Sabtu, 14 Agustus 2021

Anjuran Puasa Muharram


Hadits ini menerangkan tentang keutamaan berpuasa di hari Asy Syura, yaitu tanggal 10 Muharram. Dari Abu Qatadah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

"Puasa ‘Asyura (10 Muharram) aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu."  (HR. Muslim)

Dan berpuasa pada bulan Muharram termasuk amalan yang paling afdhal. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

"Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah berpuasa di bulan Muharram. Dan seutama-utama shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim)

Maka, berpuasa di bulan Muharram adalah hal yang disunnahkan, namun lebih khusus lagi berpuasa pada tanggal 10 Muharram, karena dengan hal tersebut Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan menghapuskan dosa-dosa kita setahun sebelumnya. 

Tentunya kita sebagai hamba, tidak mungkin lepas dari kesalahan dan dosa. Maka dengan berpuasa 10 Muharram bisa menjadi sebab Allah Subhananhu Wa Ta'ala mengampuni dosa-dosa tersebut.

Dan juga dianjurkan pula menggandengkan puasa Asysyura dengan puasa di tanggal 9 Muharram, yang disebut puasa tasu'a. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Jika aku menjumpai tahun yang akan datang, insya Allah aku akan berpuasa pula pada hari yang kesembilannya.” (HR. Muslim)

Apabila seseorang berpuasa di tanggal 9 dan 10 Muharram, maka dia telah melakukan amalan puasa yang disunnahkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Adapun berpuasa di tanggal 11 Muharram, maka secara keumuman juga termasuk yang disunnahkan. Akan tetapi jika dikhususkan, maka ulama berbeda pendapat terhadap keshahihan hadits tersebut. Sebagian ulama menganjurkan sebagai bentuk kehati-hatian agar jangan sampai seseorang mengira berpuasa tanggal 10 Muharram, padahal masih tanggal 9. 

Hendaknya kita bersemangat untuk berupaya menghidupkan anjuran Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk berpuasa di bulan Muharram ini, khususnya di tanggal 9 dan 10. 

Tambahan :

Syaikh bin Baz rahimahullah di dalam Majmu' Fatawa beliau menjelaskan, apabila tanggal 9 tidak berpuasa. Maka berpuasa tanggal 10 dan 11 mencukupi bagi seseorang untuk menyelisihi puasanya Yahudi yang hanya di tanggal 10 Muharram saja.

========================================================================

Artikel ini diambil dari kajian online yang disampaikan oleh Al Ustadz Askary hafizhahullah, yang bisa kita simak di https://youtu.be/_fEaSBuvwO8 dengan tambahan yang beliau sampaikan di grup Ikhwan Balikpapan, juga dari tambahan kami sendiri pada paragraf terakhir.


Minggu, 01 Agustus 2021

Agama adalah Nasehat


Hadits ke-3 dalam Kitab Jawami' Al Akhbar 
Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِي رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صلى الله عليه وسلم :

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ»، قَالُوا : لِمَنْ يَا رَسُولُ اللّٰهِ ؟ قَالَ : لِلّٰهِ، وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَ عَامَّتِهِمْ

رواه مسلم

Dari Tamin Addaary radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda "Agama itu adalah nasehat" kami bertanya "MIlik siapa (nasehat itu) wahai Rasulullah?" Beliau menjawab "Milik Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum"

(HR. Muslim)

SEKILAS TENTANG PERAWI

Hadits ini diriwayatkan dari Abu Ruqayyah Tamim bin 'Aush bin Khariji Addaary radhiallau 'anhu yang berasal dari Palestina. Beliau temasuk shahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang masuk Islam pada tahun ke 9 Hijriah, yakni di akhir-akhir masa hidup Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. 

Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sempat memberitakan hadits yang bercerita tentang perjalanan Tamim Ad Daary ketika bertemu Dajjal di sebuah pulau. 


PENJELASAN HADITS

Di dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda "Agama adalah Nasehat", sebuah ungkapan yang menunjukkan pentingnya nasehat di dalam agama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahwa nasehat adalah sesuatu yang akan membangun, menegakkan dan mengokohkan agama seseorang.

Seperti halnya sabda Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

الْحَجُّ عَرَفَةُ

"Haji adalah wukuf di Arafah" (HR. An Nasai dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Maksudnya, wukuf di Arafah adalah amalan yang paling utama dalam amalan Haji, sehingga tidak ada haji jika tidak melakukan wukuf di Arafah. Begitu pula dengan nasehat, tidak akan tegak agama kecuali dengan nasehat. 

Apa yang Dimaksud dengan Nasehat?

Nasehat adalah sebuah kalimat yang mengandung perbuatan menyampaikan sesuatu kepada seseorang berupa hal-hal yang membawa pada kebaikan. Seseorang yang menyampaikan nasehat adalah seseorang yang menghendaki kebaikan kepada orang yang dinasehati tersebut.

Kemudian dalam hadits ini Shahabat bertanya "Milik siapa (nasehat itu) wahai Rasulullah?"

Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab "(nasehat itu) adalah Milik Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum"


Apa yang dimaksud nasehat milik Allah?

Bukanlah yang dimaksud adalah Allah membutuhkan nasehat, karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak membutuhkan nasehat. Namun yang dimaksud adalah nasehat tersebut kembali kepada hamba itu sendiri di dalam menasehati dirinya dalam hal yang berkaitan tentang Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Maka seorang hamba wajib beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'a, mentauhidkanNya dalam perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma wa shifat. Menyifati Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan sifat yang sempurna sebagaimana Allah telah menyifati diriNya sendiri dan dengan apa yang telah Rasulullah sifati. Menegakkan tauhid, tunduk berserah diri hanya kepada Allah Ta'ala. 

Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, cinta dan benci karena Allah. Meyakini seluruh nikmat datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka itu  (datangnya) dari Allah”. 

(Qs. An Nahl: 53)


Apa yang dimaksud nasehat bagi kitab Allah?

Yang dimaksud adalah mengimani kitabullah adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan bukan makhluk. Dan tidak menyerupai sesuatu apapun dari ucapan makhluk. Firman Allah Maha Benar, tidak ada kekeliruan, kedustaan di dalamnya.

Seorang hamba memuliakan kitabullah dengan cara membacanya, mentadabburi kandungan di dalamnya, khusyu ketika membaca Al Quran, dan senantiasa membela Alquran dari penakwilan orang-orang yang hendak memalingkan makna Alquran ke makna yang menyimpang. Membenarkan segala isi Alquran, mengambil manfaat dan pelajaran dari nasehat-nasehat yang terdapat di dalamnya. Serta mengajak manusia agar mereka menghidupkan Al-Quranul Karim di dalam hati mereka.


Apa yang dimaksud nasehat bagi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam?

Membenarkan risalah, mengimani kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, menaati perintah dan larangannya, dan senantiasa mencintai dan membela sunnahnya, serta membenci orang yang membenci Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Kita berusaha senantiasa mengikuti bimbingan beliau, menyebarkan syariat yang beliau ajarkan, dan tidak mengamalkan ajaran agama yang tidak beliau ajarkan. Beradab dengan adabnya, mencintai keluarga dan para Shahabat beliau.


Apa yang dimaksud nasehat bagi pemimpin kaum muslimin?

Menolong mereka dalam menjalankan kebenaran, menaati mereka selama bukan dalam perkara maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mengingatkan mereka dengan cara yang baik, dan bila ingin menasehati, nasehati mereka dengan cara Rahasia, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam. Serta diharamkan melakukan pemberontakan kepada penguasa tersebut. 


Apa yang dimaksud nasehat untuk keumuman kaum muslimin?

Menasehati mereka dengan cara hikmah dan lembut. Membimbing mereka kepada kemashlahatan dalam kehidupan dunia dan akhirat mereka. Saling tolong menolong di atas kebaikan, ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mencegah berbagai hal yang dapat menimbulkan kemudharatan kepada mereka. Dan mengajarkan mereka ilmu syar'i, dan hal-hal yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Demikianlah kandungan secara ringkas dari hadits yang mulia ini, yang menunjukkan pentingnya saling menasehati sesama kaum muslimin dalam hal yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan hal yang menjadikan kita kuat dalam berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihin Wasallam. 

Wallahu a'lam bish shawab.

Dicatat Dari Kajian Online Ma'had Al Istiqamah

Kitab Jawami' Al Akhbar hadits ke-3

yang disampaikan oleh Ustadz Askary hafizhahullah.


Bagi yang ingin mendengarkan audio/video nya

silakan ke https://youtu.be/hUJzapJBfCY

Sabtu, 31 Juli 2021

Muharram Bukan Bulan Sial




Muqaddimah

Segala puji bagi Allah ﷻ yang menjadikan malam dan siang silih berganti, sebagai pelajaran (‘ibrah) bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.

Sebagaimana firman Allahﷻ :

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

"Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur."

(QS. Al-Furqaan : 62).

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada suri teladan kita, Rasulullah ﷺ, hamba-Nya yang paling bersyukur dan utusan-Nya yang mengajarkan kepada umatnya bagaimana bersyukur dengan sebaik-baiknya, amma ba’du,

Di dalam berjalannya waktu, silih bergantinya hari dan berlalunya bulan dan tahun, terdapat pelajaran yang berharga bagi orang yang mau merenungkannya.

Tidak ada satu tahunpun berlalu dan tidak pula satu bulanpun menyingkir, melainkan dia menutup lembaran-lembaran peristiwanya saat itu, pergi dan tidak kembali. Jika baik amal insan pada masa tersebut, maka baik pula balasannya. Namun jika buruk, penyesalanlah yang mengikutinya.

Bukanlah inti masalah ada pada : “kapan sebuah bulan telah usai dan kapan ia mulai menjelang”, akan tetapi yang menjadi inti masalah adalah “dengan apa kita dahulu mengisi bulan-bulan yang telah berlalu itu”* dan *“bagaimana kita akan hiasi bulan-bulan yang akan datang”

Sehingga ia senantiasa berada dalam dua keadaan :

Pertama  Senantiasa Muhasabah(intropeksi), yaitu memikirkan dan menghitung-hitung amalannya di tahun yang telah silam, lalu dia teringat akan dosa-dosanya, hingga hatinya menyesal, lisannyapun beristighfar, memohon ampun kepada Rabbnya.

Yang kedua yaitu Persiapan (isti’dad), yaitu dia mempersiapkan keta’atan pada hari-harinya yang menjelang, sembari memohon pertolongan kepada Rabbnya, agar bisa mempersembahkan ibadah yang terindah kepada Sang Penciptanya, Allah Rabbul'Alamin.

Bulan al-Muharram bukan Bulan Sial

Alhamdulillah kita telah memasuki bulan al-Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam kalender hijriyah.

Di bulan Muharram ini orang jawa meyebutnya bulan Syuro, tersebar mitos di tengah masyarakat kaum muslimin dari  suku jawa, sebagian suku sulawesi, atau mungkin juga suku yang lainnya,  meyakini bahwa bulan al-Muharram adalah bulan sial, bulan keramat, sehingga tidak boleh ada hajatan, acara pernikahan, melakukan perjalanan, membangun rumah dan kegiatan kegembiraan lainnya, Kalau orang sulawesi bilang Pamali.

Lebih dari itu, mereka meyakini siapa yang mengadakan hajatan pada bulan Muharram ini akan ditimpa musibah dan malapetaka. Sehingga mereka enggan menikahkan putra putrinya di bulan ini karena khawatir ditimpa petaka dan kesengsaraan bagi kedua mempelai, tidak melakukan perjalanan karena akan terjadi kecelakaan, karena mereka menganggap bulan Muharram sebagai bulan sial, bulan keramat, ini mitos yang tersebar. Allahul Musta'an.

7 Alasan (Dalil) Bahwa Bulan al-Muharram bukan Bulan Sial

Berkaitan dengan keyakinan tersebut, tentu saja tidak dibenarkan dalam syariat islam, dengan beberapa alasan (Dalil) sebagai berikut :

Alasan Pertama 

Ditinjau dari sisi syariat, bulan al-Muharram adalah bulan mulia, bulan yang mempunyai kehormatan,  salahsatu dari empat bulan yang haram (bulan suci)  dalam Islam.

Allah ﷻ berfirman :

ﺇِﻥَّ ﻋِﺪَّﺓَ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮﺭِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷﺭْﺽَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺣُﺮُﻡٌ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟْﻘَﻴِّﻢُ ﻓَﻼ ﺗَﻈْﻠِﻤُﻮﺍ ﻓِﻴﻬِﻦَّ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﻗَﺎﺗِﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻛَﻤَﺎ ﻳُﻘَﺎﺗِﻠُﻮﻧَﻜُﻢْ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ( سورة التوبة : ٣٦ )

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

(Qs. At-Taubah : 36)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya  :

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻃﻠﺤﺔ ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻗﻮﻟﻪ : ( ﺇﻥ ﻋﺪﺓ ﺍﻟﺸﻬﻮﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺛﻨﺎ ﻋﺸﺮ ﺷﻬﺮﺍ ) ﺍﻵﻳﺔ( ﻓﻼ ﺗﻈﻠﻤﻮﺍ ﻓﻴﻬﻦ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ) ﻓﻲ ﻛﻠﻬﻦ ، ﺛﻢ ﺍﺧﺘﺺ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﻓﺠﻌﻠﻬﻦ ﺣﺮﺍﻣﺎ ، ﻭﻋﻈﻢ ﺣﺮﻣﺎﺗﻬﻦ ، ﻭﺟﻌﻞ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﻴﻬﻦ ﺃﻋﻈﻢ ، ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻭﺍﻷﺟﺮ ﺃﻋﻈﻢ.

"Dan 'Ali bin Abi Thalhah telah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhuma sehubungan dengan makna firman-Nya : ("Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan"), hingga akhir ayat. ("Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri")

(At-Taubah : 36)

yaitu dalam semua bulan.

Kemudian dikecualikan dari semua bulan itu sebanyak empat bulan (Empat bulan Haram yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Al-Muharram, dan Rajab). Keempat bulan itu dijadikan sebagai bulanw Haram (suci) yang kesuciannya diagungkan, dan sanksi atas perbuatan dosa yang dilakukan padanya diperbesar serta pahala amal shalih yang dilakukan di dalamnya diperbesar pula."

(Tafsir Ibnu Katsir, 4 / 148)

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, bahwa beliau sedang berkhutbah di hadapan manusia, pada hari raya Idul Adha, saat haji Wada’. Diantara yang beliau sabdakan adalah :

إنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan :

Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar; antara Jumadi tsaniah dan Syaban.”

(HR. Al-Bukhari No. 3197 dan Muslim No. 1679)

Apa hikmah keempat bulan tersebut menjadi bulan haram ?

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan hikmah tersebut :

وإنما كانت الأشهر المحرمة أربعة، ثلاثة سرد وواحد فرد، لأجل أداء مناسك الحج والعمرة فحُرِّم قبل أشهر الحج شهرًا وهو ذو القعدة؛ لأنهم يقعدون فيه عن القتال، وحُرِّم شهر ذو الحجة لأنهم يوقعون فيه الحج ويشتغلون بأداء المناسك، وحُرِّم بعده شهرًا آخر وهو المحرم؛ ليرجعوا فيه إلى أقصى بلادهم آمنين، وحُرِّم رجب في وسط الحول لأجل زيارة البيت والاعتماد به لمن يقدم إليه من أقصى جزيرة العرب فيزوره ثم يعود إلى وطنه فيه آمنًا».

“Bulan haram itu ada empat -tiga berurutan dan satu terpisah-, hal itu disebabkan adanya pelaksanaan ibadah haji dan umrah (didalamnya). Satu bulan sebelum bulan haji, yaitu bulan Dzul Qo’dah, (bulan tersebut) dinyatakan sebagai bulan haram, karena mereka tidak melakukan peperangan didalamnya.

Bulan Dzul Hijjah ditetapkan sebagai bulan haram, karena mereka melakukan ibadah haji pada bulan itu dan sibuk dengannya. Bulan sesudahnya (juga) ditetapkan sebagai bulan haram, yaitu : Muharram, agar mereka dapat kembali ke negeri mereka yang paling jauh (sekalipun) pada bulan ini, dalam keadaan aman.

Bulan Rajab ditetapkan sebagai bulan haram yang terletak di pertengahan tahun, agar (manusia) berkesempatan mengunjungi Baitullah dan ini adalah kesempatan yang baik bagi orang yang datang dari tempat terjauh di wilayah Jazirah Arab, mereka mengunjunginya, kemudian pulang ke negerinya dalam keadaan aman di dalam bulan tersebut”

(Tafsir Ibnu Katsir : 3/25).

Lantas mengapa bulan suci ini dinamai al-Muharram ?

Ada dua pendapat yang menjelaskan alasan penamaan bulan ini :

1. Dinamakan al-Muharram dari kata Haram yang maknanya adalah larangan, sebagai penegasan terhadap keharaman berperang di bulan ini. Karena dahulu orang-orang Arab mengubah-ubah urutan bulan ini, mereka menghalalkan perang pada suatu tahun kemudian mengharamkan pada tahun berikutnya.

2. Dinamakan Muharram karena bulan ini termasuk salah satu dari empat asyhur al hurum  (Bulan-bulan haram) yang disinggung dalam surat At-Taubah ayat 36 di atas.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan :

ذَكَرَ الشَّيْخُ عَلَمُ الدِّينِ السَّخَاوِيُّ فِي جُزْءٍ جَمَعَهُ سَمَّاهُ «الْمَشْهُورُ فِي أَسْمَاءِ الْأَيَّامِ وَالشُّهُورِ » أَنَّ الْمُحَرَّمَ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِكَوْنِهِ شَهْرًا مُحَرَّمًا، وَعِنْدِي أَنَّهُ سُمِّيَ بِذَلِكَ تَأْكِيدًا لِتَحْرِيمِهِ ؛ لِأَنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تَتَقَلَّبُ بِهِ فَتُحِلُّهُ عَامًا وَتُحَرِّمُهُ عَامًا

Syaikh Alamuddin As Sakhowi menyebutkan dalam salah satu jilid karya yang beliau kumpulkan, yang beliau beri judul al masyhur fi asmaai al ayyam wa asy-syuhur, bahwa dinamakan Muharram karena bulan ini termasuk bulan haram. Adapun menurutku, dinamai Muharam sebagai penekanan terhadap keharaman berperang di bulan tersebut. Karena kaum Arab dahulu mengubah-ubah urutan bulan ini, mereka menghalalkan perang di suatu tahun lalu mengharamkan di tahun berikutnya” (Tafsir Ibnu Katsir 4/146).

Maka dari penjelasan ini menunjukkan bulan Muharram adalah bulan suci dan mulia disisi Allahﷻ. Menunjukkan bulan Muharram adalah bulan yang berkah, bulan yang baik,  bukan bulan sial, pamali ataupun keramat.

Alasan Kedua

Bulan al-Muharram mempunyai banyak keutamaan salahsatunya adalah bulan al-Muharram disebut dengan bulannya Allah ﷻ.

Satu-satunya bulan yang Allah ﷻ nisbatkan kepada diriNya yang maha mulia, adalah bulan Muharram.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram”.

(HR. Muslim 1163)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan :

“Nabi memberi nama Muharram dengan Syahrullah. Penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya. Karena Allah tidak akan menyandarkan sesuatu kepada dirinya kecuali pada makhluknya yang khusus".

(Lathaiful Ma’arif, hal.81)

puasa yang dilakukan pada tanggal sepuluh Muharram akan menghapus dosa setahun yang lalu, dan lebih utama lagi jika ditambah dengan tanggal sembilan atau sebelas. Dari Abu Qatadah al-Anshori radiyallahu'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاء أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ.

“Aku berharap pada Allah agar puasa di hari‘Asyura’ (tanggal sepuluh Muharram) bisa menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”.

(HR. Muslim) 

Sedangkan yang dilarang oleh syariat di bulan ini adalah melakukan peperangan kecuali apabila umat Islam diperangi. Termasuk diharamkan pula perbuatan-perbuatan menzalimi diri sendiri. “Perbuatan maksiat di bulan ini dilipatgandakan dosanya”. Apalagi jika maksiat tersebut bernuansa syirik dan khurafat, seperti keyakinan bahwa bulan Muharram adalah bulan sial.

Sehingga bagaimana mungkin bulan yang disebut Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sebagai bulannya Allah ﷻ, yang padanya ada puasa yang menghapus dosa setahun yang lalu,  menjadi waktu yang sial ?! Tentu ini adalah waktu penuh keberkahan.

Alasan Ketiga

Ditinjau dari Sejarah yang terjadi di bulan al-Muharram.

Pada bulan Muharram tepatnya tanggal 10 Muharram, Nabi Musa ‘alaihissalam diselamatkan dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya.

Abdullah ibnu ‘Abbas radiyallahu'anhuma mengisahkan :

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

"Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya: “Hari apa ini ?” mereka menjawab : "Hari yang baik, hari di mana Allah ﷻ menyelamatkan Bani israil dari musuhnya, sehingga Musa 'Alaihissalam pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah ﷻ. Akhirnya Nabi ﷺ bersabda : “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa alaihissalam dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa." (HR. Al Bukhari)

Kisah ini menuturkan kejadian suka-cita, bukan duka cita, apalagi kisah kesialan. Jadi, menganggap bulan Muharram sebagai bulan naas (sial) tidak ada landasan sejarah yang membenarkannya. Karena pada bulan ini justru kita mendapatkan anugerah yang sangat tinggi, wajarlah jika kemudian kaum muslimin mensyukurinya dengan berpuasa sunnah tanggal 10 Muharram. Dan lebih utama lagi ketika dia berpuasa sehari sebelumnya, yakni tanggal 9 Muharram atau sehari setelahnya, yakni tanggal 11 Muharram.

Alasan Keempat

Tidak boleh mencela waktu.

Menganggap Bulan Muharram sebagai bulan sial, ini adalah bentuk tindakan mencela waktu. Padahal mencela waktu dilarang dalam Islam. Apalagi jika yang dicela adalah bulan yang istimewa, disebut sebagai bulannya Allah ﷻ.

Dari Abu Hurairah radiyallahu'anhu Nabi ﷺ bersabda :

لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ؛ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ

“Janganlah kalian mencela dahr (waktu) karena Allah itu adalah dahr (yang mengatur waktu)”.

(HR. Muslim 6/5827)

Maksudnya bahwa Allahﷻ pencipta waktu dan mengaturnya, sebagaimana ditafsirkan dalam riwayat yang lain, sehingga dilarang mencela waktu, karena seorang yang mencela waktu, dia telah mencela Rabb yang mengatur waktu, yaitu Allahﷻ.

Dari Abu Hurairah radiyallahu'anhu Rasulullahﷺ bersabda :

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يُؤْذِيْنِيْ ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِيَ الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Allah ‘Azza wa jalla berfirman :

“Anak Adam telah menyakiti-Ku, ia mencela dahr (waktu), padahal Aku adalah (pencipta) dahr. Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang”.

(HR. Bukhari hal. 1035 No. 5827 dan Muslim 5/5824)

Ibnu Katsir menukil pernyataan Imam Syafi’i dan Abu Ubaidah –rahimahumullah-, menjelaskan maksud hadis ini :

كانت العرب في جاهليتها إذا أصابهم شدة أو بلاء أو نكبة قالوا : ” يا خيبة الدهر ” فيسندون تلك الأفعال إلى الدهر ويسبونه وإنما فاعلها هو الله تعالى فكأنهم إنما سبوا الله عز وجل لأنه فاعل ذلك في الحقيقة فلهذا نهى عن سب الدهر بهذا الاعتبار لأن الله تعالى هو الدهر الذي يصونه ويسندون إليه تلك الأفعال. وهذا أحسن ما قيل في تفسيره ، وهو المراد . والله أعلم

"Dahulu orang Arab saat masa Jahiliah jika tertimpa musibah mereka berucap :

 “Dasar waktu sial..!”

Mereka menyandarkan sebab musibah itu kepada waktu, kemudian mencelanya. Padahal yang menciptakan segala kejadian adalah Allahﷻ

Maka seakan-akan mereka telah mencela Allahﷻ. Karena pada hakikatnya Allahﷻ yang menimpakan kejadian itu. Inilah sisi alasan larangan mencela waktu. Karena Allah lah yang mengatur waktu dan sejatinya mereka telah menyandarkan kesialan musibah itu kepadaNya. Penjelasan ini adalah penjelasan paling baik untuk makna hadits ini.

(Umdah at Tafsir Ibnu Katsir, 3/295-296)

Hari, bulan dan tahun yang Allah Ta'ala ciptakan semuanya baik, tidak ada yang sial atau naas. Sesungguhnya kesialan, kecelakaan adalah bagian dari takdir Allah ﷻ.

yang tidak diketahui hamba-Nya kecuali setelah terjadi. Allah ﷻ bisa menimpakan kesialan atau kenaasan kepada siapapun, di manapun dan kapanpun, bila Allah ﷻ menghendakinya. Dan hamba harus rela menerima takdir tersebut.

Alasan Kelima

Menganggap waktu sebagai sumber sial adalah budaya kaum Jahiliyah dahulu.

Mengkambinghitamkan waktu (menjadikan waktu) sebagai penyebab kesialan suatu usaha, sejatinya merupakan mitos masyarakat Arab jahiliyah dahulu. Mereka sering berkumpul di berbagai kesempatan untuk berbincang-bincang tentang berbagai hal dan terkadang dalam perbincangan mereka terlontar ucapan-ucapan yang mempersalahkan waktu sebagai penyebab kesialan usaha mereka, atau manakala mereka ditimpa berbagai musibah lainnya.

Orang Jahiliyah dahulu juga punya mitos meyakini menikah di bulan Syawal, dapat mengundang kesialan. Mitos ini kemudian ditepis oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan menikahi Aisyah radiuallahu'anha di bulan Syawal.

تزوجني رسول الله صلى الله عليه و سلم في شوال وبنى بي في شوال فأي نساء رسول الله صلى الله عليه و سلم كان أحظى عنده منى ؟ قال وكانت عائشة تستحب أن تدخل نساءها في شوال

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  menikahiku di bulan Syawal, dan mengadakan malam pertama denganku di bulan Syawal. Manakah istri beliau yang lebih mendapatkan perhatian beliau selain aku?”

Salah seorang perawi mengatakan :

“Aisyah menyukai jika suami melakukan malam pertama di bulan Syawal.”

(HR. Muslim, An-Nasa’i, dan yang lain)

Sehingga menganggap Muharram sebagai bulan sial, adalah perbuatan tasyabbuh (menyerupai) dengan kaum Jahiliyah dahulu.

Ada sebuah keteladanan 

Nabi ﷺ dari kisah yang diceritakan Aisyah radiyallahu'anha di atas, bahwa dianjurkan untuk bersikap menyelisihi mitos anggapan sial. Agar keyakinan khurofat seperti ini, hilang dari masyarakat.

Alasan Keenam

Menganggap bulan Muharram sebagai bulan sial, termasuk perbuatan Thiyarah.

Dalam kajian masalah aqidah, berkeyakinan sial karena melihat peristiwa tertentu, mendengar suara tertentu atau terhadap hari tertentu disebut Thiyaroh atau Tathoyyur.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata : “Tathayyur adalah menganggap sial atas apa yang dilihat, didengar, atau yang diketahui. Seperti yang dilihat yaitu, melihat sesuatu yang menakutkan. Yang didengar seperti mendengar burung gagak, dan yang diketahui seperti mengetahui tanggal, angka atau bilangan. Tathayyur menafikan (meniadakan) tauhid dari dua segi :

Pertama, orang yang bertathayyur tidak memiliki rasa tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla dan senantiasa bergantung kepada selain Allah ﷻ.

Kedua, ia bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya dan merupakan sesuatu yang termasuk takhayyul dan keragu-raguan.” (Al-Qaulul Mufiid ‘alaa Kitaabit Tauhiid I/559-560).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :

لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ

“Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar”

(HR. Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220). 

Rasulullah ﷺ menyebut perbuatan ini sebagai Kesyirikan, sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radiyallahu'anhu, ia menyebutkan hadits secara marfu’ sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ . ثَلاَثًا وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّل.

“Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”.

Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud radiyallahu'anhu berkata :

“Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya.6 Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.”

(HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Dan dishahihlan oleh Syaikh Al Albani).

Adapun beberapa contoh perbuatan Tathoyyur :

1.  Menganggap bulan bulan Muharram adalah bulan keramat atau sial sehingga tidak boleh mengadakan hajatan, walimahan atau acara besar lainnya.

2. Menganggap anak sakit-sakitan karena nama yang terlalu berat diemban sehingga harus ada penggantian nama.

3. Mengganggap datangnya musibah itu karena si A yang baru datang ke kampung, sebelumnya tidak pernah terjadi. Sebagaimana dahulu Fir’aun beranggapan datangnya bencana gara-gara Nabi Musa ‘alaihis salam.

4. Anggapan sial dengan angka 13. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.

Tathoyyur (beranggapan sial dengan waktu, hari atau suara tertentu) ini akan menjadikan seseorang tidak termasuk 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa Sifat 70.000 orang tersebut adalah disebutkan oleh Nabi ﷺ :

هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.”

(HR. Bukhari no. 5752).


Alasan Ketujuh dan ini yang terahir yang bisa kami sebutka

Ketika beranggapan sial dibulan Muharram justru akan mengurangi Produktifitas amal Shalih

Sehingga ketika tidak dipergunakannya sebuah hari lebih-lebih sebulan untuk melakukan aktivitas sebagaimana layaknya, tentu akan mengurangi produktifitas kerja atau amalan. Ketika pada hari itu semestinya bisa dimanfaatkan misalnya untuk melakukan perjalanan pulang kampung, atau berangkat ke tempat kerja, pendidikan, silaturrahim atau hal-hal lain yang sangat bermanfaat, maka semuanya harus ditunda besok harinya atau harus buru-buru dilakukan sehari sebelumnya.

Masyarakat cenderung memahami naasnya (sialnya) suatu usaha hanya pada masalah-masalah duniawiyah. Takut kecelakaan, takut bangkrut, takut miskin dan takut mati. Ini menunjukkan bahwa orientasi kerja mereka hanya semata-mata hasil yang bagus, sementara mereka tidak siap untuk menerima kerugian, apalagi sampai pada tingkat kematian, karena mereka memang tidak cukup bekal amal untuk itu. Padahal semua manusia pasti mengalaminya. Dan yang jelas waktunya tidak mesti pada bulan Muharram, melainkan di semua bulan manusia bisa mendapatkan keberuntungan maupun kerugian. Tidak ada satu pun penelitian yang menghasilkan data bahwa pada bulan Muharram angka kecelakaan meningkat, angka kematian paling tinggi, kasus perceraian paling banyak, dan seterusnya. Apakah dengan menghindari bulan ini dari melakukan aktivitas tertentu lantas dijamin bebas dari masalah ? Tentu tidak jawabannya, sekali lagi semua tergantung dari usahanya dan taufiq dari Allah ﷻ, bukan waktu naas atau mujurnya seseorang.

Kalaupun terjadi kesialan, tertimpa musibah atau sesuatu yang tidak disenangi maka itu disebabkan karena dosa dan maksiat kepada Allah ﷻ, sebagaimana firman-Nya : 

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan mu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

(Asy-Syura : 30)

Allah ﷻ meyebutkan apa saja yang menimpa kita dan kerusakan yang ada baik di daratan maupun di lautan, disebabkan karena perbuatan manusia, sebabnya karena dosa-dosa manusia.

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan :

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.”

(Al-Jawab Al-Kaafi karya Ibnul Qayyim, hal. 87)

Sehingga ini seharusnya menjadi bahan intropeksi bagi kita, agar kita kembali kepada Allah ﷻ dan bertaubat kepadaNya. Bukan malah menyandarkan kesialan kepada bulan Muharram.

Khatimah (Penutup)

Alhamdulillah telah kita sebutkan tujuh alasan (dalil) terkait tentang bulan Muharram bukan bulan sial dan kramat, bahkan bulan Muharram adalah bulan yang baik dan mulia yang penuh dengan keutamaan.

Ketahuilah anggapan sial (Tathoyyur) terhadap bulan Muharram atau yang lainnya akan mengurangi tauhid seorang muslim dan termasuk kesyirikan karena :

1. Bergantung pada sesuatu yang bukan sebab secara hakiki, 
2. Memutuskan suatu kejadian seakan-akan menentang takdir Allah Azzawajalla 3. Dan Perbuatan tersebut akan mengurangi tauhid. 

Sehingga untuk menghilangkan persangkaan sial di sini kuncinya adalah Tawakkal. Karena tawakkal terdapat ketergantungan hati pada Allahﷻ. Hadits yang telah berlalu disebutkan,
“Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal”.

Disebutkan dalam Kitab Fathul Madjid : 335 
“Akan tetapi jika kita bertawakkal pada Allah dalam meraih maslahat dan menolak mudhorot, maka was-was untuk beranggapan sial akan hilang dengan izin Allah Ta'ala.”

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafidzahullah berkata :

“Penyembuh dari beranggapan sial adalah dengan bertawakkal pada Allah Ta'ala. Kemudian meninggalkan anggapan sial dan tidak memiliki keraguan lagi dalam hati.”
 (I’anatul Mustafid 2/16)

Ingatlah pelajaran dari firman Allah Ta’ala :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. Ath Tholaq: 3).

Sehingga jangan menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan Tawakkal pada Allah Ta'ala. Ketika mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, ucapkanlah :

اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ

“Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.”

Wallahua'lam bishowab.


نسأل الله أن يبارك لنا ولكم في هذا الشهر المحرم . اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعا ورزقًا طيبًا وعملاً متقبلاً.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله رب العالمين .

Ditulis oleh saudaramu yang butuh kepada Ampunan-Nya

Abu Mujahid Irwan Salam bin Abdussalam Al-Mandary

Semoga Allah ﷻ mengampuni dosanya, kedua orang tuanya serta Istri dan Anaknya.

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang, Mamuju-Tengah Sulawesi Barat

Selesai disusun Ahad ba'da shubuh 18 Muharram 1442 H/06 September 2020 M

Sumber :  Majmu'ah Salafy Sulbar
Channel Telegram : https://t.me/Alhaqqu_Ahabbu_Ilaina

Rabu, 28 Juli 2021

Islam Iman Dan Ihsan - Hadits Arbain (2) - Bagian 2

 




Melanjutkan pembahasan sebelumnya :
Islam, Iman, Ihsan dan Tanda Hari Kiamat (Bag.1)

Berkata As-Syaikh Al- Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah:

5. Dan diantara faedah hadits ini: bagusnya adab pelajar di hadapan guru dimana Jibril -alaihis shalat was salam- duduk di hadapan nabi ﷺ dengan model duduk ini yang menunjukkan atas adabnya dan perhatiannya serta persiapannya terhadap apa yang akan disampaikan kepadanya maka dia pun menempelkan kedua lututnya ke lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau.

6. Diantaranya: bolehnya memanggil nabi ﷺ dengan namanya berdasarkan ucapannya, "wahai Muhammad" dan ini kemungkinannya itu terjadi sebelum adanya larangan yaitu sebelum adanya larangan Allah tentang hal itu di dalam firman-Nya:

{ لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا } [النور/63]

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)." [Qs. An-Nur: 63]

Berdasarkan salah satu penafsiran dan ada kemungkinan bahwa ini berlangsung sesuai dengan kebiasaan bangsa Arab yang mereka datang kepada Rasul ﷺ kemudian mereka memanggilnya dengan namanya "wahai Muhammad" dan ini lebih dekat (kepada kebenaran), karena (kemungkinan) pertama butuh kepada (kepastian) sejarah.

7. Dan diantara faedah hadits ini: bolehnya seseorang bertanya tentang sesuatu yang dia ketahui dengan tujuan mengajarkan orang yang belum tahu, karena Jibril dikala itu mengetahui jawabannya, berdasarkan ucapannya dalam hadits, "engkau benar" karena jika tujuan penanya adalah ingin mengajarkan orang-orang yang ada disekitar orang yang menjawab maka itu tergolong bentuk taklim bagi mereka.

8. Dan diantara faedah hadits ini: sesungguhnya penyebab memiliki hukum yang sama dengan yang terlibat langsung apabila yang terlibat langsung didasari di atas sebab tersebut, berdasarkan sabda nabi ﷺ, "ini adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian" padahal gurunya adalah Rasul ﷺ akan tetapi ketika Jibril yang menjadi sebab bertanya kepadanya maka Rasul ﷺ menjadikannya sebagai yang mengajarkan (agama).


Bersambung insya Allah ta'ala...


📕 At-Ta'liqat Ala Al-Arba'in An-Nawawiyyah karya Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah.


Sumber : Butiran Faedah


Jumat, 23 Juli 2021

Islam Iman dan Ihsan - Hadits Arbain (2)


Hadits Arbain ke dua. Tentang Islam, Iman, dan Ihsan serta tanda Hari Kiamat.

عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَيضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari 'Umar radhiallahu'anhu juga berkata, "Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah ﷺ, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas menempuh perjalanan jauh. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi ﷺ lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi ﷺ, kemudian ia berkata, 

'Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam?' 

Rasulullah ﷺ menjawab, 'Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadan, serta haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya.' Dia berkata, 

'Kamu benar.' Umar berkata, 'Maka kami kaget terhadapnya karena dia menanyakannya dan membenarkannya.' Dia bertanya lagi, 

Kabarkanlah kepadaku tentang iman itu?' 

Beliau menjawab, 'Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.' Dia berkata, 'Kamu benar.' 

Dia bertanya, 'Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu?' 

Beliau menjawab, 'Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.' 

Dia bertanya lagi, 'Kapankah hari akhir itu?' 

Beliau menjawab, 'Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.' 

Dia bertanya, 'Lalu kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya?' 

Beliau menjawab, 'Apabila seorang budak melahirkan (anak) tuannya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, penggembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan.' Kemudian dia bertolak pergi. 

Maka aku tetap saja heran kemudian beliau berkata, 'Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa penanya tersebut?" Aku menjawab, 'Allah dan rasul-Nya lebih tahu.' Beliau bersabda, "Itulah Jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama kalian.' [HR. Muslim]

Syarah :

Hadits ini diambil darinya beberapa faedah:

1. Diantaranya : Bahwa diantara petunjuk nabi ﷺ adalah bermajelis dengan para sahabatnya dan petunjuk ini menunjukkan atas bagusnya akhlak nabi ﷺ,

2. Diantaranya : Bahwasanya sepantasnya bagi seorang insan harus memiliki pergaulan yang baik dengan orang-orang dan bermajelis dengan mereka serta tidak menyendiri dari mereka.

3. Dan diantara faedah dari hadits : Bahwa bergaul dengan orang-orang lebih utama (afdhal) daripada menyendiri selama insan tersebut tidak mengkhawatirkan akan agamanya, namun jika dia mengkhawatirkan akan agamanya maka menyendiri lebih utama, berdasarkan sabda nabi ﷺ:

« يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتَّبِعُ بِهَا شَغَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ » [رواه البخاري]

"Hampir-hampir (tiba masanya) harta seorang muslim adalah seekor kambing, ia giring ke puncak gunung dan tempat turunnya embun.." [HR. Bukhari]

4. Diantara faedah hadits ini : Bahwa malaikat -alaihimus shalatu was salam- memungkinkan untuk menampakkan diri dihadapan manusia dalam wujud manusia, karena Jibril -alaihis shalat was salam- muncul di hadapan para sahabat dalam bentuk yang disebutkan dalam hadits berupa lelaki yang sangat hitam rambutnya dan sangat putih bajunya, tidak terlihat jejak safarnya dan tidak ada satupun dari sahabat yang mengenalnya.

Baca lanjutan pembahasannya di 
Islam Iman Dan Ihsan - Hadits Arbain (2) - Bagian 2


At-Ta'liqat Ala Al-Arba'in An-Nawawiyyah karya Ibnu Utsaimin rahimahullah.

Sumber : Butiran Faedah



Kamis, 22 Juli 2021

Amalan yang Tertolak - Hadits Arbain (5)

Amalan yang Tertolak


Dari Ummil Mukminin Ummu Abdillah Aisyah - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا - berkata: telah bersabda rasulullah ﷺ:

" من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد " رواه البخاري ومسلم

"Barangsiapa mengada-ada dalam perkara kami ini apa yang bukan bagian darinya maka dia tertolak." HR. Bukhari dan Muslim,

Dalam riwayat Muslim:

" من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد "

" Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang bukan merupakan perkara kami maka dia tertolak."


Penjelasan Hadits

Hadits ini berkata ulama: Sesungguhnya dia adalah timbangan zhahir amalan-amalan dan hadits Umar yang ada di awal kitab: "Sesungguhnya amalan-amalan bergantung pada niat-niat" adalah timbangan batin amalan-amalan, karena amalan dia memiliki niat dan dia memiliki bentuk sehingga bentuk amalan itulah yang merupakan zhahir amalan dan niat adalah batin amalan.

Dan di dalam hadits ini ada beberapa faedah: bahwa barangsiapa yang mengada-ada dalam perkara ini - yaitu Islam - apa yang bukan bagian darinya maka dia tertolak atasnya sekalipun baik niatnya. Dan dibangun di atas kaidah ini bahwa semua kebid'ahan tertolak atas pelakunya sekalipun baik niatnya.

Dan termasuk faedah hadits ini: bahwa barangsiapa mengamalkan suatu amalan sekalipun asalnya disyariatkan akan tetapi amalannya bukan dalam bentuk yang telah diperintahkan dengannya maka amalan tersebut menjadi tertolak berdasarkan riwayat kedua dalam riwayat Muslim.

Berdasarkan ini maka barangsiapa menjual suatu jualan yang diharamkan maka jual belinya adalah batil, dan barangsiapa shalat sunnah tanpa ada sebab pada waktu terlarang maka shalatnya batil, dan barangsiapa berpuasa pada hari raya maka puasanya batil dan seterusnya, karena ini semuanya bukan berdasarkan perintah Allah dan rasul-Nya sehingga menjadi batil dan tertolak.

At-Ta'liqat Ala Al-Arba'in An-Nawawiyyah, karya Ibnu Utsaimin (hal. 6)

Sumber : Butiran Faedah


Amalan Bergantung Pada Niatnya - Hadits Arbain (1)




Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al-Khatthab - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ - berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

" إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه 

" Sesungguhnya amalan-amalan bergantung pada niat-niat, dan bagi setiap orang bergantung pada apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya kepada dunia yang akan dia dapatkan dan wanita yang akan dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya. " Muttafaqun 'Alaih.

Penjelasan :

Hadits ini merupakan dalil yang agung tentang amalan-amalan hati, karena niat-niat termasuk dari amalan-amalan hati, berkata ulama:

"Hadits ini adalah setengah ibadat, karena dia adalah mizan (timbangan) amalan-amalan batin sedangkan hadits Aisyah - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا - :

"Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini apa yang bukan bagian darinya maka dia tertolak."

Dan dalam lafazh lain:

"Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada padanya urusan kami maka dia tertolak"

Adalah setengah agama, karena dia adalah mizan amalan-amalan zhahir sehingga diambil faedah dari sabda nabi ﷺ :

"Sesungguhnya amalan-amalan bergantung pada niat-niat."

Bahwasanya tidaklah dari sebuah amalan melainkan dia memiliki niat, karena setiap insan yang berakal lagi bisa memilih tidak akan mungkin melakukan suatu amalan tanpa niat",

Sehingga sebagian ulama mengatakan:

"Kalau sekiranya Allah membebankan kepada kita suatu amalan tanpa niat tentulah itu merupakan pembebanan kepada apa yang tidak mungkin sanggup dikerjakan. "

Dan bercabang dari faedah ini:

▪️ Bantahan bagi orang-orang yang suka was-was yang mereka mengamalkan amalan-amalan dengan beberapa kali kemudian dikatakan oleh syaitan kepada mereka: "Sesungguhnya kalian belum berniat." Maka kami katakan kepada mereka: "Tidak, tidak mungkin selamanya kalian mengamalkan suatu amalan melainkan dengan niat maka ringankan beban ini atas diri kalian dan tinggalkan was-was ini."

▪️ Dan diantara faedah hadits ini: bahwa insan akan diberi pahala atau dosa atau diharamkan sesuai dengan niatnya berdasarkan sabda nabi ﷺ : " dan barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. "

▪️ Dan diambil faedah dari hadits ini juga: bahwa amalan-amalan sesuai dengan apa yang menjadi wasilah (media) baginya, karena terkadang sesuatu yang mubah pada hukum asalnya bisa menjadi sebuah ketaatan apabila seorang insan niatkan dengannya suatu kebaikan, seperti dia berniat dengan makan dan minumnya kebugaran untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, dan oleh karena ini Nabi ﷺ bersabda:

"Sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur ada keberkahan."

▪️ Dan termasuk faedah-faedah hadits ini: bahwasanya semestinya bagi seorang guru untuk membuat permisalan yang dapat menjelaskan dengannya sebuah hukum, dan Nabi ﷺ telah membuat untuk perkara ini sebuah permisalan (contoh) dengan hijrah, yaitu berpindah dari negeri kesyirikan menuju negeri Islam dan menjelaskan bahwa hijrah yaitu amalan yang satu bisa berdampak bagi seorang insan sebuah pahala dan bisa menjadi keharaman bagi insan, sehingga orang yang melakukan hijrah yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya ini yang akan diberi pahala, dan akan sampai kepada tujuannya.

▪️ Dan hadits ini masuk pada Bab Ibadah, pada Bab Mu'amalah, pada Bab Pernikahan dan pada setiap Bab Fikih. ¬

📕 At-Ta'liqat Ala Al-Arba'in An-Nawawiyyah, Ibnu Utsaimin (hal. 3 - 5) cet. Dar Al-Aqidah.

Sumber : Butiran Faedah

Selasa, 01 Juni 2021

Definisi dan Hukum Ibadah Qurban

Definisi Hukum Qurban



Udhiyah (Qurban)
adalah yang disembelih dari hewan ternak pada hari-hari Idul Adha dengan sebab hari raya, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Azza Wa Jalla.

Ini termasuk syiar islam yang disyariatkan berdasarkan kitab Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan kesepakatan kaum muslimin. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ


“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar : 2)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman :

  قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

“Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri." (Al-An'am : 162-163)

Yang dimaksud “nusuk” (diterjemahkan "ibadah" dalam ayat di atas) adalah sembelihan, sebagaimana yang dikatakan Said bin Jubair radhiallahu 'anhu.

Ada pula yang berkata: “Nusuk adalah seluruh jenis ibadah termasuk diantaranya sembelihan”, dan tafsiran ini lebih bersifat umum. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :


وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ


“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka sembahanmu ialah sembahan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh.” (Al-Hajj : 34)

Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata: 

“Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, berqurban dengan dua ekor kibas (domba) yang berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sambil menyebut nama Allah dan bertakbir serta meletakkan kaki beliau pada bagian sampingnya.”

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma  berkata : 

“Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tinggal di Madinah selama sepuluh tahun, beliau senantiasa berqurban.”

Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan berkata: “Hadits hasan.” 

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu 'anhu  bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membagi-bagi hewan qurban kepada para sahabatnya radhiallahu 'anhum. Maka ‘Uqbah mendapat bagian Jadz’ah dan ia pun bertanya, “Wahai Rasulullah, saya mendapatkan bagian jadz’ah,” Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, “Berqurbanlah dengannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang menyembelih setelah shalat, maka sungguh telah sempurna qurbannya dan sejalan dengan sunnah kaum muslimin.”

Maka, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berqurban dan para sahabatnya juga berqurban. Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberitakan bahwa berqurban merupakan sunnah kaum muslimin, yaitu jalan mereka. Oleh karenanya, kaum muslimin telah bersepakat tentang hukum disyariatkannya sebagaimana yang dinukil beberapa ulama.

Namun mereka berselisih, apakah hukumnya sunnah mu`akkadah ataukah wajib yang tidak boleh ditinggalkan?

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukumnya sunnah mu`akkadah dan ini merupakan madzhab Imam asy-Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur dari keduanya. Para ulama lain berpendapat bahwa hukumnya wajib. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Ahmad dan ini yang menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v dan beliau berkata, “Ini merupakan salah satu pendapat dalam madzhab Malik atau yang zhahir dari madzhab Malik.”

Menyembelih qurban lebih afdhal dari bersedekah dengan yang senilai dengannya, sebab hal itu merupakan amalan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan kaum muslimin yang bersamanya. Sebab menyembelih adalah bagian dari syiar Allah 'azza wa jalla, kalaulah manusia berpaling dari amalan ini dan menggantinya menjadi sedekah, maka akan menyebabkan terlantarnya syiar agama ini. Kalau seandainya bersedekah dengan senilai hewan qurban itu lebih utama dari menyembelih qurban, tentu Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menjelaskannya kepada umatnya baik melalui ucapan atau perbuatannya sebab tidak mungkin beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam meninggalkan untuk menjelaskan kebaikan kepada umatnya. 

Bahkan kalau seandainya bersedekah itu setara keutamaannya dengan berqurban, tentu beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam, telah menjelaskannya pula. Sebab, bersedekah itu lebih ringan jika dibandingkan dengan kesulitan berqurban dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak akan meninggalkan penjelasan yang lebih ringan bagi umatnya jika hukumnya setara dengan amalan yang lebih sulit.

Manusia telah mengalami masa kelaparan dimasa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa di antara kalian yang berqurban, maka jangan ia menyisakan dirumahnya sedikitpun setelah malam ketiga.” 

Tatkala pada tahun berikutnya, mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, Apakah kami tetap melakukan seperti yang kami lakukan ditahun yang lalu?” Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, “Makanlah, berilah makan kepada yang lain dan simpanlah. Tahun yang lalu manusia dalam keadaan sulit sehingga aku ingin kalian membantu mereka dalam memenuhi kebutuhannya.” Muttafaq ‘alaihi

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Menyembelih pada waktunya lebih utama daripada bersedekah dengan yang senilai dengannya.” Beliau juga berkata, “Oleh karenanya, jika seseorang bersedekah sebagai pengganti sembelihan pada haji tamattu’ dan qiran dengan harga yang berkali-kali lipat banyaknya, tidak akan sebanding dengan nilai menyembelih,maka demikian pula berqurban.” Selesai ucapan Beliau.

Talkhis Kitab Ahkam Al-Udhiyah wa Adz-Dzakah Karya Syaikh Utsaimin rahimahullah
Diterjemahkan oleh : Ustadz Abu Mu'awiyah Askary hafizhahullah

Senin, 03 Mei 2021

Hukum Zakat Fitrah dengan Uang



Alhasil bahwa membayar jenis barang yang telah diwajibkan dalam zakat fitrah, atau zakat mal adalah apa yang telah ditetapkan (dalam syariat), dan jika tidak memungkinkan maka boleh dengan nilainya (yakni dengan uang, pent).

Berdasarkan firman Allah ta'ala:

: {لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا} الآية

"Allah tidak akan membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya" Al-Ayat (¹).

Dan firman-Nya:

 {فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ} الآية

"Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian" Al-Ayat (²).

Dan sabda nabi ﷺ:

"إذا أمرتكم بشيء، فائتوا منه ما استطعتم ... " الحديث متفق عليه. 

"Apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu, maka tunaikanlah darinya semampu kalian..."__ Alhadits Muttafaq Alaihi.

Wallahu ta'ala a'lam bisshawab, dan hanya Dialah cukup bagi kita, dan Dialah sebaik-baik penolong. |«

As-Syaikh Muhammad Adam Al-Ityubi - حَفِظَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ -.

Dzakhiratul Uqba (22/300).

(¹). Qs. Al-Baqarah: 286, pent.

(²). Qs. At-Thaghabun: 16, pent.

Channel Telegram Butiran Faedah

=========================

Tambahan sebagai penjelas :
Syaikh menjelaskan tentang bolehnya zakat fitrah dengan uang dengan syarat jika memang kondisinya tidak memungkinkan untuk mengeluarkannya dengan makanan pokok setempat. Adapun kondisi kita saat ini, secara umum sangat memungkinkan untuk menunaikan zakat fitrah dengan beras. Sehingga kembali ke hukum asal sebagaimana yang Syaikh sebutkan bahwa zakat fitrah ataupun zakat mal, masing-masing ditunaikan sesuai jenis yang telah ditetapkan syari'at. Wallahu a'lam

Minggu, 02 Mei 2021

Zakat Fitrah Bayi yang Belum Lahir


Zakat Fitrah Bayi yang Belum Lahir


Pertanyaan pertama dari Fatwa no. (1474).

Pertanyaan:

Apakah bayi yang masih berada di dalam perut ibunya dibayarkan zakat fitrah darinya atau tidak?

Jawaban:

Dianjurkan mengeluarkannya dari jabang bayi tersebut berdasarkan perbuatan Utsman - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ - namun tidak wajib atasnya dikarenakan tidak adanya dalil atas yang demikian.

Wa billahittaufiq, dan shalawat Allah atas nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta keselamatan atas mereka.

Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wa Al-Ifta


===================================================


Dianjurkan mengeluarkan zakat fitrah dari wanita hamil atau janin yang masih berada di dalam perut ibunya.

Berkata Al-Allamah Ibnul Qasim Al-Hanbali - رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ - di dalam kitabnya "Hasyiyah Ar-Rawdh Al-Murabba'" (3/277), tentang dianjurkan mengeluarkan zakat fitrah dari wanita hamil:

<<واتفق عليه الأئمة الأربعة، وغيرهم>>.اهـ

"Dan para imam yang empat serta selain mereka telah sepakat tentang hal itu." Selesai

Dan telah shahih dari murid sahabatnya Abi Qilabah - رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ -  bahwa beliau mengatakan:

(( كان يُعجبهم أنْ يُعطوا زكاة الفطر عن الصغير والكبير حتى على الحَبَل في بطن أمه )).

"Adalah mengagumkan mereka pemberian zakat fitrah mereka dari anak kecil dan orang dewasa sampai-sampai atas wanita hamil (janin) yang masih di dalam perut ibunya."

Akan tetapi tidak wajib.

Dimana imam Ibnul Mundzir - رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ - mengatakan di dalam kitabnya "Al-Isyraf" (3/72-73):

<<كل مَن يُحفظ عن مِن علماء الأمصار لا يُوجِب على الرجل إخراج زكاة الفطر عن الجنين في بطن أمه>>.اهـ

"Setiap orang yang dijaga (riwayatnya) dari para ulama negeri (menyatakan) tidak wajib atas seorang lelaki untuk mengeluarkan zakat fitrah dari janin yang berada di perut ibunya." Selesai |«

Ditulis oleh: Abdul Qodir Al-Junaed.

Hukum Zakat Fitrah


Sedekah fitrah (Zakat Fitrah) adalah wajib, dan sebagian meriwayatkan tentang ijma' (kesepakatan ulama) atas wajibnya sedekah fitrah. Dan hanya diwajibkan bagi orang yang memiliki satu sha' dari bahan makanan yang lebih dari kebutuhannya dan kebutuhan orang-orang yang wajib ia beri nafkah pada hari raya dan malamnya. Dalil atas wajibnya sedekah fitrah apa yang telah benar di dalam kedua kitab shahih dari hadits Ibnu Umar - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا - bahwa beliau berkata:

"Rasulullah ﷺ telah mewajibkan zakat fitrah satu sha' dari kurma atau satu sha' dari gandum atas orang yang merdeka maupun budak, lelaki maupun perempuan, anak kecil maupun orangtua dari muslimin dan memerintahkan untuk menunaikan sebelum keluarnya manusia menuju shalat. "

Ucapan beliau: "mewajibkan" merupakan dalil atas wajibnya karena kata fardhu maknanya adalah wajib dan harus.

Sedekah fitrah ditunaikan dalam bentuk bahan pokok makanan negeri, baik dari jenis yang disebutkan dalam hadits maupun dari selainnya apabila bahan pokok makanan penduduk negeri selain dari jenis-jenis ini menurut penelitian Ibnul Qayyim - رَحِمَهُ اللّٰهُ -.

Dan tidak boleh mengeluarkannya berupa uang atau pakaian atau semisal itu. Barangsiapa yang benar-benar fakir maka dia akan bisa memanfaatkan bahan makanan tersebut dan pastinya demikian.

Sebab tidak dibolehkannya selain makanan, bahwa Nabi ﷺ mewajibkannya dari bahan makanan maka tidak boleh meninggalkan sunnahnya karena ucapan seseorang. Berkata Al-Imam Ahmad: "Tidak boleh memberikan dengan nilainya (ditunaikan dengan uang). Maka ditanyakan kepada beliau: "Suatu kaum mengatakan: bahwa Umar bin Abdil Aziz dahulu mengambil nilainya?"

Beliau menjawab: "Mereka meninggalkan sabda rasulullah ﷺ dan mengatakan telah berkata fulan, dan telah berkata Ibnu Umar: Rasulullah ﷺ telah mewajibkan zakat fitrah satu sha' dari bahan makanan. Al-Hadits.

Dan apabila seorang muslim di suatu negeri dipaksa untuk mengeluarkan zakat fitrah dengan uang, maka mereka menunaikan berupa uang, kemudian dia mengeluarkan lagi zakatnya secara sembunyi-sembunyi dari bahan makanan, dan tidak boleh baginya untuk menampakkan penentangan terhadap penguasa dengan menyelisihinya sebagai bentuk mencegah fitnah. Dijelaskan yang demikian oleh As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin - رَحِمَهُ اللّٰهُ -.

Dan waktu kewajibannya yaitu terbenamnya matahari di malam terakhir bulan ramadhan. Sehingga barangsiapa memilik anak yang lahirnya sebelum terbenamnya matahari, maka dikeluarkan zakat dari bayi tersebut. Demikian pula apabila seorang kafir masuk Islam sebelum terbenamnya matahari maka dikeluarkan dari dirinya zakat. Adapun jika dia masuk Islam setelah terbenam matahari atau anak yang dilahirkan setelah terbenam atau seorang muslim meninggal sebelum terbenam maka tidak wajib bagi mereka karena mereka belum mendapatkan waktu kewajibannya.

Zakat fitrah ditunaikan sebelum keluar untuk shalat ied berdasarkan hadits Ibnu Umar "Beliau memerintahkan untuk mengeluarkan zakat sebelum keluarnya manusia menuju shalat."

Dan tidak mengapa untuk menunaikan sebelum hari raya satu hari atau dua hari atau tiga hari (sebelumnya) sebagaimana hal itu ditunjukkan hadits Abu Hurairah - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ - ketika beliau menjaga baitul mal, datang syaitan dalam wujud seorang tua yang fakir karena itu berlangsung dalam tiga malam maka ini menunjukkan bahwa Rasul ﷺ beliau mengumpulkan sedekah fitrah sebelum hari raya satu hari atau dua hari atau tiga hari. Adapun mengeluarkannya di awal bulan atau pertengahan atau sebelum tiga hari dari hari raya maka ini menyelisihi syariat dan barangsiapa yang melakukan itu maka dia harus mengeluarkannya sekali lagi di waktunya yang disyariatkan. 

Sumber artikel:

Channel Fawaid Ilmiah As-Syaikh Ali bin Yahya Al-Haddadi 

Diterjemahkan oleh Ustadz Sholehuddin di Channel Telegram Butiran Faedah
dengan sedikit kami edit tanpa merubah makna, insya Allah.





Sabtu, 01 Mei 2021

Kesalahan yang Berkaitan dengan Zakat Fitrah





Oleh Asy Syaikh Al Allamah Abu Abdil Mu'izz Muhammad Ali Farkus hafizhahullah

Yang Pertama :  mengeluarkan harta sebagai shadaqah bagi orang miskin dengan tanpa niat zakat fitrah yang diwajibkan. Dan ini merupakan kesalahan dikarenakan zakat tidaklah sah kecuali dengan niatnya berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

"إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى".

"Sesungguhnya amalan-amalan dinilai dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan".

Oleh karena inilah wajib atas orang yang menyerahkan zakat fitrah untuk meniatkan zakat yang wajib baginya dan hendaknya ia mengharap wajah Allah Ta'ala; sebab ikhlas merupakan syarat diterimanya segala ibadah berdasarkan firman Allah Ta'ala :

"وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين".

"Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untukNya".


Yang kedua : melafazhkan niat zakat dan menyebutkan (nama-nama) orang-orang miskin. Dan ini kesalahan, dikarenakan tidak ada dalam syariat perbuatan melafazhkan niat, dikarenakan niat tempatnya di hati yakni berada di hati orang yang mengeluarkan zakat dimana ia bermaksud dengannya ibadah yang disyariatkan ini dengan tanpa melafazhkannya atau menyebutkan nama-nama pihak yang menerima zakat, dan perlu diketahui bahwa tidak datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau melakukannya atau memerintahkannya, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dan sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

"وإياكم ومحدثات الأمور؛ فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة". 

"Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama dikarenakan setiap perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat".

Yang ketiga : orang yang mengeluarkan zakat meletakkan tangannya di atas zakatnya lalu membaca Al Fatihah atau selainnya dari Al Quran ketika ingin mengeluarkan zakat tersebut; maka ini merupakan kebid'ahan yang diada-adakan, tidak ada dasarnya dalam syariat yang suci; sebab tidak datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan dari shahabatnya yang mulia bahwasanya mereka membaca Al Fatihah atau Al Quran atas zakat ketika dikeluarkan atau sebelumnya atau sesudahnya, dan sungguh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

"من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد". وفي لفظ : "من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد".

"Barangsiapa yang mengada-ngadakan dalam agama kami sesuatu yang bukan termasuk darinya maka ia tertolak", dan dalam lafazh yang lain : "Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasar dalam agama kami maka amalan tersebut tertolak".


Yang keempat : meyakini bahwa zakat fitrah merupakan amalan sunnah yang dilakukan oleh orang kaya terhadap orang faqir untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya, sehingga ia tidak meminta-minta di hari ied, sehingga orang kaya merasa berjasa terhadap orang yang ia beri, dan sebaliknya orang faqir merasa rendah dihadapan orang yang memberi. Dan keyakinan ini salah; dikarenakan zakat fitrah merupakan hak yang diwajibkan secara syariat, dan ia merupakan shadaqah harta atas badan dan jiwa yang ditentukan ukurannya dan diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak disebabkan seseorang selesai dari berpuasa di bulan Ramadhan.

Yang kelima : meyakini bahwasanya waktu kewajiban menunaikan zakat fitrah adalah waktu yang luas dan tidak ditentukan dimana hal ini mendorong seseorang untuk berpendapat bolehnya menyegerakannya setahun atau dua tahun sebelumnya dan berpendapat bolehnya untuk mengakhirkannya hingga hari apapun setelah hari ied dengan tanpa adanya hukuman dan hal ini juga mendorong seseorang untuk menunda-nunda dari menunaikannya sebelum shalat ied bahkan ia mengakhirkannya dengan alasan luasnya waktu kewajiban untuk mengeluarkannya dan tidak ditentukan. Dan ini merupakan kesalahan dikarenakan waktu penunaian zakat fitrah ditentukan sebelum shalat ied berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma :

"....فمن أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة، ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات".

"...Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (ied) maka ia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat (ied) maka ia shadaqah dari shadaqah-shadaqah".

Dan berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu anhuma ia berkata : 

"....وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة".

"...Dan Rasulullah memerintahkan untuk menunaikan zakat fitrah sebelum manusia keluar menuju shalat (ied)". Dan inilah waktu yang paling utama baginya dan sah diterima oleh pihak yang diserahi tanggung-jawab untuk membagikannya sehari atau dua hari sebelum hari ied berdasarkan tindakan Ibnu Umar radhiallahu anhuma.

Yang keenam : seorang yang mukallaf (muslim dan baligh) tidak mencari orang-orang yang berhak menerima zakat fitrah sehingga ia memberikannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya, hal ini disebabkan rasa malas untuk mencari orang-orang yang berhak dari kalangan fuqara dan orang-orang miskin; maka bisa jadi ia mengeluarkan zakat fitrahnya kepada orang-orang tertentu yang biasa ia berikan zakat kepadanya disebabkan karena hubungan nasab atau hubungan kekerabatan atau hubungan pertemanan atau hubungan tetangga atau karena ia pegawai yang bekerja di sisinya atau selain itu dari sebab-sebab yang ada, walaupun pihak yang diberi zakat fitrah adalah orang kaya lagi berkecukupan. Dan ini adalah kesalahan; dikarenakan zakat adalah hak dari hak-hak Allah dimana tidak boleh pilih kasih namun wajib untuk ditekankan tentang siapa yang berhak menerimanya.

Dan bisa jadi ia memberikan zakat fitrahnya kepada selain fuqara dan orang-orang miskin dari delapan golongan yang berhak menerima zakat harta. Dan ini adalah kesalahan; dikarenakan zakat fitrah berkaitan dengan badan dan jiwa tidak berkaitan dengan harta; maka tidak sah untuk dikeluarkan melainkan kepada fuqara dan orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma :

"فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث، وطعمة للمساكين".

"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin", maka pendalilan hadits ini jelas menunjukkan bahwa zakat fitrah khusus diperuntukkan bagi fuqara dan orang-orang miskin tanpa selainnya.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

"ولا يجوز دفع زكاة الفطر إلا لمن يستحق الكفارة، وهو من يأخذ لحاجته، لا في الرقاب والمؤلفة قلوبهم وغير ذلك".

"Tidak diperbolehkan menyerahkan zakat fitrah kecuali kepada orang yang berhak menerima kaffarah yaitu orang yang mengambil karena ia butuh bukan kepada budak dan orang yang dilembutkan hatinya dan selain itu".


Yang ketujuh :  meyakini wajibnya zakat fitrah atas janin dan ini merupakan pendapat Ibnu Hazm rahimahullah yaitu apabila janin di perut ibunya telah sempurna berumur 120 hari sebelum nampaknya fajar dari malam iedul fitri dimana pada waktu tersebut ruh ditiupkan kepadanya, dan sebagai pengamalan terhadap apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hazm rahimahullah dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu bahwa beliau memberikan/mengeluarkan zakat fitrahnya anak kecil, orang tua dan janin. Dan ini merupakan kesalahan dikarenakan tidak ada dalil yang mengharuskan zakat fitrah atas janin, dan Ibnul Mundzir rahimahullah menukilkan kesepakatan ulama bahwa tidak ada kewajiban zakat bagi janin di perut ibunya.

Adapun perbuatan Utsman radhiallahu anhu jika shahih (atsar tersebut) maka hanyalah menunjukkan hal itu hukumnya mustahab (sunnah) dan tidak lebih dari itu; dikarenakan hal itu dianggap shadaqah yang dikeluarkan dari pihak yang tidak diwajibkan sehingga hukumnya sunnah seperti shadaqah-shadaqah sunnah yang lain, dan dikarenakan janin tidaklah mendapatkan hukum-hukum dunia melainkan dalam hal warisan dan wasiat dengan syarat janin tersebut keluar dari perut ibunya dalam keadaan hidup.

Yang kedelapan :  meyakini bahwa zakat fitrah tidaklah wajib kecuali bagi yang memiliki harta mencapai nishab. Dan ini adalah kesalahan dikarenakan cukup sebagai syarat wajibnya zakat fitrah adalah islam dan ukuran zakat fitrah tersebut melebihi makanan pokok orang yang mengeluarkannya dan makanan pokok orang yang ia tanggung nafkahnya di hari ied dan malam ied atau zakat fitrah tersebut melebihi kebutuhan-kebutuhan pokok dia.

https://ferkous.com/home/?q=art-mois-109

Diterjemahkan oleh Channel Telegram Dinul Qoyyim

Jumat, 30 April 2021

Apakah Lailatul Qadar Hanya Malam Ganjil

Kapan Malam Lailatul Qadar



Apakah Lailatul Qadar Terjadi Hanya Pada Malam-Malam Ganjil dan Tidak Pada Malam-Malam Genap

Jawab : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa Lailatul Qadr terkadang terjadi pada malam genap, sebagaimana terkadang terjadi juga pada malam ganjil. Beliau rahimahullah berkata:

Lailatul Qadr terjadi pada 10 terakhir bulan Ramadhan, demikianlah yang shahih dari Nabi ﷺ beliau bersabda:

"Lailatul Qadr itu pada 10 terakhir Ramadhan", dan terjadi pada malam-malam ganjil".

Akan tetapi perhitungan ganjil jika tinjauannya adalah hari yang telah dilalui, maka bisa dicari pada malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29. Namun jika tinjauannya adalah hari yang tersisa, sebagaimana sabda Nabiﷺ :

"Maka carilah pada 9 yang tersisa, 7 yang tersisa, 5 yang tersisa, 3 yang tersisa"

Maka berdasarkan hadits ini, apabila bulan berumur 30 hari, maka Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam yang genap, sehingga bisa terjadi pada malam ke-22, yang itu merupakan 9 yang tersisa, dan malam ke-24 yang itu merupakan 7 hari yang tersisa. Demikian pula yang ditafsirkan oleh Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu'anhu dalam sebuah hadits yang shahih. Dan seperti ini pula Nabi ﷺ menegakkan malam-malam tersebut dalam sebulan. Namun apabila bulan berumur 29 hari, maka penanggalan (dengan tinjauan) hari yang tersisa sama dengan penanggalan (dengan tinjauan) hari yang telah berlalu (yakni sama-sama pada malam ganjil).

Jika demikian, maka hendaknya seorang mukmin itu mencarinya pada 10 terakhir Ramadhan semuanya (baik malam ganjil maupun malam genap), sebagaimana sabda Nabi ﷺ : "Carilah pada 10 terakhir".

Dan terjadinya Lailatul Qadr pada 7 terakhir lebih banyak (kemungkinannya) dan paling besar kemungkinannya adalah tarjadi pada malam ke-27, sebagaimana Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu telah bersumpah bahwa Lailatul Qadr itu pada malam ke-27. Beliau ditanya, 'dengan apa engkau tahu itu?" Beliau menjawab, "Berdasarkan tanda-tanda yang telah diberitakan kepada kami oleh Rasulullah ﷺ. "Nabi ﷺ memberitakan kepada kami bahwa matahari pada pagi harinya terbit seperti bejana tidak ada sinar silaunya."

Tanda yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka'b radhiyallahu'anhu dari Nabi ﷺ merupakan di antara alamat yang paling terkenal dalam hadits. Diriwayatkan pula bahwa di antara tandanya "Malam yang tenang bercahaya". Malam yang tenang, tidak terlalu panas tidak pula terlalu dingin. Bisa jadi Allah ﷻ tunjukkan pada sebagaian manusia dalam mimpi atau ketika jaga. Dia bisa melihat cahayanya, atau melihat orang yang mengatakan kepadanya. Bisa jadi Allah ﷻ bukakan pada hatinya persaksian, yang dengannya menjadi jelaslah hal tersebut, Wallaahu A'lam.

Majmu' Fatawa 25/284-286

Majmu'ah Salafy Sulbar
Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina

Puasa Tapi Tidak Shalat




Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan : "Di sana ada orang yang berpuasa dan mengerjakan berbagai ibadah namun tidak mau menegakkan shalat, maka apakah puasa dan ibadahnya dapat diterima ?

Jawaban : Bismillahi walhamdulillah yang benar, orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah dikafirkan dengan kekufuran yang besar (mengeluarkannya dari bingkai keislaman) karena perbuatannya tersebut. Oleh karena itu tidaklah sah amalan puasanya dan tidak pula amalan ibadah lainnya hingga ia bertaubat kepada Allah ﷻ. Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ :

ولو أشركوا لحبط عنهم ما كانوا يعملون

"Dan seandainya mereka berbuat syirik, niscaya akan gugur apa yang telah mereka kerjakan."

Serta ayat-ayat maupun hadits-hadits yang semakna dengannya. Sebagian ‘ulama memandang bahwa ia tidak dikafirkan dengan kekufuran yang besar karena sebab itu, puasanya tidak batal, dan ibadahnya pun tidak gugur. Tentu selagi ia masih mengakui kewajibannya, hanya saja ia meninggalkannya karena menggampangkan maupun bermalas-malasan.

Dan yang benar adalah pendapat pertama bahwa ia dikafirkan karena meninggalkannya dengan kekufuran yang besar, bila secara sengaja meninggalkannya meskipun  ia mengakui kewajibannya. Hal ini berdasarkan dalil-dalil yang banyak.

Diantaranya adalah sabda Nabi ﷺ :

بين الرجل وبين الكفر و الشرك ترك الصلاة

"Antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat."

Imam Muslim meriwayatkan hadits ini di dalam shahihnya dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma. 

Dan berdasarkan sabda Nabi ﷺ :

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر

"Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir."

Imam Ahmad dan penulis kitab sunan yang empat meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih dari hadits Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami radhiyallahu ‘anhu.

‘Al-‘allamah Ibnul Qayim rahimahullah menguraikan panjang lebar pendapat tentang masalah tersebut dalam sebuah risalah tersendiri, di dalam “Ahkamush Shalati wa Tarkiha” (hukum-hukum shalat dan meninggalkannya). Sebuah risalah penuh manfaat, baik untuk mengulanginya, dan mengambil faedah darinya."

Sumber http://www.binbaz.org.sa/fatawa/424

Majum'ah Salafy Sulbar
Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina

Hal yang Boleh Dilakukan Orang yang Berpuasa

Puasa Boleh Melakukan ini



1. Sikat Gigi/ Bersiwak

Rasulullah ﷺ bersabda :

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

"Jika aku tidak memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak pada setiap sholat."  (Muttafaq 'alaih)

Al-Imam al-Bukhari menjelaskan:

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي للأمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ وَيُرْوَى نَحْوُهُ عَنْ جَابِرٍ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ وَلَمْ يَخُصَّ الصَّائِمَ مِنْ غَيْرِهِ

"Abu Hurairah berkata, dari Nabi ﷺ : "Jika aku tidak memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap berwudhu". Dan diriwayatkan yang semisal dengan itu dari Jabir dan Zaid bin Kholid dari Nabi ﷺ dan tidak mengkhususkan puasa dari yang lain" (Shahih al-Bukhari (7/18))

Adapun menggunakan sikat gigi dan pasta gigi tidak mengapa pada saat berpuasa. Namun hendaknya berhati-hati agar tidak ada percikan air yang masuk menuju kerongkongan. Jika sikat gigi dengan pasta gigi hanya dilakukan pada saat selesai sahur sebelum Subuh dan setelah berbuka di waktu Maghrib, maka itu lebih baik.


2. Berkumur-Kumur dan Memasukkan Air ke Dalam Hidung Asal Tidak Berlebihan

Karena disyariatkan berkumur-kumur (al-madhmadhah) dalam berwudhu’ menunjukkan bolehnya,  Sebagian orang pada saat berpuasa, tidak berkumur-kumur pada waktu berwudhu’ karena khawatir batal puasanya. Ini adalah sebuah kesalahan. Berkumur-kumur dalam berwudhu’ adalah perintah Nabi ﷺ :

إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ

"Jika engkau berwudhu’, berkumur-kumurlah." (HR. Abu Dawud)

Demikian juga memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq) dan mengeluarkannya dari hidung (istintsar) saat berwudhu’ tidaklah membatalkan puasa, bahkan harus dilakukan pada saat berwudhu’. Baik di saat puasa atau di saat tidak berpuasa.

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنْ الْمَاءِ ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ

"Jika salah seorang dari kalian berwudhu’, maka hiruplah air dengan dua rongga hidungnya kemudian keluarkan." (HR. Muslim no. 349)

Juga dalam hadits yang lain :

وبَالِغْ في الاِستنشَاقِ إلاَّ أنْ تكونَ صَائِمًا .

"Dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam ber-ustinsyaq (memasukkan air kedalam hidung ketika berwudhu) kecuali bila kalian berpuasa." (HR.  Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasai disahihkan oleh al-Albani).


3. Mandi/ Mengguyurkan Air di Atas Kepala dan Berenang

Sebagaimana Nabi ﷺ pernah mengguyurkan air di atas kepala beliau pada saat berpuasa di waktu terik matahari yang sangat panas.

عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رُئِيَ بِالْعَرْجِ وَهُوَ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنْ الْحَرِّ أَوْ الْعَطَشِ

"Dari sebagian Sahabat Nabi ﷺ bahwa Nabi ﷺ dilihat di al-‘Arj (nama suatu tempat) menuangkan air pada kepala beliau dalam keadaan berpuasa, karena panas atau haus." (HR. Abu Dawud, Ahmad, lafadz sesuai riwayat Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani). 


4. Kesiangan dalam Keadaan Junub

Berdasarkan hadits Aisyah dan Ummu Salamah rafiyallahu'anhuma riwayat Bukhari dan Muslim :

أنَّ النَّبي ﷺ كَان يُدرِكُهُ الفَجرُ وهو جُنبٌ مِن أهلِه ثُمَّ يغْتسِلُ ويصُوم

"Sesungguhnya Rasulullah ﷺ kadang shubuh mendapatinya (yakni beliau memasuki shubuh), padahal beliau sedang junub (setelah bercampur) dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa."

Tidak ada perbedaan apakah junub akibat Jima' (berhubungan suami istri) atau mimpi basah.Demikian pula kesiangan dalam keadaan telah suci dari haidh dan nifas sebelum shubuh diperbolehkan untuk berpuasa.


5. Memeluk dan Mencium Istri Karena Kasih Sayang Bukan Syahwat

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ

"Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Rasulullah ﷺ mencium dalam keadaan berpuasa, beliau memeluk dalam keadaan berpuasa. Akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menjaga nafsu." (HR. Bukhari dan Muslim) 


6. Tukang Masak Mencicipi Masakan Karena Kebutuhan dan Tidak Menelannya dan Mencium Bau-Bauan

Sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :

لاَ بَأْسَ أَنْ يَذُوقَ الْخَلَّ ، أَوِ الشَّيْءَ مَا لَمْ يَدْخُلْ حَلْقَهُ وَهُوَ صَائِمٌ

"Tidak mengapa mencicipi cuka atau sesuatu selama tidak masuk ke dalam tenggorokan pada saat berpuasa." (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya no. 9369 (3/47)). 


7. Bersuntik dengan sesuatu yang Tidak Bermakna Makanan dan Minuman, Tes Darah atau Ada Anggota Tubuh yang Terluka

Boleh bersuntik cairan apa saja yang tidak bermakna makanan dan minuman,juga apabila ada anggota tubuh yang terluka dan mengeluarkan darah, hal itu tidaklah membatalkan puasa. Seperti juga tes darah yang mengambil sedikit sample darah, tidaklah membatalkan puasa. Sekedar keluarnya darah bukanlah pembatal puasa. Hanya saja jika darah keluar cukup banyak dan membuat lemah keadaan seseorang, akan menyulitkan keadaannya dalam berpuasa.


8. Menggunakan Celak Mata dan Tetes Mata

Celak mata yang digunakan pada saat berpuasa tidaklah membatalkan puasa. Ini adalah pendapat dari al-Imam Abu Hanifah dan al-Imam asy-Syafi’i.Nabi juga memerintahkan memakai celak pada para Sahabatnya secara umum tanpa membedakan di dalam atau di luar Ramadhan.

Sama juga dengan penggunaan tetes mata yang bisa berakibat adanya bagian yang masuk ke tenggorokan. Namun bagian yang masuk ke tenggorokan itu adalah sangat sedikit dan dimaafkan, seperti juga tersisanya air pada saat berkumur.

Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin. 


9. Obat yang Dimasukkan Melalui Dubur

Jika seseorang sedang berpuasa, kemudian menggunakan obat yang dimasukkan lewat dubur, hal itu tidaklah membatalkan puasa. Karena hal itu bukanlah makan minum atau yang semakna makan dan minum. Ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin dalam salah satu fatwanya.

Sumber Bacaan Kitab Manhajus Salikin wa Taudhih al-Fiqhi fid-Din Kitab as-Shiyam oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'dy rahimahullah

Ma'had Ibnu Abbas Barakkang Mamuju Tengah Sul-Bar.

Akhukum al-Faqir Ilallahi Ta'ala Abu Mujahid al-Indunisy_


Majmu'ah Salafy Sulbar

Channel Telegram Alhaqqu Ahabbu Ilaina