Selasa, 08 Januari 2019

Kapan Ucapan “Ash Shalaatu Khoirum Minan Naum”




Pertanyaan :

Bismillah.
Afwan ustadz, mau tanya tentang adzan subuh. Untuk lafadz "ash-shalaatu khoirum minan naum" ada di adzan pertama atau yang kedua? Mohon penjelasannya ustadz.
Jazakallahu khairan.


Dijawab oleh : Ustadz Saeed Albandunjie Abu Yaman As-Salafy hafidzhahullah

Telah terjadi perbedaan pendapat (ikhtilaf) tentang lafazh ini, terutama pada ulama zaman kita.

Syeikh bin Baaz dan Lajnah ad-Da'imah serta as-Syeikh Ibn Utsaimin berpendapat bahwa lafazh "ash-shalaatu khoirum minan naum" itu ada pada adzan yang kedua. Sementara as-Syeikh Al-Albani dan syeikh kami Muqbil Al-Wadi'i (seperti prakteknya di Daarul Hadits Dammaaj) berpendapat lafazh tersebut ada pada adzan pertama di fajar kadzib, yang belum masuk padanya waktu sholat Fajr.


Yang rojih adalah ucapan yang kedua, yaitu pendapat dari as-Syeikh Al-Albani dan syeikh kami Muqbil Al-Wadi'i bahwa lafazh itu ada di adzan pertama. Sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dan An-Nasai yang derajatnya shahih :

عن أبي محذورة رضي الله عنه قال : كنت أؤذن لرسول الله صلى الله عليه وسلم , وكنت أقول في أذان الفجر الأول : " حي على الفلاح ، الصلاة خير من النوم ، الصلاة خير من النوم ، الله أكبر الله أكبر ، لا إله إلا الله ". 

Dari Abu Mahdzuroh radhiallahu 'anhu berkata, "Dulu aku adzan untuk Nabi ﷺ dan dulu aku membaca di adzan Fajr yang awal, 'Hayya alal falah' (kemudian membaca) ash-shalaatu khoirum minan naum 2× kemudian Allohu Akbar 2× kemudian laa ilaha illalloh'"

Telah datang atsar juga yang shahih dari Ibn Umar radhiallahu 'anhuma dikeluarkan at-Thohawi di Musykilatsaar

 وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال : ( كان في الأذان الأول بعد الفلاح : الصلاة خير من النوم الصلاة خير من النوم ) .

"Dulu di zaman Nabi ﷺ kami mendengar di adzan awal, setelah al-Falaah adalah 'ash-shalaatu khoirum minan naum'"

Maka dari dua dalil shohih ini merupakan pendalilan tentang menjadikan kalimat "ash-shalaatu khoirum minan naum" dibaca pada adzan yang pertama. Pendalilannya jelas, tidak butuh kepada pentawilan bahwa maknanya di adzan kedua karena adzan pertama dari iqomah adalah kedua.


والله أعلم
=======================================================================

Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan.” [HR. Muslim, 3509]

=======================================================================

Join Channel Telegram
t.me/Saeedalbandunjie

Jika linknya tidak bisa di-klik, search akun @Saeedalbandunjie

Website : http://mahadmuqbilalwadii.com
Facebook : Thabib Said & Ma'had Muqbil Alwadi'i
Streaming : http://128.199.149.39:21017 

Kamis, 03 Januari 2019

Mengganti Puasa Orang yang Meninggal



Pertanyaan

Bismillah.
Afwan ustadz, ana mau tanya, seorang berpuasa di bulan Ramadhan, pada hari yang ke 4 dia sakit parah yang menyebabkan ia tidak mampu lagi utk berpuasa sampai keluar bulan Ramadhan orang tersebut tidak kunjung sembuh dan qoddarullah menyebabkan ia meninggal dunia. Pertanyaan ana, apakah sisa puasa yang ditinggalkan orang tersebut wajib diganti oleh ahli warisnya? Jazakallahu khaeran ustadz...


Dijawab oleh Al-Ustadz Saeed Al-Bandunjie Abu Yaman As-Salafy

Untuk permasalahan orang yang meninggal dunia dan ada padanya hutang puasa, maka ahli warisnya wajib untuk membayarnya dalam keadaan tertentu. Keadaan seperti apa itu? Yaitu bila adanya kesempatan waktu bagi mayit tersebut dalam keadaan sehat wal afiat dan mukim (tidak dalam safar) namun tidak memanfaatkan waktu tersebut sampai ia meninggal.

Contoh :

Orang yang berpuasa 4 hari, lalu di hari ke-5 dan seterusnya dia sakit keras sehingga dia mengambil rukhshoh (keringanan) berbuka 25 hari sampai masuk akhir bulan Syawal. Lalu di awal Dzulqodah dan Dzulhijjah dan masuk tahun baru Muharrom sampai bertemu akhir Rojab dalam keadaan sehat walafiat dan mukim. Namun tidak membayar puasanya selama 25 hari. Kemudian di awal Sya'ban sakit keras bahkan koma beberapa hari dan meninggal, maka wajib bagi walinya untuk membayarkan puasanya sebagaimana hadits-hadits di bawah ini :


عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ.

Dari Aisyah radhiallahu 'anha, Nabi sholallohu alaihi wasallam bersabda : "Barang siapa yang mati dan ada padanya hutang puasa, maka berpuasa baginya wali-walinya." (Muttafaqun 'alaih)


 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ فَقَالَ أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ تَقْضِينَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ (متفق عليه)
Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma
Bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi dan bertanya : "Ibuku meninggal dan padanya ada hutang puasa. Berkata Nabi, 'maka bagaimana jika bagi ibumu hutang pada manusia apakah kamu akan membayarnya?'. 'Tentu.' 'Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.'" (Muttafaqun 'alaih)

Adapun yang ditanyakan, berbeda keadaannya dengan yang kami sebutkan. Yang mana orang ini berpuasa di hari ke-4 dan sakit yang terus-menerus sampai wafatnya, sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk membayar puasanya di waktu sehat dan mukim
.
Maka dalam keadaan seperti ini, tidak diwajibkan bagi ahli warisnya untuk mengganti puasanya.
Karena Asy-Syariat menunjukan perkara-perkara tersebut dari dua sisi :

Sisi Pertama
Kaidah di syariat Islam :

 المشقة تجلب التيسير

"Segala sesuatu yang menyempitkan pada agama maka wajib untuk dimudahkan."
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

 يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah ayat 185)


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

 يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah." (QS. An-Nisaa ayat 28)


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

 وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

"Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama." (QS. Al-Hajj ayat 78)

 عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ أَمْرِهِ قَالَ بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا

Dari Abu Musa, bahwa Nabi ﷺ jika mengutus shohabatnya untuk berdakwah beliau mengatakan:
"Jadikanlah manusia mencintai agama ini jangan engkau menjadi orang yang melarikan manusia dari agamanya. Permudahkanlah perkara agama jangan dipersulit." (Muttafaqun 'Alaih)


عن أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَسَكِّنُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu yang muttafaqun alaih dengan lafadz yang sama.

Sisi ke-2
Telah datang nash bahwa wajib qodho bagi ahli waris, jika saat hidupnya si mayyit memiliki kesempatan mengganti puasa, namun ia belum menggantinya. Seperti firman-Nya :

 فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

"Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." (QS. Al-Baqarah ayat 184)




Berkata Al-Qurthubi :

فإنّ معناها: أيامًا معدودة سوى هذه الأيام.(قلت: رمضان) اهـ تفسيره

"Maka maknanya : waktu-waktu tertentu (hari hari yang lain), selain dari hari-hari Ramadhan." (Tafsir al-Qurthubi  3/459)

Maka saat ada kesempatan sehat setelah bulan Ramadhan, baik Syawal dan seterusnya, wajib bagi orang yang berbuka di bulan Ramadhan agar membayar hutang puasanya itu di luar bulan Ramadhan.

Kesimpulan :

Untuk kasus yang ditanyakan ini, jawabannya Tidak ada qadha bagi ahli warisnya, dan tidak pula membayar fidyah.

والله أعلم

Sumber :

Website : http://darulhaditsdharmasraya.com/
http://fawaid.darulhaditsdharmasraya.com/

Facebook : Thabib Said & Ma'had Muqbil Alwadi'i

Streaming : http://128.199.149.39:21017

Join Channel Telegram:
@Saeedalbandunjie
http://t.me/Saeedalbandunjie

Selasa, 01 Januari 2019

Bolehkah Menggunakan Barang Temuan


Mungkin kita pernah menemukan barang di jalan, kemudian kita sudah berusaha mencari siapa pemiliknya untuk kita serahkan kepadanya. Namun sampai waktu yang cukup lama, pemilik belum juga ditemukan. Lantas, apa yang harus kita lakukan? Apakah barang tersebut boleh kita manfaatkan bahkan menjadi milik kita?

Mari kita simak fatwa Syaikh Ibn Baz di bawah ini.

====================================================


Jika Barang Temuan Telah Anda Umumkan Tapi Pemiliknya Tidak Ada, Maka Barang itu Menjadi Milik Anda

Pertanyaan 268:

Saya menemukan sejumlah uang yang hilang. Saya sudah mengumumkannya termasuk kepada orang-orang yang berada di sekitar tempat saya menemukan uang tersebut namun tidak ada satu pun orang yang menanyakannya. Apa yang harus saya lakukan terhadap uang tersebut? 

(Nomor bagian 19Halaman 437)
Jawaban:

Apabila Anda sudah mengumumkan uang temuan tersebut di tempat-tempat yang biasa digunakan orang-orang untuk berkumpul selama satu tahun penuh sebanyak dua, tiga, atau empat kali setiap bulan maka uang tersebut menjadi milik Anda. Jika Anda menemukan pemiliknya maka Anda harus menyerahkan temuan tersebut kepadanya karena temuan tersebut bagi Anda seperti titipan atau hutang sehingga ketika Anda menemukan pemiliknya maka Anda harus mengembalikan kepadanya. Jika pemiliknya tidak ditemukan maka temuan tersebut menjadi milik Anda kecuali jika Anda menemukannya di Tanah Suci. Apabila uang tersebut adalah temuan Tanah Suci di Mekah dan Madinah maka tidak boleh dimiliki atau dimanfaatkan sehingga ditemukan pemiliknya atau diserahkan kepada pihak yang berwenang di kedua Tanah Suci tersebut dan Anda terbebas dari tanggung jawab tersebut.


Sumber : alifta

Pertolongan Allah itu Pasti



Allah berfirman:
 Quran, Surah Ar-Rum, Ayat 47

Artinya: “Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang orang yang beriman”. Ar ruum (47).
Ayat  al Quran ini menjelaskan bahwa Allahعز وجل  menjanjikan pertolongan bagi orang orang beriman atas musuh musuhnya, ini adalah sebuah kepastian dari janjiNya  yang tidak mungkin  untuk diinkariNya. Allah عز وجل   telah menolong rasul Nya di dalam perang Badar, al Ahzaab dan yang lainya dalam pertempuran yang beliau alami. Demikian pula Allahعز وجل  juga telah menolong para sahabatnya sepeninggal beliau, karena itulah Din Islam menyebar diseluruh penjuru dunia. Islam banyak mencapai kemenangan meskipun melewati banyak tragedi dan musibah.     Kesudahan yang baik akhirnya memang miliknya orang orang beriman, lagi tawakal kepadaNya Tabaaraka wa Ta`aala, serta mentauhidkanNya didalam perkara `ibadah, berdo`a baik dalam masa sempit maupun lapang. Renungkanlah! Bagaimana al Quran mengkhabarkan keadaan orang orang beriman ketika terjadinya perang Badar, jumlah mereka sedikit, perbekalan merekapun minim, dalam posisi  demikian mereka berdoa kepada Allah Jalla wa `Alaa. Sebagaimana Allah عز وجل berfirman:
Quran, Surah Al-Anfal, Ayat 9
Artinya Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut turut”. Al Anfaal (9).     Allahعز وجل  mengabulkan do`a mereka, menurunkan bala bantuan para malaikat yang berperang bersama mereka, para malaikat memenggal kepala orang orang kafir dan memancung  ujung jari jari mereka.
Berkata al Imam as Sa`diy rahimahullahu Ta`aala dalam menafsirkan ayat yang mulia ini : Artinya : “Ingatlah kalian akan ni`mat Allah atas kalian takkala dekatnya pertemuan kalian dengan musuh musuh kalian; kalian minta tolong kepada Rabb kalian dan memohon kepadaNya pertolongan dan bantuan.
Allah berfirman: َ
Quran, Surah Al-Anfal, Ayat 12
Artinya: “(Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap tiap ujung jari mereka”Al anfaal : 12 
Berkata al Imam as Saddiy Rahimahullah:” فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ”
Artinya: maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap tiap ujung jari mereka”. Maksudnya persendian anggota tubuh. Dan pembicaraan: imma ditujukan  kepada malaikat  yang Allah  عز وجل telah mewahyukan kepada  mereka untuk menguatkan  orang orang beriman, maka jelaslah dalam ayat ini bahwa malaikat terjun langsung kemedan laga  dalam perang badar tersebut, atau ditujukan  kepada orang orang beriman untuk memberikan semangat  dan mengajarkan  kepada mereka bagaimana cara membunuh orang orang musyirikin tersebut, dimana mereka tidak menyayangi kaum mu`minin.[1]
Akhirnya tercapailah kemenangan atas orang orang beriman lagi mentauhidkan Allah. Allahعز وجل  menjelaskan :
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٢٣) –
Artinya: “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar padahal kamu adalah (ketika itu) orang orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya“. Ali Imran: (123).
Dan juga diantara do`a Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam ketika malam perang Badar:
قال إبن عباس حدثني عمر بن الخطاب قال : لما كان يوم بدر، نظر رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى المشركين وهم ألف، وأصحابه ثلاثمائة وتسعة عشر رجلا.

“ya Allah,seandainya engkau  hancurka kelompok dari orang-orang islam ini, niscaya engkau tidak ibadahi lagi dimuka bumi”.[2]
Pada saat ini, dibanyak negara, kita menyaksikan umat islam melakukan peperangan dengan musuh musuhNya, tetapi mereka tidak mendapati kemenangan, lalu apa sebabnya? apakah Allah عز وجل  mengingkari janjiNya kepada orang –orang  beriman? tidak sama sekali!! Allah عز وجل  tidak menginkari janjinya, tetapi yang perlu kita tanyakan adalah, dimanakah orang beriman sehingga datang kepada mereka kemenangan sebagaimana yang dijanjikan oleh ayat Allah diatas? marilah  kita bertanya kepada para mujahidin:
  1. Apakah mereka mempersiapkan diri dengan iman dan tauhid yang dengan keduanya Rasullah shallahu alaih wa salam, memulai dakwahnya di Makah sebelum beliau melakukan peperangan?
  2. Apakah mereka melakukan ikhtiar sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam firmanNya :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Artinya : “Dan siapkanlah  untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja kamu sangupi’’(al-anfaal-60)
Rasullah menafsirkan ayat diatas dengan (persiapan)  memanah, melempar.
3.Apakah mereka meminta kepada  Allah dan mentauhidkan-Nya dalam keadaan perang berkecamuk ataukah sebaliknya, mereka melakukan kesyirikan atasNya, sehingga meminta kepada selainNya, yang tidak memiliki kekuasaan sedikitpun, lagipun mereka adalah hamba Allah, yang tidak mampu memberikan mamfaat dan mendatangkan mudharat walaupun untuk dirinya sendiri.
lalu mengapa mereka tidak meneladani Rasullah shallahu a’laih wa salam dalam berdoa yang hanya ditujukan kepada Allah semata? bukankah Allah berfirman: أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ artinya:” Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya”{az-zumar:36}.
4.Apakah mereka bersatu, saling mengasihi dan menyayangi satu sama yang lainnya, sehingga menjadi semboyan dan syiar mereka.
Allah عز وجل  berfirman: وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَartinya”janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”{al-anfaal-46}
kata asy-syaikh Abdurahman as-adiy: ” ولا تنازعوا “” artinya:’’Dan janganlah kamu berbantah-bantahan”maksudnya:perselihan yang menghasilkan perpecahan hati dan perbedaan, ” فتفشلوا “maksudnya:menjauhkan kalian, ” وتذهب ريحكم “maksudnya:mematahkan semangat kalian memecah-belah kekuatan kalian,dan menyebabkan Allah mengangkat pertolongan yang janjikan kepada kalian atas ketaatan kepada Allah عز وجل  dan rasulNya.[3]
5.Yang terakhir umat islam meninggalkan aqidah dan perintah-perintah agama mereka, maka mereka menjadi umat yang terbelakang, sebaliknya jika mereka kembali kepada agama mereka, niscaya akan kembali pula kemulian dan kejayaan mereka,sebab pada hakekatnya islam mewajibkan umatnya untuk maju dibidang  ilmu dan peradaban.
Sungguh jika kalian  merealisasikan iman sebagaimana yang telah diperintahkan niscaya  akan datan pertolongan yang dijanjikan kepada kalian,Allah عز وجل  berfirman: وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ }artinya Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”{ar-ruum-47}

[1] ’taisirul karimiir rahman fi tafsir kalaamilmanaan”Asy-syaik abduraman as-sadiy
[2]Lihat shahih muslim kitabut-jihad  no:1763, hadist `Umar Ibnul Khotthoob radhiallahu `anhu.
[3]‘’taisirul karimiir rahman fi tafsir kalaamilmanaan”Asy-syaik abduraman as-sadiy.

Sumber : 
http://tasriau.com/?p=305

Khutbah Jumat : Pentingnya Pendidikan Anak dalam Islam



Oleh : As-Syaikh Abu Yasir Ruzaiq bin Haamid Al-Qurosyi

الحمد لله, والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وبعد :
Wahai hamba-hamba Allah,
Allah ‘azza wajalla berfirman mengisyaratkan kepada umat dan memerintahkan umat dalam kitabNya untuk mendidik anak dengan pendidikan islami, dan bahwasanya perintah ini wahai hamba-hamba Allah telah ditunaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang setelahnya dari para sahabat. Dimana merekapun memerintahkan dan melaksanakannya, karena anak-anak kita adalah amanah di pundak-pundak kita wahai hamba-hamba Allah. Allah ‘Azza Wajalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: ” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”(QS. At-Tahriim : 6)

Oleh karena itu wahai hamba-hamba Allah, jadilah engkau orang-orang yang menunaikan perintah Allah. Dalam ayatNya yang mulia ini Allah ‘azza wajalla memerintahkanmu pertama sekali untuk bertaqwa kepada Allah, kamu bertaqwa kepada Allah dalam keadaan berkesendirian ataupun dikeramaian, karena sesungguhnya diantara ketaqwaan kepada Allah adalah menunaikan perintahNya dan mengamalkan apa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka inilah jalan ketaqwaan kepada Allah ‘azza wajalla, yaitu kamu menunaikan perintahNya dan mengikuti NabiNya, maka sesungguhnya ini adalah Taqwa. Oleh karena itu Allah berfirman dalam ayatNya memerintahkan untuk bertaqwa :
… يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …”
(QS. At-Tahriim : 6)

Karena sesungguhnya penjagaan diri dan perlindungan terhadap keluarga dari neraka merupakan bentuk ketaqwaan kepada Allah ‘azza wajalla yang Allah telah memerintahkannya di banyak ayat dalam kitabNya, oleh karena itu hendaknya seorang manusia memulai dari dirinya untuk menjaganya dari neraka dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang kepada kita dengan sesuatu yang kita berlindung dengannya dari neraka ….
Wahai hamba-hamba Allah, karena apa yang datang dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Alquran ini dan sunnahnya shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan sebaik- baik perlindungan bagi
umat dari neraka. Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat semangat terhadap umat ini dan karena rahmat dan kasih sayangnya dan mencintai kebaikan untuk umat ini dan memerintahkan dengan kebaikan dan membenci kejelekan bagi umatnya dan melarang mereka dari kejelekan tersebut, oleh karena itu berkata seorang sahabat radhiallahu ‘anhu dalam atsar:

” عنه الأمة حذر إلا شر من وما عليه الأمة دل إلا خير من ما 

Artinya: “Tidak ada satu kebaikan pun melainkan beliau telah menunjukkan nya dan tidak ada satu kejelekan pun melainkan beliau telah memperingatkan umat darinya “

Wahai hamba-hamba Allah , oleh karena itu jadilah engkau wahai hamba-hamba Allah orang yang menjaga dirimu dengan mengikuti Alquran dan sunnah dan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidaklah kamu tunaikan yang demikian tersebut melainkan harus bagimu untuk mempelajari ilmu syar’i dari Alquran dan sunnah, karena ini adalah sebagai jalan penjagaan diri bagimu dari azab neraka dan jalan pengetahuan yang sempurna yang dengannya kamu dapat melindungi anak-anakmu dari neraka wahai hamba-hamba Allah.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan dengan cara bertahap-tahap dalam mendidik anak dan juga dalam mengajar mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
واضربوهم لسبع بالصلاة أولادكم مروا
…..المضاجع في بينهم فرقوا و لعشر عليها

Artinya: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (karena meninggalkannya) ketika mereka berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah  tempat-tempat tidur mereka …… “ (HR. Abu Dawud)

Karena sesungguhnya memerintahkan dan melatih mereka dimulai dari usia kecil mereka wahai hamba-hamba Allah. Dimana kamu melatih mereka untuk beribadah dan kamu ajarkan kepada mereka aqidah juga kamu ajarkan kepada mereka sunnah dan kamu ajarkan kepada mereka adab-adab nabawi sejak kecil mereka wahai hamba-hamba Allah, karena melalaikan mereka dari usia kecil mereka akan menjadi penyesalan bagi orangtua ketika dewasanya mereka …..

Bertaqwalah wahai hamba-hamba Allah, jagalah amanah ini yang telah Allah mengamanahkannya kepada kalian karena Allah ‘azza wajalla telah menawarkan amanah kepada langit dan bumi dan mereka menolak dan merasa takut darinya akan tetapi manusia sanggup memikulnya yang padahal manusia adalah makhluk yang banyak berbuat kedzoliman dan banyak melakukan kebodohan. Maka pendidikan anak wahai hamba-hamba Allah, adalah amanah di pundak-pundak kita, berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban akan rakyatnya. Seorang ayah adalah pemimpin di rumahnya dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang rakyatnya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggung jawaban akan rakyatnya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggung jawaban akan apa yang dipimpinnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang rakyatnya“  (Muttafaqun ‘alaihi)

Maka kalian wahai hamba-hamba Allah, berada dalam karunia dan dalam kebaikan dan rahmat, yang demikian adalah karena ada dihadapan kita seluruhnya perkara-perkara yang bisa melindungi diri-diri kita dari neraka. Dimana itu adalah perkara-perkara yang Allah beri taufiq kita padanya untuk menunaikan perintah Allah ‘azza wajalla dan untuk mengikuti NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam, karena sesungguhnya kebaikan dari seluruh kebaikan adalah dalam mengikuti perintah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berqudwah (mencontoh) dengan beliau dalam segala hal, dan kejelekan dari seluruh kejelekan wahai hamba-hamba Allah adalah dalam menyelisihi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyelisihi petunjuknya sampaipun dalam mendidik anak-anak kita , Allah ‘azza wajalla berfirman :
…فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: “…Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi perintahnya akan menimpa mereka fitnah atau menimpa mereka azab yang pedih” (QS. An-Nuur : 63)

Karena sesungguhnya fitnah dari seluruh fitnah dan kejelekan dari seluruh kejelekan wahai hamba-hamba Allah, adalah dalam menyelisihi apa yang dibawa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam segala hal wahai hamba-hamba Allah. Dan dalam permasalahan ini yakni permasalahan pendidikan anak sesungguhnya hal ini adalah perkara yang besar dan sangat pantas dari kita wahai hamba-hamba Allah mengerahkan segala daya dan upaya dalam mendidik anak-anak kita. Dan mengeluarkan bagi umat ini yang disebabkan didikan kita masyarakat yang beribadah kepada Allah ‘azza wajalla dan mengikuti nabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam, memerintahkan kepada kebaikan dan dan melarang dari kemungkaran dan menjadi panutan yang sholih di masyarakat. Adapun jika kamu melalaikannya wahai hamba-hamba Allah, maka pasti kamu akan mendapati penyesalan dan ia akan menjadi panutan yang rusak di masyarakat.

Bertaqwalah wahai hamba-hamba Allah dan bertaubatlah kepada Allah dan tunaikanlah perintah-perintah Allah dan tuntunlah anak-anak kita kepada Alquran dan sunnah dan tuntunlah mereka kepada adab-adab nabawi yang islami karena ini adalah perkara yang sangat dituntut dan ini adalah amanah. Ini adalah bentuk pemeliharaan dan ini adalah bentuk penjagaan. Saya meminta kepada Allah dengan karunia dan kemuliaanNya untuk memberi taufiq kepada kami dan juga kalian untuk mentaatiNya dan juga memberi taufiq kepada kami dan juga kalian kepada petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak menimpa kita kejelekan di dunia dan akhirat.

Aku ucapkan perkataanku ini, dan aku meminta ampunan kepada Allah untukku dan juga kalian, maka minta ampunlah kepada Allah, sesungguhnya Ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Wahai hamba-hamba Allah, sungguh perkara pendidikan sangatlah ditekankan di zaman ini yang bergejolak padanya ombak-ombak fitnah dan bergejolak padanya berbagai macam kejelekan. Dan ada pula padanya da’i-da’i yang mengajak kepada kejelekan tersebut melalui jaringan satelit dan melalui internet dan juga melalui sarana media-media sosial seperti twitter, facebook, whatsapp dan selain itu yang banyak keberadaannya di zaman ini…..

Wahai hamba-hamba Allah, media-media seperti ini telah memfitnah kita malam dan siang dengan hal-hal yang telah tersebar dari berbagai macam aqidah-aqidah yang rusak dan akhlaq-akhlaq yang jelek dan seluruh kejelekan yang ada. Untuk perkara aqidah yang rusak, ada da’i-da’i yang menyeru melalui media-media ini dan pada da’i-da’i yang jelek, da’i-da’i khamar, da’i-da’i yang mengajak kepada berhiasnya para wanita dan kepada perbauran laki-laki dan wanita. Ada da’i-da’i yang mengajak manusia melalui media-media ini, begitu juga sihir dan selainnya ada juga da’i-da’i yang mengajak manusia kepada perkara tersebut sehingga manusia dalam keadaan bingung dalam urusannya.

Dan ditegaskan kepada manusia  untuk bersemangat dengan semangat yang kuat terhadap anak-anaknya di rumah dan bersungguh-sungguh pada yang demikian. Kemudian janganlah seorang hamba lupa untuk berhubungan dengan Rabbnya dengan cara sholat malam dan banyak berdoa dan tunduk dan berserah diri kepada Allah azza wajalla untuk menjauhkannya dan menjauhkan anak-anaknya dan anak-anak kaum muslimin dari kejelekan-kejelekan ini yang telah banyak datang di masyarakat sehingga merusaknya…

Wahai hamba-hamba Allah, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah, maka haruslah kita memiliki sikap yang benar dan sikap yang tegas dalam perkara ini wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya yang demikian merupakan kewajiban yang diwajibkan atas kita dan merupakan perkara yang akan dimintai pertanggung jawabannya atas kita di hari kiamat dalam amanah ini dan apa yang telah kita perbuat padanya…
Bertaqwalah wahai hamba-hamba Allah, bersholawat dan salam-lah kepada orang yang kalian diperintahkan untuk bersholawat dan salam kepadanya, dimana Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya:  Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzaab : 56)

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله على نبينا محمد، وعلى آله وأصحابه أجمعين

Diterjemahkan dari khutbah Jum’at Syaikh Ruzeiq bin Haamid Alqurosyi Hafizhohullah, pada tanggal 2 Jumadal Ula 1436 H bertepatan dengan 20 Februari 2015 di Ma’had Ta’zhimusunnah Rimbo Panjang Pekanbaru. Penterjemah: Ustadz Abu Huzaifah Ahmad.

sumber : http://mahadmuqbilalwadii.com

Memutus Shalat Karena Bau Badan




Pertanyaan:

Bagaimana hukum memutus shalat dan berpindah ke tempat lain jika disebelah saya ada seseorang yang bau, apatah lagi luput dari saya rukun2 shalat, yaitu thuma'ninah disebabkan dia. Oleh sebab itu kami menanti jawaban dari anda.

Dijawab oleh Syaikh Bin Baz -rahimahullah-

Tidak mengapa pada perkara itu. Saya katakan; tidak mengapa memutus shalat dalam keadaan darurat disebabkan adanya bau menyengat...yang menyebabkan seseorang tidak khusyu' dalam shalatnya dan juga tidak thuma'ninah. Apabila memutus shalatnya untuk pindah ke tempat lain, tidak mengapa insya Allah. Untuk diketahui bahwa orang yang mempunyai bau badan agar jangan shalat bersama manusia, yang wajib baginya adalah dia shalat dirumahnya, jika dia memiliki bau badan yang busuk berlebihan yang mengganggu, atau bau busuk dari ketiaknya. Maka wajib baginya untuk mengobatinya hingga hilang baunya, dan jangan dia mengganggu manusia dikarenakan bau badannya itu. Atau ia memakan bawang putih atau bawang bombay, maka jangan ia hadir di mesjid hingga hilang baunya. Karena Rasulullah ﷺ mengatakan :

"Orang yang memakan bawang putih atau bawang bombay dilarang untuk mendekati mesjid"

dan beliau ﷺ memerintahkannya keluar dari mesjid. Maka apabila terdapat bau yang dibenci padanya yang sumber baunya bukan dari bawang putih atau bawang bombay, seperti aroma busuk dari mulutnya yang bau sekali, yang mengganggu yang berada disekitarnya, dan hendaknya yang berada disekitarnya itu memisahkannya dan menjauh ketempat lain.

https://goo.gl/rxxzvV

Sumber : Channel Multaqa Ahlul Hadits Indonesia | https://t.me/multaqoahlulhaditsindonesia