Kamis, 26 November 2020

Bolehkah Mencuri Untuk Menolong Orang Lain

Mencuri Untuk Menolong

Pertanyaan :

Assalamualaikum Ustadz, ana ada pertanyaan apa boleh mencuri barang milik orang lain, atau memakai barang milik orang lain tanpa keridhoannya, dalam rangka menolong orang yang kesusahan? 

Barakallahufiik

Dijawab oleh Ustadz Sholehuddin hafizahullah :

Wa'alaikumsalam warahmatullah

Tidak boleh mencampuradukkan amalan kebaikan dengan kejelekan, berdasarkan firman-Nya :


(وَءَاخَرُونَ ٱعۡتَرَفُوا۟ بِذُنُوبِهِمۡ خَلَطُوا۟ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَءَاخَرَ سَیِّئًا عَسَى ٱللَّهُ أَن یَتُوبَ عَلَیۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورࣱ رَّحِیمٌ) [سورة التوبة 102

"Dan (ada pula) orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan amalan yang baik dengan amalan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." QS. At-Taubah : 102

Dan suatu amalan tidaklah dikatakan amalan shaleh kecuali memenuhi dua syarat :

1. Ikhlas dalam beramal

2. Sesuai dengan tuntutan syariat.

Dan syariat tidak membenarkan perbuatan mencuri atau mengambil harta orang lain dengan kebatilan, sebagaimana difirmankan :

(وَلَا تَأۡكُلُوۤا۟ أَمۡوَ ٰ⁠لَكُم بَیۡنَكُم بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتُدۡلُوا۟ بِهَاۤ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُوا۟ فَرِیقࣰا مِّنۡ أَمۡوَ ٰ⁠لِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ) [سورة البقرة 188

"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." QS. Al-Baqarah : 188

Dan dalam hadits :

 عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَأْخُذَ عَصَا أَخِيهِ بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسِهِ وَذَلِكَ لِشِدَّةِ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَالِ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ. رواه أحمد في المسند رقم(٢٢٥٠٠)

Dari Abu Humaid As-Sa'idi bahwa Nabi ﷺ bersabda : 

"Tidak halal bagi seseorang mengambil tongkat saudaranya tanpa kerelaan dari dirinya karena Rasulullah ﷺ sangat mengharamkan harta seorang muslim atas muslim lain." 

HR. Ahmad di dalam Al-Musnad no. (22500).

Sehingga tidak boleh berbuat dosa demi untuk bisa berbuat baik karena kaidah agama ini mengajarkan :

لا ضرر ولا ضرار

"Tidak boleh membahayakan (orang lain) dan tidak boleh membalas bahaya dengan berbuat bahaya." (Dari hadits Ibnu Abbas, riwayat Ahmad dalam Musnad-nya)

Sehingga para ulama membuat kaidah dalam hal ini dengan mengatakan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

"Mencegah kerusakan didahulukan dari mengambil kemanfaatan."

Mengambil hak orang lain adalah kerusakan, sedangkan menolong orang lain adalah kemaslahatan, maka dahulukan tercegahnya kerusakan dari mengambil kemanfaatan.

Oleh karenanya sahabat Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu ketika sahabat Abu Musa Al-Asy'ari menceritakan akan adanya sekelompok orang yang membuat halaqah (kumpulan) untuk berdzikir dengan apa yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ, sekalipun mereka beralasan untuk kebaikan :

قالوا والله يا أبا عبد الرحمن ما أردنا إلا الخير

"Mereka katakan: wahai Aba Abdurrahman (yakni Ibnu Mas'ud, pent) tidaklah yang kami inginkan kecuali kebaikan!

قال وكم من مريد للخير لن يصيبه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثنا أن قوما يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم وأيم الله لا أدري لعل أكثرهم منكم.

Beliau jawab : dan berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya. Bahwa Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kami bahwa ada suatu kaum yang  mereka membaca Al-Quran namun tidak melewati kerongkongan mereka dan demi Allah saya tidak tahu barangkali yang paling banyak dari mereka adalah dari kalangan kalian."

Lihat, betapa mereka beralasan dengan kebaikan namun mereka tidak mendapatkannya karena apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan apa yang telah ditunjukkan oleh Nabi ﷺ. Wallahu a'lam.

(dari grup Whatsapp Para Pecinta Sunnah dengan sedikit perubahan)

Sumber : Channel Telegram At-Tawakkal

Previous Post
Next Post
Related Posts

0 komentar: