuskan diri pada ilmu.

Menjaga waktu dan menghidupkannya dengan ilmu dan ketaatan kepada Rabb alam semesta.

Aku tulis kalimat ini sebagai talbiyah bagi sebagian saudari-saudariku Fillah sekalipun aku banyak menghindar darinya, akan tetapi terkadang datang sebuah permohonan yang aku tidak sanggup untuk menolaknya, dan kami tahu akan kelemahan kami dan ketidak mampuan kami, dan kami bukanlah apa-apa, dan kami memohon kepada Rabb kami Taufiq-Nya selalu dan tambahan dari karunia-Nya hingga kami berjumpa dengan-Nya subhanah dan agar Allah jadikan kemanfaatan bagi kami dan menjadikan keberkahan bagi kami.

✍🏼 Ditulis oleh:

Ummu Abdillah Aisyah binti As-Syaikh Muqbil rahimahullah

Sumber : Channel Telegram Butiran Faedah


 

Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: