Senin, 03 Mei 2021

Hukum Zakat Fitrah dengan Uang



Alhasil bahwa membayar jenis barang yang telah diwajibkan dalam zakat fitrah, atau zakat mal adalah apa yang telah ditetapkan (dalam syariat), dan jika tidak memungkinkan maka boleh dengan nilainya (yakni dengan uang, pent).

Berdasarkan firman Allah ta'ala:

: {لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا} الآية

"Allah tidak akan membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya" Al-Ayat (¹).

Dan firman-Nya:

 {فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ} الآية

"Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian" Al-Ayat (²).

Dan sabda nabi ﷺ:

"إذا أمرتكم بشيء، فائتوا منه ما استطعتم ... " الحديث متفق عليه. 

"Apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu, maka tunaikanlah darinya semampu kalian..."__ Alhadits Muttafaq Alaihi.

Wallahu ta'ala a'lam bisshawab, dan hanya Dialah cukup bagi kita, dan Dialah sebaik-baik penolong. |«

As-Syaikh Muhammad Adam Al-Ityubi - حَفِظَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ -.

Dzakhiratul Uqba (22/300).

(¹). Qs. Al-Baqarah: 286, pent.

(²). Qs. At-Thaghabun: 16, pent.

Channel Telegram Butiran Faedah

=========================

Tambahan sebagai penjelas :
Syaikh menjelaskan tentang bolehnya zakat fitrah dengan uang dengan syarat jika memang kondisinya tidak memungkinkan untuk mengeluarkannya dengan makanan pokok setempat. Adapun kondisi kita saat ini, secara umum sangat memungkinkan untuk menunaikan zakat fitrah dengan beras. Sehingga kembali ke hukum asal sebagaimana yang Syaikh sebutkan bahwa zakat fitrah ataupun zakat mal, masing-masing ditunaikan sesuai jenis yang telah ditetapkan syari'at. Wallahu a'lam

Minggu, 02 Mei 2021

Zakat Fitrah Bayi yang Belum Lahir


Zakat Fitrah Bayi yang Belum Lahir


Pertanyaan pertama dari Fatwa no. (1474).

Pertanyaan:

Apakah bayi yang masih berada di dalam perut ibunya dibayarkan zakat fitrah darinya atau tidak?

Jawaban:

Dianjurkan mengeluarkannya dari jabang bayi tersebut berdasarkan perbuatan Utsman - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ - namun tidak wajib atasnya dikarenakan tidak adanya dalil atas yang demikian.

Wa billahittaufiq, dan shalawat Allah atas nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta keselamatan atas mereka.

Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wa Al-Ifta


===================================================


Dianjurkan mengeluarkan zakat fitrah dari wanita hamil atau janin yang masih berada di dalam perut ibunya.

Berkata Al-Allamah Ibnul Qasim Al-Hanbali - رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ - di dalam kitabnya "Hasyiyah Ar-Rawdh Al-Murabba'" (3/277), tentang dianjurkan mengeluarkan zakat fitrah dari wanita hamil:

<<واتفق عليه الأئمة الأربعة، وغيرهم>>.اهـ

"Dan para imam yang empat serta selain mereka telah sepakat tentang hal itu." Selesai

Dan telah shahih dari murid sahabatnya Abi Qilabah - رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ -  bahwa beliau mengatakan:

(( كان يُعجبهم أنْ يُعطوا زكاة الفطر عن الصغير والكبير حتى على الحَبَل في بطن أمه )).

"Adalah mengagumkan mereka pemberian zakat fitrah mereka dari anak kecil dan orang dewasa sampai-sampai atas wanita hamil (janin) yang masih di dalam perut ibunya."

Akan tetapi tidak wajib.

Dimana imam Ibnul Mundzir - رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ - mengatakan di dalam kitabnya "Al-Isyraf" (3/72-73):

<<كل مَن يُحفظ عن مِن علماء الأمصار لا يُوجِب على الرجل إخراج زكاة الفطر عن الجنين في بطن أمه>>.اهـ

"Setiap orang yang dijaga (riwayatnya) dari para ulama negeri (menyatakan) tidak wajib atas seorang lelaki untuk mengeluarkan zakat fitrah dari janin yang berada di perut ibunya." Selesai |«

Ditulis oleh: Abdul Qodir Al-Junaed.

Hukum Zakat Fitrah


Sedekah fitrah (Zakat Fitrah) adalah wajib, dan sebagian meriwayatkan tentang ijma' (kesepakatan ulama) atas wajibnya sedekah fitrah. Dan hanya diwajibkan bagi orang yang memiliki satu sha' dari bahan makanan yang lebih dari kebutuhannya dan kebutuhan orang-orang yang wajib ia beri nafkah pada hari raya dan malamnya. Dalil atas wajibnya sedekah fitrah apa yang telah benar di dalam kedua kitab shahih dari hadits Ibnu Umar - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا - bahwa beliau berkata:

"Rasulullah ﷺ telah mewajibkan zakat fitrah satu sha' dari kurma atau satu sha' dari gandum atas orang yang merdeka maupun budak, lelaki maupun perempuan, anak kecil maupun orangtua dari muslimin dan memerintahkan untuk menunaikan sebelum keluarnya manusia menuju shalat. "

Ucapan beliau: "mewajibkan" merupakan dalil atas wajibnya karena kata fardhu maknanya adalah wajib dan harus.

Sedekah fitrah ditunaikan dalam bentuk bahan pokok makanan negeri, baik dari jenis yang disebutkan dalam hadits maupun dari selainnya apabila bahan pokok makanan penduduk negeri selain dari jenis-jenis ini menurut penelitian Ibnul Qayyim - رَحِمَهُ اللّٰهُ -.

Dan tidak boleh mengeluarkannya berupa uang atau pakaian atau semisal itu. Barangsiapa yang benar-benar fakir maka dia akan bisa memanfaatkan bahan makanan tersebut dan pastinya demikian.

Sebab tidak dibolehkannya selain makanan, bahwa Nabi ﷺ mewajibkannya dari bahan makanan maka tidak boleh meninggalkan sunnahnya karena ucapan seseorang. Berkata Al-Imam Ahmad: "Tidak boleh memberikan dengan nilainya (ditunaikan dengan uang). Maka ditanyakan kepada beliau: "Suatu kaum mengatakan: bahwa Umar bin Abdil Aziz dahulu mengambil nilainya?"

Beliau menjawab: "Mereka meninggalkan sabda rasulullah ﷺ dan mengatakan telah berkata fulan, dan telah berkata Ibnu Umar: Rasulullah ﷺ telah mewajibkan zakat fitrah satu sha' dari bahan makanan. Al-Hadits.

Dan apabila seorang muslim di suatu negeri dipaksa untuk mengeluarkan zakat fitrah dengan uang, maka mereka menunaikan berupa uang, kemudian dia mengeluarkan lagi zakatnya secara sembunyi-sembunyi dari bahan makanan, dan tidak boleh baginya untuk menampakkan penentangan terhadap penguasa dengan menyelisihinya sebagai bentuk mencegah fitnah. Dijelaskan yang demikian oleh As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin - رَحِمَهُ اللّٰهُ -.

Dan waktu kewajibannya yaitu terbenamnya matahari di malam terakhir bulan ramadhan. Sehingga barangsiapa memilik anak yang lahirnya sebelum terbenamnya matahari, maka dikeluarkan zakat dari bayi tersebut. Demikian pula apabila seorang kafir masuk Islam sebelum terbenamnya matahari maka dikeluarkan dari dirinya zakat. Adapun jika dia masuk Islam setelah terbenam matahari atau anak yang dilahirkan setelah terbenam atau seorang muslim meninggal sebelum terbenam maka tidak wajib bagi mereka karena mereka belum mendapatkan waktu kewajibannya.

Zakat fitrah ditunaikan sebelum keluar untuk shalat ied berdasarkan hadits Ibnu Umar "Beliau memerintahkan untuk mengeluarkan zakat sebelum keluarnya manusia menuju shalat."

Dan tidak mengapa untuk menunaikan sebelum hari raya satu hari atau dua hari atau tiga hari (sebelumnya) sebagaimana hal itu ditunjukkan hadits Abu Hurairah - رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ - ketika beliau menjaga baitul mal, datang syaitan dalam wujud seorang tua yang fakir karena itu berlangsung dalam tiga malam maka ini menunjukkan bahwa Rasul ﷺ beliau mengumpulkan sedekah fitrah sebelum hari raya satu hari atau dua hari atau tiga hari. Adapun mengeluarkannya di awal bulan atau pertengahan atau sebelum tiga hari dari hari raya maka ini menyelisihi syariat dan barangsiapa yang melakukan itu maka dia harus mengeluarkannya sekali lagi di waktunya yang disyariatkan. 

Sumber artikel:

Channel Fawaid Ilmiah As-Syaikh Ali bin Yahya Al-Haddadi 

Diterjemahkan oleh Ustadz Sholehuddin di Channel Telegram Butiran Faedah
dengan sedikit kami edit tanpa merubah makna, insya Allah.





Sabtu, 01 Mei 2021

Kesalahan yang Berkaitan dengan Zakat Fitrah





Oleh Asy Syaikh Al Allamah Abu Abdil Mu'izz Muhammad Ali Farkus hafizhahullah

Yang Pertama :  mengeluarkan harta sebagai shadaqah bagi orang miskin dengan tanpa niat zakat fitrah yang diwajibkan. Dan ini merupakan kesalahan dikarenakan zakat tidaklah sah kecuali dengan niatnya berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

"إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى".

"Sesungguhnya amalan-amalan dinilai dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan".

Oleh karena inilah wajib atas orang yang menyerahkan zakat fitrah untuk meniatkan zakat yang wajib baginya dan hendaknya ia mengharap wajah Allah Ta'ala; sebab ikhlas merupakan syarat diterimanya segala ibadah berdasarkan firman Allah Ta'ala :

"وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين".

"Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untukNya".


Yang kedua : melafazhkan niat zakat dan menyebutkan (nama-nama) orang-orang miskin. Dan ini kesalahan, dikarenakan tidak ada dalam syariat perbuatan melafazhkan niat, dikarenakan niat tempatnya di hati yakni berada di hati orang yang mengeluarkan zakat dimana ia bermaksud dengannya ibadah yang disyariatkan ini dengan tanpa melafazhkannya atau menyebutkan nama-nama pihak yang menerima zakat, dan perlu diketahui bahwa tidak datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau melakukannya atau memerintahkannya, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dan sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

"وإياكم ومحدثات الأمور؛ فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة". 

"Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama dikarenakan setiap perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat".

Yang ketiga : orang yang mengeluarkan zakat meletakkan tangannya di atas zakatnya lalu membaca Al Fatihah atau selainnya dari Al Quran ketika ingin mengeluarkan zakat tersebut; maka ini merupakan kebid'ahan yang diada-adakan, tidak ada dasarnya dalam syariat yang suci; sebab tidak datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan dari shahabatnya yang mulia bahwasanya mereka membaca Al Fatihah atau Al Quran atas zakat ketika dikeluarkan atau sebelumnya atau sesudahnya, dan sungguh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

"من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد". وفي لفظ : "من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد".

"Barangsiapa yang mengada-ngadakan dalam agama kami sesuatu yang bukan termasuk darinya maka ia tertolak", dan dalam lafazh yang lain : "Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasar dalam agama kami maka amalan tersebut tertolak".


Yang keempat : meyakini bahwa zakat fitrah merupakan amalan sunnah yang dilakukan oleh orang kaya terhadap orang faqir untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya, sehingga ia tidak meminta-minta di hari ied, sehingga orang kaya merasa berjasa terhadap orang yang ia beri, dan sebaliknya orang faqir merasa rendah dihadapan orang yang memberi. Dan keyakinan ini salah; dikarenakan zakat fitrah merupakan hak yang diwajibkan secara syariat, dan ia merupakan shadaqah harta atas badan dan jiwa yang ditentukan ukurannya dan diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak disebabkan seseorang selesai dari berpuasa di bulan Ramadhan.

Yang kelima : meyakini bahwasanya waktu kewajiban menunaikan zakat fitrah adalah waktu yang luas dan tidak ditentukan dimana hal ini mendorong seseorang untuk berpendapat bolehnya menyegerakannya setahun atau dua tahun sebelumnya dan berpendapat bolehnya untuk mengakhirkannya hingga hari apapun setelah hari ied dengan tanpa adanya hukuman dan hal ini juga mendorong seseorang untuk menunda-nunda dari menunaikannya sebelum shalat ied bahkan ia mengakhirkannya dengan alasan luasnya waktu kewajiban untuk mengeluarkannya dan tidak ditentukan. Dan ini merupakan kesalahan dikarenakan waktu penunaian zakat fitrah ditentukan sebelum shalat ied berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma :

"....فمن أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة، ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات".

"...Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (ied) maka ia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat (ied) maka ia shadaqah dari shadaqah-shadaqah".

Dan berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu anhuma ia berkata : 

"....وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة".

"...Dan Rasulullah memerintahkan untuk menunaikan zakat fitrah sebelum manusia keluar menuju shalat (ied)". Dan inilah waktu yang paling utama baginya dan sah diterima oleh pihak yang diserahi tanggung-jawab untuk membagikannya sehari atau dua hari sebelum hari ied berdasarkan tindakan Ibnu Umar radhiallahu anhuma.

Yang keenam : seorang yang mukallaf (muslim dan baligh) tidak mencari orang-orang yang berhak menerima zakat fitrah sehingga ia memberikannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya, hal ini disebabkan rasa malas untuk mencari orang-orang yang berhak dari kalangan fuqara dan orang-orang miskin; maka bisa jadi ia mengeluarkan zakat fitrahnya kepada orang-orang tertentu yang biasa ia berikan zakat kepadanya disebabkan karena hubungan nasab atau hubungan kekerabatan atau hubungan pertemanan atau hubungan tetangga atau karena ia pegawai yang bekerja di sisinya atau selain itu dari sebab-sebab yang ada, walaupun pihak yang diberi zakat fitrah adalah orang kaya lagi berkecukupan. Dan ini adalah kesalahan; dikarenakan zakat adalah hak dari hak-hak Allah dimana tidak boleh pilih kasih namun wajib untuk ditekankan tentang siapa yang berhak menerimanya.

Dan bisa jadi ia memberikan zakat fitrahnya kepada selain fuqara dan orang-orang miskin dari delapan golongan yang berhak menerima zakat harta. Dan ini adalah kesalahan; dikarenakan zakat fitrah berkaitan dengan badan dan jiwa tidak berkaitan dengan harta; maka tidak sah untuk dikeluarkan melainkan kepada fuqara dan orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma :

"فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث، وطعمة للمساكين".

"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin", maka pendalilan hadits ini jelas menunjukkan bahwa zakat fitrah khusus diperuntukkan bagi fuqara dan orang-orang miskin tanpa selainnya.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

"ولا يجوز دفع زكاة الفطر إلا لمن يستحق الكفارة، وهو من يأخذ لحاجته، لا في الرقاب والمؤلفة قلوبهم وغير ذلك".

"Tidak diperbolehkan menyerahkan zakat fitrah kecuali kepada orang yang berhak menerima kaffarah yaitu orang yang mengambil karena ia butuh bukan kepada budak dan orang yang dilembutkan hatinya dan selain itu".


Yang ketujuh :  meyakini wajibnya zakat fitrah atas janin dan ini merupakan pendapat Ibnu Hazm rahimahullah yaitu apabila janin di perut ibunya telah sempurna berumur 120 hari sebelum nampaknya fajar dari malam iedul fitri dimana pada waktu tersebut ruh ditiupkan kepadanya, dan sebagai pengamalan terhadap apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hazm rahimahullah dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu bahwa beliau memberikan/mengeluarkan zakat fitrahnya anak kecil, orang tua dan janin. Dan ini merupakan kesalahan dikarenakan tidak ada dalil yang mengharuskan zakat fitrah atas janin, dan Ibnul Mundzir rahimahullah menukilkan kesepakatan ulama bahwa tidak ada kewajiban zakat bagi janin di perut ibunya.

Adapun perbuatan Utsman radhiallahu anhu jika shahih (atsar tersebut) maka hanyalah menunjukkan hal itu hukumnya mustahab (sunnah) dan tidak lebih dari itu; dikarenakan hal itu dianggap shadaqah yang dikeluarkan dari pihak yang tidak diwajibkan sehingga hukumnya sunnah seperti shadaqah-shadaqah sunnah yang lain, dan dikarenakan janin tidaklah mendapatkan hukum-hukum dunia melainkan dalam hal warisan dan wasiat dengan syarat janin tersebut keluar dari perut ibunya dalam keadaan hidup.

Yang kedelapan :  meyakini bahwa zakat fitrah tidaklah wajib kecuali bagi yang memiliki harta mencapai nishab. Dan ini adalah kesalahan dikarenakan cukup sebagai syarat wajibnya zakat fitrah adalah islam dan ukuran zakat fitrah tersebut melebihi makanan pokok orang yang mengeluarkannya dan makanan pokok orang yang ia tanggung nafkahnya di hari ied dan malam ied atau zakat fitrah tersebut melebihi kebutuhan-kebutuhan pokok dia.

https://ferkous.com/home/?q=art-mois-109

Diterjemahkan oleh Channel Telegram Dinul Qoyyim