Sabtu, 26 Desember 2020

JANGAN TERTIPU DENGAN ILMUMU!


Berkata As-Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr - حَفِظَهُ اللّٓهُ تَعَالَىٓ - :

Dan di dalam konteks ini bahwa semata-mata ilmu tidak akan mengangkat pemiliknya.

Jika demikian, seorang insan tidak boleh tertipu, tidak tertipu dengan dirinya sendiri, tidak boleh dia mengatakan: "saya telah hapal Al-Quran seluruhnya, atau saya telah hapal hadits-hadits shahih, atau saya telah hapal semua matan kitab, atau saya telah belajar ini dan itu", tidak boleh dengan itu.

Akan tetapi (hendaknya dia mengatakan): wahai Rabb-ku selamatkan aku, selamatkan aku, dia meminta kepada Allah tabaraka wa ta'ala agar Dia menjaganya, mengangkat dirinya, memberikan kemanfaatan dirinya, dan tidak tertipu dengan ilmunya sedikit pun.

Akan tetapi hendaknya dia menjadi takut, takut kepada Allah, takut dari siksaan Allah - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ -, dan mengharap kepada Rabbnya - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ - keberuntungan dan keselamatan.

Dan termasuk yang disebutkan dari berita-berita yang terkait dengan As-Syaikh Ibnu Utsaimin - Rahmat Allah atas beliau - mereka mengatakan, bahwa seseorang pernah setelah (shalat) Fajar duduk di belakang As-Syaikh dan As-Syaikh tidak merasa akan keberadaan orang tersebut dan tidak mengetahuinya, duduk setelah shalat Fajar berdzikir kepada Allah, kemudian rasa kantuk pun menguasai dirinya - yang itu adalah As-Syaikh Muhammad rahmatullah alaih -, maka beliau pun memukul pahanya sendiri seraya mengatakan: "wahai Muhammad, neraka! wahai Muhammad, neraka!", Beliau menakuti dirinya dengan api neraka dan mengingatkan dirinya dengan api neraka.

Maka semisal makna ini ketika hal itu dihadirkan oleh seseorang di dalam hatinya dan di sana ada neraka, di sana ada hukuman dan berdiri di hadapan Allah - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ - : maka dia tidak akan tertipu dengan ilmunya betapa pun besarnya, tidak tertipu dengan melimpahnya ilmu, tidak tertipu dengan banyaknya, akan tetapi dia akan terus menakuti dirinya, memohon kepada Allah keteguhan, memohon kepada Allah hidayah, dan memohon kepada Allah pertolongan. |«

Syarah Tafsir Ayat Min Al-Quran Al-Karim karya Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab (pertemuan ke-31).

Sumber : Channel Telegram Butiran Faedah

Kamis, 26 November 2020

Bolehkah Mencuri Untuk Menolong Orang Lain

Mencuri Untuk Menolong

Pertanyaan :

Assalamualaikum Ustadz, ana ada pertanyaan apa boleh mencuri barang milik orang lain, atau memakai barang milik orang lain tanpa keridhoannya, dalam rangka menolong orang yang kesusahan? 

Barakallahufiik

Dijawab oleh Ustadz Sholehuddin hafizahullah :

Wa'alaikumsalam warahmatullah

Tidak boleh mencampuradukkan amalan kebaikan dengan kejelekan, berdasarkan firman-Nya :


(وَءَاخَرُونَ ٱعۡتَرَفُوا۟ بِذُنُوبِهِمۡ خَلَطُوا۟ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَءَاخَرَ سَیِّئًا عَسَى ٱللَّهُ أَن یَتُوبَ عَلَیۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورࣱ رَّحِیمٌ) [سورة التوبة 102

"Dan (ada pula) orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan amalan yang baik dengan amalan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." QS. At-Taubah : 102

Dan suatu amalan tidaklah dikatakan amalan shaleh kecuali memenuhi dua syarat :

1. Ikhlas dalam beramal

2. Sesuai dengan tuntutan syariat.

Dan syariat tidak membenarkan perbuatan mencuri atau mengambil harta orang lain dengan kebatilan, sebagaimana difirmankan :

(وَلَا تَأۡكُلُوۤا۟ أَمۡوَ ٰ⁠لَكُم بَیۡنَكُم بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتُدۡلُوا۟ بِهَاۤ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُوا۟ فَرِیقࣰا مِّنۡ أَمۡوَ ٰ⁠لِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ) [سورة البقرة 188

"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." QS. Al-Baqarah : 188

Dan dalam hadits :

 عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَأْخُذَ عَصَا أَخِيهِ بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسِهِ وَذَلِكَ لِشِدَّةِ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَالِ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ. رواه أحمد في المسند رقم(٢٢٥٠٠)

Dari Abu Humaid As-Sa'idi bahwa Nabi ﷺ bersabda : 

"Tidak halal bagi seseorang mengambil tongkat saudaranya tanpa kerelaan dari dirinya karena Rasulullah ﷺ sangat mengharamkan harta seorang muslim atas muslim lain." 

HR. Ahmad di dalam Al-Musnad no. (22500).

Sehingga tidak boleh berbuat dosa demi untuk bisa berbuat baik karena kaidah agama ini mengajarkan :

لا ضرر ولا ضرار

"Tidak boleh membahayakan (orang lain) dan tidak boleh membalas bahaya dengan berbuat bahaya." (Dari hadits Ibnu Abbas, riwayat Ahmad dalam Musnad-nya)

Sehingga para ulama membuat kaidah dalam hal ini dengan mengatakan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

"Mencegah kerusakan didahulukan dari mengambil kemanfaatan."

Mengambil hak orang lain adalah kerusakan, sedangkan menolong orang lain adalah kemaslahatan, maka dahulukan tercegahnya kerusakan dari mengambil kemanfaatan.

Oleh karenanya sahabat Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu ketika sahabat Abu Musa Al-Asy'ari menceritakan akan adanya sekelompok orang yang membuat halaqah (kumpulan) untuk berdzikir dengan apa yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ, sekalipun mereka beralasan untuk kebaikan :

قالوا والله يا أبا عبد الرحمن ما أردنا إلا الخير

"Mereka katakan: wahai Aba Abdurrahman (yakni Ibnu Mas'ud, pent) tidaklah yang kami inginkan kecuali kebaikan!

قال وكم من مريد للخير لن يصيبه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثنا أن قوما يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم وأيم الله لا أدري لعل أكثرهم منكم.

Beliau jawab : dan berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya. Bahwa Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kami bahwa ada suatu kaum yang  mereka membaca Al-Quran namun tidak melewati kerongkongan mereka dan demi Allah saya tidak tahu barangkali yang paling banyak dari mereka adalah dari kalangan kalian."

Lihat, betapa mereka beralasan dengan kebaikan namun mereka tidak mendapatkannya karena apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan apa yang telah ditunjukkan oleh Nabi ﷺ. Wallahu a'lam.

(dari grup Whatsapp Para Pecinta Sunnah dengan sedikit perubahan)

Sumber : Channel Telegram At-Tawakkal

Hijab Juga Menutupi Wajah?

Hijab Menutup Wajah


Asy Syaikh bin Baz rahimahullah  pernah ditanya :

Apa sifat hijab yang syar'i ?

Hijab syar'i adalah seorang wanita menutupi seluruh tubuhnya dari para lelaki : dari kepala, wajah, dada,  kaki, dan tangannya ; karena seluruhnya adalah aurat jika dinisbahkan ke laki-laki yang bukan mahrom. Allah telah menjelaskan bahwa berhijab dapat menyucikan hati laki-laki dan wanita dan dapat menjauhkan dari fitnah. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ}

"Janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka."
QS. An Nur : 31

Wajah termasuk perhiasan yang paling besar, demikian pula dengan rambut, dan tangan. Mungkin bagi wanita untuk menutupi wajahnya dengan niqab, yaitu dengan menampakan darinya hanya kedua matanya atau salah satunya saja dengan tetap menutup wajahnya; karena ia butuh untuk menampakkan kedua matanya agar bisa melihat jalan.

(Majmu' Fatawa Asy-Syaikh bin Baz : 6/24)

Asy-Syaikh bin Baz rahimahullahu berkata :

 "Dahulu ketika di awal-awal islam, wanita boleh menyingkap wajahnya, kedua tangannya, dan duduk bersama para lelaki, kemudian Allah turunkan ayat tentang hijab, sehingga mereka melarang dari perbuatan tersebut dan memerintahkan untuk berhijab..."

https://binbaz.org.sa/fatwas/10232/صفة-الحجاب-الشرعي-للمراة

Diterjemahkan dari https://t.me/AlWasiyyah/2421 oleh Admin Group Banaa'ts Azhar

Sumber : Channel Telegram Al Afiyat Al 'Afifat






Senin, 23 November 2020

Syarat Syarat Hijab Muslimah

Syarat Hijab Muslimah



Asy-Syaikh bin Baz
-rahimahullah- pernah ditanya : 

Apa syarat-syarat hijab syar'i itu ?

Beliau menjawab :

Syarat hijab syar'i adalah harus menutupi tubuh seluruhnya, wajah dan badannya. Tidak boleh tipis dan tidak pula sobek, menutupi seluruh badannya karena wanita adalah aurat dan fitnah. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam :

"Wanita adalah aurat".

Beliau - Shallallahu Alaihi Wasallam - juga bersabda : 

"Tidaklah aku meninggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki melebihi fitnah wanita."

Allah Ta'ala berfirman :

{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ}

"Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih lebih suci bagi hatimu dan hati mereka."   Al-Ahzab : 53

Dan Allah Ta'ala berfirman :

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ}

" Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." QS. Al-Ahzab : 59

Jilbab adalah pakaian yang diletakkan wanita di atas kepalanya dan wajahnya, itu  adalah penutup jilbab. https://binbaz.org.sa/fatwas/12289/شروط-الحجاب-الشرعي

Dari Aisyah - Radhiyallahu 'Anha - beliau berkata : 

يَرْحَمُ اللَّهُ نِسَاءَ المُهَاجِرَاتِ الأُوَلَ، لَمَّا أنْزَلَ اللَّهُ : { وَلْيَضْرِبْنَ بخُمُرِهِنَّ علَى جُيُوبِهِنَّ } شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بهَا.

"Semoga Allah merahmati wanita generasi pertama yang ikut melakukan hijrah, tatkala turun ayat : 'Dan hendaklah menutupkan kain kerudung ke dada mereka.' Mereka segera menyobek sarung-sarung selimut mereka dan berkerudung dengannya."

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari


Dikutip Dari Channel Telegram 

[ https://t.me/AlWasiyyah/2411]


Diterjemahkan Oleh :

Admin Group Banaa'ts Azhar_

Sumber : Channel Telegram Al Fatayaat Al 'Afifaat


Senin, 09 November 2020

Tertolaknya Amalan Bidah

 



Dari Aisyah
 radhiallahu 'anha berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :


 مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ 

وَفِي رِوَايَةٍ :  منْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ 

"Barangsiapa yang mendatangkan sesuatu yang belum ada sebelumnya di dalam perkara kami (yaitu dalam perkara agama) yang bukan berasal darinya (Al Quran dan Sunnah) maka perkara tersebut tertolak."

Dan dalam sebuah riwayat :

"Barang siapa beramal dengan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan itu tertolak"

Hadits ini, pada lafadz yang pertama yaitu مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Sedangkan pada lafadz yang ke dua yaitu منْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya.

Dari Ummul Mukminin Aisyah bintu Abi Bakr radhiallahu anhuma, keduanya adalah orang yang jujur. Ash-Shiddiqatu bintu Ash-Shiddiq, wanita yang jujur putri dari lelaki yang jujur. Beliau adalah wanita yang paling dicintai Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dari istri-istri beliau setelah Khadijah. 

Dan Aisyah radhiallahu 'anha adalah satu-satunya wanita yang dinikahi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam keadaan perawan, dan beliau adalah seorang wanita yang faqih bahkan wanita yang paling faqih diantara ummat ini. Sebagaimana yang dikatakan al Hafizh Adz Dzahabi "Beliau adalah wanita yang paling faqih dari kalangan ummat ini secara mutlak"

Az Zuhri berkata "Kalau seandainya dikumpulkan ilmu Aisyah, lalu dibandingkan dengan ilmu seluruh istri-istri Nabi, dan seluruh para wanita, niscaya ilmu Aisyah lebih banyak"

Aisyah radhiallahu 'anha wafat di Kota Madinah di pekuburan Baqi' pada tahun 58 Hijriah.


Penjelasan Hadits :

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ 

"Barangsiapa yang mendatangkan sesuatu yang belum ada sebelumnya di dalam perkara kami (yaitu dalam perkara agama) yang bukan berasal darinya (Al Quran dan Sunnah) maka perkara tersebut tertolak."

Dalam riwayat Muslim disebutkan :

منْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada di atasnya perkara kami (dalam Islam), maka perkara tersebut tertolak"

Hadits ini merupakan tolak ukur benarnya suatu amalan yang dzahir, sebagaimana hadit Umar tentang niat merupakan tolak ukur benarnya suatu amalan yang batin. Al Hafizh Ibnu Rajab al Hanbali mengatakan "Hadits ini prinsip yang agung dalam prinsip-prinsip Islam, dan hadits ini merupakan timbangan benarnya suatu amalan secara Dzahir, sebagaimana hadits -amalan tergantung niat- merupakan timbangan benarnya suatu amalan Batin."

Baca juga : Amalan itu Tergantung Niatnya

Dan kedua hadits ini (Hadits Umar dan Hadits Aisyah) merupakan hadits yang menjelaskan dua syarat diterimanya amalan seseorang yaitu ikhlas, dan mengikuti bimbingan Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Tidak akan diterima suatu amalan kecuali memenuhi dua syarat ini.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya" (QS. Al Kahfi 110)

juga firman Allah Ta'ala :

 لِيَبۡلُوَكُمۡ اَيُّكُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلً

"...untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling baik amalannya" (QS. Al Mulk 2)

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata "yang dimaksud paling baik amalannya adalah yang paling ikhlas, dan paling benar. Ikhlas artinya murni semata-mata untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan paling benar artinya mengikuti bimbingan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam"

Faedah Hadits :

1. Diantara syarat diterimanya amalan adalam mengikuti bimbingan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam

2. Islam telah sempurna, tidak butuh penambahan-penambahan. Karena apa saja yang dibutuhkan manusia dalam urusan agama, Islam telah menjelaskannya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian  nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian. (QS. Al Maidah 3)

3. Amalan bid'ah adalah amalan yang tertolak. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini "Bahwa ini merupakan kaidah yang agung di dalam kaidah-kaidah Islam, dan termasuk diantara sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Jawami'ul Kalim, karena hadits ini sangat jelas menolak bid'ah perkara baru dalam agama, dan ini merupakan hadits yang hendaknya diperhatikan dan dihafal, agar dimanfaatkan dalam mengingkari segala perkara munkar.

4, Semua perkara bid'ah adalah sesat, dan tertolak seluruhnya. Sebagaimana disebutkan pula oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dari Irbadh bin Sariyyah :

"Dan hendaknya kalian menjauhi perkara baru di dalam agama, karena sesungguhnya perkara baru itu adalah bid'ah" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

"Dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka" (HR. An Nasai)

5. Bantahan untuk orang yang mengatakan adanya bid'ah hasanah. Oleh karena itu sebagian shahabat Nabi mengatakan "Semua bid'ah itu sesat, meskipun manusia menganggap itu sebagai kebaikan" 

Wallahu a'lam

Referensi utama : Kajian Jawami' Al Akhbar oleh Ustadz Askary hafizhahullah.
Silakan simak videonya di https://youtu.be/uOiYFedEA0k

Minggu, 08 November 2020

Apakah Anak Sesusuan Menjadi Mahram Bagi Ibu Susunya




Pertanyaan :

Assalamu'alaikum...

Afwan ustadz, apakah anak dari anak sesusuan seorang wanita jadi mahram baginya? Ditunggu jawabannya karena sangat penting ustadz.

Jazakallahu khairan

Jawaban :

Oleh Ustadz Saeed al Bandunjie hafizhahullah

 حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ
 النساء:23

"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan"
(An-Nisa : 23)

Dan hadits Muttafaqun Aalaih dari Aisyah radhiallahu 'anha :

(( يحرم من الرضاعة ما يحرم من النسب ))

"Pemahroman dari sesusuan seperti pemahroman dari nasab."

Jadi anak-anak sesusuan sama mahromnya seperti anak dari nasab dan rahim. Kalau dia laki-laki tidak apa-apa tinggal di rumah tanpa memakai hijaab as-syar'i dan berkholwat di rumah dan menjadi mahrom saat safar, seperti umroh atau haji.

Wallahu a'lam 

Sumber : Ma'had Muqbil Al Wadi'i

Gelar Bukanlah Ilmu




Sebagian orang menyangka bahwa tanda seorang yang berilmu adalah jika dia memiliki banyak hafalan dan riwayat. Sebagian lagi ada yang menyangka bahwa tanda seorang alim adalah jika dia memiliki gelar akademis seperti Lc, MA, doktor, profesor, dan yang lain. Ini adalah pemahaman yang keliru.

Jika seseorang memiliki semua yang disebutkan, namun ilmu yang dimilikinya tidak menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dirinya dan tidak memberikan perubahan ke arah yang baik dalam kehidupannya dengan menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidupnya, dia bukanlah seorang yang berilmu. Ilmu yang dimilikinya justru akan menjadi hujah yang dapat membinasakannya. Wallahul musta’an.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, 

“Ilmu itu bukanlah dengan banyak meriwayatkan hadits, namun ilmu adalah khasy-yah.”

Al-Imam Malik rahimahullah berkata, 

“Ilmu itu bukan dengan sekadar banyak menghafal riwayat, namun ilmu adalah cahaya yang diletakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hati seorang hamba.”

(Tafsir Ibnu Katsir, 3/555)

Abu Hayyan at-Taimi berkata, 

“Ulama itu ada tiga: 

1. Seorang yang berilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Seorang yang berilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

3. Seorang yang berilmu tentang perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Yang berilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan perintah-Nya, dialah yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sekaligus mengerti tentang sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya.

Adapun yang berilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun tidak mengerti tentang sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya.

Sementara itu, yang berilmu tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah orang yang mengerti sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya, namun dia tidak takut kepada-Nya.”

(Jami’ Bayani Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/47)

Al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengingatkan para pelajar yang belajar agama di bangku universitas :

“Hal yang menyedihkan di zaman kita sekarang ini adalah yang menjadi tolok ukur menentukan keilmuan manusia adalah gelar-gelar. Anda punya gelar, maka Anda akan diberi pekerjaan dan jabatan sesuai dengan gelar tersebut. Bisa jadi, seseorang bergelar doktor lalu diberi pekerjaan sebagai pengajar di sebuah universitas, padahal dia adalah orang yang paling jahil.

Sementara itu, ada seorang pelajar setingkat sekolah menengah yang jauh lebih baik darinya, dan ini kenyataan. Sekarang ini, ada orang yang bergelar doktor namun dia tidak mengerti ilmu sedikit pun. Bisa jadi, dia lulus dengan cara menipu atau lulus dalam keadaan ilmu tersebut belum melekat pada dirinya. Namun, dia tetap diangkat sebagai pegawai karena memiliki ijazah doktor. Di sisi lain, ada seorang penuntut ilmu yang baik, lebih baik daripada manusia lainnya dan lebih baik seribu kali daripada doktor ini, namun dia tidak diberi jabatan. Dia tidak mengajar di perguruan tinggi. Mengapa? Karena dia tidak berijazah doktor.”

(Syarah Riyadhus Shalihin, 3/436).

Ustadz Askary -hafizhahullah-

Sumber : Channel Telegram Syiar Salafiyah

Kamis, 05 November 2020

Bolehkah Aqiqah Dicicil?


Pertanyaan :

Bismillah

Ustadz bolehkah kita meng-aqiqoh anak laki-laki kita secara bertahap/dicicil. Bulan ini kita potong satu ekor dulu. Bulan depan satu ekor lagi.

Atau setelah anak ini mapan dia aqiqohi dirinya dari uangnya sendiri, seperti Nabi mengaqiqohi dirinya?

Atau bolehkah berhutang untuk aqiqoh karena pas kelahiran anak, usaha lagi macet.

Jazakallahu khairan

Dijawab oleh Ustadz Saeed Al-Bandunjie :

Masya Allah
Satu soal tetapi butuh 3 jawaban sekaligus.

Pertama: telah dijelaskan di sunnah aqiqoh dari hadits dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari Aisyah dan Umm Kurz :

عن الغلام شاتان ، وعن الأنثى واحدة

Sunnah aqiqah untuk laki-laki adalah 2 kambing dan perempuan 1 kambing.
(Hadits Shahih).

Dan waktunya dibatasi yaitu di hari ketujuh, seperti di hadits Samurah yang dikeluarkan Ashabus Sunan yang derajatnya shahih :

كل غلام مرتهن بعقيقته، تذبح عنه يوم سابعه

"Setiap anak yang lahir, dibebaskan dari pegadaiannya diaqiqahi di hari ketujuh".

Maka jika mendapat anak laki-laki seperti soal di atas, dan dia mampu di hari ketujuh untuk penyembelihannya langsung dua kambing seperti sunnah di atas, maka itulah sunnah muakkadah.

Namun jika tidak mampu kecuali 1 maka tidak apa-apa karena sudah masuk ke asal sunnah dari pada tidak ada sama sekali, seperti telah difatwakan para ulama :

وقال الشيرازي رحمه الله في "المذهب" (8/433) : " السُّنَّةُ أَنْ يَذْبَحَ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَيْنِ , وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةً ؛ وَإِنْ ذَبَحَ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا شَاةً جَازَ" انتهى باختصار .

Berkata as-Syirozi : "Dari sunnah agar menyembelih untuk anak laki-laki  dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor  kambing namun jika menyembelih satu kambing ekor dari anak-anak tersebut tidak apa-apa (selesai dengan penyederhanaan)".

وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : " فإن لم يجد الإنسان ، إلا شاة واحدة أجزأت وحصل بها المقصود ، لكن إذا كان الله قد أغناه ، فالاثنتان أفضل " انتهى ."الشرح الممتع" (7/492) .

Berkata Ibn al-Utsaimin di Syarh al-Mumthi :

"Jika tidak didapati dua kambing untuk aqiqah anak laki-laki, maka dengan satu kambing tidak apa-apa, bisa diterima dan telah tercapai yang diharapkan, namun jika Allah mudahkan maka menyembelih dua ekor kambing lebih baik".

(Maksudnya : telah dicapai yang diharapkan yaitu dengan menyembelih kambing untuk Allah sebagai rasa syukur. Adapun jika kurang jumlahnya karena kefaqirannya maka Allah maha mengetahui keadaan hamba-Nya, pent). Adapun disembelih satu di hari ketujuh lalu satu lagi setelah punya uang, ini tidak perlu karena tidak mengikuti sunnah.

Adapun tentang berhutang untuk aqiqah. Hutang itu ada dua jenis, yang memang mudah untuk dibayar, yang sifatnya dia punya harta namun tidak ada cash di tangan, masih berupa modal yang belum terjual atau ada uang tetapi masih di tangan para peminjam atau pembeli yang mencicil dagangannya, maka ini tidak apa-apa untuk meminjam dan ditentukan waktunya sebulan atau dua bulan akan dilunasi.

Jenis kedua jika sang bapak memang sedang bangkrut/pailit habis laba bahkan modalnya, dan tidak sanggup pada waktu yang ditentukan untuk mengaqiqahi anaknya karena usahanya kebetulan sedang macet, maka jangan berhutang (karena dia berhutang dengan spekulasi antara bisa bayar dan tidak). Dan hutang ini akan menyebabkan kesusahan bagi dirinya. Sampai-sampai jika dia mati syahid pun tidak akan diampuni dosanya oleh Allah seperti di hadits yang sudah kita lewati di soal 50 silahkan merujuknya.

Karena Allah tidak menginginkan peribadatan yang memberatkan hamba-Nya di luar kemampuannya.

قال تعالى :فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ (67)[سورة التغابن: 16].

"Maka bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan sebatas kemampuannya".

 وقال : وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ [سورة الحج: 78]،

"Maka tidaklah Allah inginkan bagi kalian dalam masalah agama ini dari perkara yang memberatkan". (Al Hajj : 78)

وقال: يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ [سورة البقرة: 185

"Allah menginginkan kemudahan bagi hambanya dalam peribadatan kepadanya bukan kesukaran". (Al Baqarah : 185)

وقال : لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا 

"Maka tidaklah Alloh membebani hamba-Nya untuk melaksanakan peribadatan kecuali dengan kelapangan yang ada pada hamba-Nya". (Al Baqarah : 286)

Ketiga: telah datang hadits tersebut dinisbatkan kepada Nabi tetapi sanadnya sangat dhaif, walau sebagian menshahihkannya seperti Syeikh Al-Albani rahimahullah dan pengikutnya.

عن أنس رضي الله عنه قال : " عقَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نفسه بعدما بعث بالنبوة " .

Dari Anas berkata : "Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam mengaqiqahi dirinya sendiri, setelah Allah mengangkat dirinya menjadi Nabi".

Di sanadnya ada Abdullah bin Muharror dan dia matruk di buang haditsnya.

قال النووي رحمه الله في شرح المهذب (جزء 8 صفحة 330)

وهذا حديث باطل، قال البيهقي: هو حديث منكر.
وروى البيهقي بإسناده عن عبد الرزاق، قال: إنما تركوا عبد الله بن محرر بسبب هذا الحديث.
قال البيهقي:وقد روي هذا الحديث من وجه آخر عن قتادة، ومن وجه آخر عن أنس، وليس بشيء، فهو حديث باطل.

Berkata An-Nawawi hadits ini bathil dan berkata Al-Baihaqi : hadits yang berkesendirian ditinggal.

Berkata pula Al-Baihaqi : telah datang jalan lain dr Qatadah dan Anas namun semuanya tidak bermanfaat apa-apa, maka haditsnya bathil.

Telah didhoifkan pula oleh ulama terdahulu, seperti Imam Malik dan Ahmad .

Maka yang rojih hadits Nabi mengaqiqahi dirinya sendiri tidak shahih, tidak bisa  diamalkan.

Wallahu a'lam

Sumber : Ma'had Muqbil Al Wadii

Hukum Sujud Syukur Bersama Sekaligus Doa Bersama


Bismillah,

Tadi subuh, imam mengajak jamaah untuk sujud syukur bersama-sama untuk mensyukuri kemenangan gubernur muslim (ana tinggal di Jakarta) lalu dilanjutkan dengan doa bersama yang dikomandoi imam itu dan diaminkan oleh jamaahnya.

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya sujud syukur dan doa bersama seperti itu? apakah sudah termasuk bid'ah?
Barakallahu fiik

Dijawab oleh : 

Ustadz Saeed Al-Bandunjie

Wa fiik barakallah

Sujud syukur hukumnya adalah disunnahkan. Dengan dalil hadits yang paling kuat, -hadits yang mutafaq alaih- tentang sujud syukurnya Ka'ab bin Malik yang dulu menyelisihi atau tidak ikut jihad di jaman Nabi ﷺ, lalu Kaab bersama kedua temannya diboikot Nabi ﷺ dan kaum muslimin selama sekitar sebulan atau lebih. Bagi Kaab dan kedua temannya, boikot ini menjadikan bumi yang luas ini seolah terasa sangat sempit di hati mereka. Lalu Alloh mengampuninya dan disebutkan :

 فَخَرَرْتُ سَاجِدًا وَعَرَفْتُ أَنْ قد جاء فَرَجٌ"

"Maka aku bersujud syukur kepada Alloh, dan aku mengetahui bahwa telah datang kebahagiaan (ampunan dari Alloh)".

Dan dari perbuatan Nabi ﷺ sendiri diriwayatkan Abu Daud :

 حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ بَكَّارِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، أَخْبَرَنِي أَبِي عَبْدُ الْعَزِيزِ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ «إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ»

Dari Abu Bakroh dari Nabi ﷺ : "Jika datang berita yang menggembirakan atau kabar berita yang baik maka bersujudlah bersyukur kepada Alloh".

Hadits ini shohih.

Maka sujud syukur sesuai sunnah dan tata caranya adalah sujud tanpa harus berwudhu, dengan pakaian yang ada padanya (yang dipakai saat itu juga) dan membaca "subhana robiyal a'ala wabihamdihi", seperti bacaan sujud saat sholat.

Adapun untuk permasalahan di atas, sujud syukur sepakat di tempat tertentu dan waktu tertentu ditambah dengan doa berjama’ah dengan satu imaam yang sengaja dilakukan di masjid, maka ini adalah perkara yang tidak disyariatkan dari salaf kita, dan tertolak sesuai hadits Aisyah yang Muttafaqun Alaih, sesuai riwayat Muslim :

: ( مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ )

"Barangsiapa yang melaksanakan suatu amalan yang bukan dari perintah ajaranku maka amalannya tertolak".

Kesimpulannya:

Silahkan setiap orang untuk bersujud syukur di tempat masing-masing tanpa berkumpul di suatu tempat tertentu dan mengambil imam, yaitu seseorang atau imam membaca doa dan diaminkan jama'ah, karena ibadah sujud syukur sebenarnya hanya sujud saja tanpa doa-doa yang diaminkan.

Wallahu a'lam

Sumber : Ma'had Mubqil Al Wadi'i

Minggu, 01 November 2020

Tata Cara Tayammum




Diperbolehkan bertayammum dengan setiap apa yang ada di permukaan bumi baik tanah yang berdebu, kerikil, kayu dan yang semisalnya berdasarkan keumuman firman Allah Subhaanahu wata’aala, :

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

“Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik, sapulah mukamu dan tanganmu."

(An-Nisaa: 43)

Yang dimaksud “Sha’idan” adalah segala sesuatu yang ada di atas permukaan bumi. Ayat ini menunjukkan diperbolehkannya bertayammum dengan apa saja yang terdapat di permukaan bumi baik itu tanah, pasir, kerikil, batu dan yang sejenisnya meskipun tidak ada debu yang melekat.

Adapun caranya, cukup dengan memukulkan kedua telapak tangan satu kali ke atas permukaan bumi tempat anda bertayammum, lalu mengusapkan tangan kiri di atas tangan kanan lalu punggung kedua telapak tangan hingga pergelangan tangan, lalu mengusap wajahnya. 

Hal ini berdasarkan hadits Ammar bin Yasir radiallohu anhu, dimana Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, mengajarkan kepadanya tatacara tayammum:

إنما كان يَكْفِيكَ أَنْ تَقُولَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ الْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ على الْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ

“Sesungguhnya cukup bagimu melakukan dengan kedua tanganmu demikian: lalu Beliau memukulkan kedua telapak tangannya ke bumi dengan sekali pukulan lalu mengusapkan tangan kiri di atas tangan kanan dan punggung kedua telapak tangan dan wajahnya.”

(HR. Muslim (368)

Dibolehkan baginya meniup debu yang melekat di tangannya berdasarkan hadits Ammar bin Yasir radiallohu anhu, yang disebutkan dengan lafazh:

فَضَرَبَ النبي بِكَفَّيْهِ الْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ

“Lalu Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, memukulkan kedua tangannya di atas bumi dan meniup pada keduanya lalu mengusap dengan keduanya ke wajahnya dan kedua telapak tangannya..

(HR. Bukhari (331)

Yang perlu diperhatikan disini, bahwa tayammum yang dibangun diatas riwayat yang shahih adalah jumlah memukulkan kedua tangan ke permukaan bumi hanya sekali saja. Demikian pula mengusap kedua tangan hanya sampai pergelangan tangan, bukan sampai siku. 

Hal ini lebih dipertegas lagi dengan hadits Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, yang bersabda tentang cara tayammum:

ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ

“Sekali pukulan untuk wajah dan kedua telapak tangan"

HR. Ahmad (4/263), Abu Dawud (327), Tirmidzi (1/31), dan yang lainnya. Dishahihkan Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil (1/161)

Adapun riwayat yang menyebutkan dua kali tangan memukul di permukaan bumi dan diusap hingga siku, maka tidak ada satupun riwayat yang shahih yang menetapkan hal tersebut. Wallahu A’lam.

Berkata Ibnu Abdil Bar rahimahullah:

“Kebanyakan hadits-hadits yang diriwayatkan secara marfu melalui riwayat Ammar adalah sekali pukulan, adapun yang diriwayatkan dari Beliau shallallohu ‘alaihi wasallam, dengan dua kali pukulan semua riwayatnya goncang”

(Lihat Irwa’ul Ghalil, Al-Albani: 1/186)

Sumber : 

Tununan Shalat Musafir. Hal 13 – 19

Oleh :

Al-Ustadz Abu Karimah Askari Hafizhahulloh

http://www.salafybpp.com

Sumber : Channel Telegram Syiar Salafiyah

Sabtu, 31 Oktober 2020

Contoh Perbuatan Menyerupai Orang Kafir

Menyerupai Orang Kafir


Sudah merupakan sunnatullah bahwa di antara umat ini akan ada yang terjerumus ke dalam kesesatan, dengan cara mengikuti langkah-langkah orang-orang sebelum mereka dari kalangan ahli kitab dan musyrikin.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallambersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ أَوْ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّلَسَلَكْتُمُوْهُ. قَالُوْا: الْيَهُوْدُ وَالنَصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Kalian pasti akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke dalam lubang dhabb, kalian pun memasukinya.” Para sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” __

(Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)**

Berikut ini adalah sebagian bentuk penyerupaan terhadap ahli kitab dan kuffar yang sebagian kaum muslimin terjatuh ke dalamnya.

1. Menjadikan Kuburan Orang-Orang yang Dianggap Shaleh Sebagai Masjid

Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya,

قَاتَلَ ا الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerangi kaum Yahudi, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”

(Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Lihat pembahasan lebih rinci tentang hukum membangun masjid di atas kuburan dalam kitab Tahdzir As-Sajid min Ittikhadzil Qubur Masajid karangan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.

2. Tidak Menerima Kebenaran Kecuali Apa yang Datang dari Kelompoknya

Termasuk salah satu karakter kaum Yahudi adalah mereka telah mengetahui kebenaran sebelum tampak orang yang mengucapkannya dan yang menyerunya. Namun tatkala datang kepada mereka yang mengucapkan al-haq tersebut dan ternyata bukan dari kelompok yang mereka kehendaki, maka mereka pun enggan untuk mengikuti dan mereka tidak menerima kebenaran kecuali yang datang dari kelompok yang merekamenisbatkan diri kepadanya. Padahal mereka tidaklah mengikuti apa yang wajib dalam keyakinan mereka. 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ نُؤۡمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا وَيَكۡفُرُونَ بِمَا وَرَآءَهُۥ وَهُوَ ٱلۡحَقُّ مُصَدِّقٗا لِّمَا مَعَهُمۡۗ قُلۡ فَلِمَ تَقۡتُلُونَ أَنۢبِيَآءَ ٱللَّهِ مِن قَبۡلُ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٩١

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah”, mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Mereka kafir kepada al-Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang al-Quran itu adalah (Kitab) yang haq; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah, “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?”

(Qs.Al-Baqarah: 91)

Hal ini banyak menimpa orang-orang yang menisbatkan diri kepada kelompok tertentu dalam berilmu atau beragama dari kalangan ahli tasawwuf, atau kepada selain mereka, atau kepada seorang pemimpin yang diagungkan oleh mereka dalam agama kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Mereka tidak mau menerima ajaran agama ini baik pendapat maupun riwayat kecuali yang dibawa oleh pemimpin mereka. Padahal Islam mengharuskan mengikuti kebenaran tersebut secara mutlak, baik pendapat maupun riwayat, tanpa mengkhususkan seseorang atau kelompok kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 

(lihat Kitab Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, 1/74—75)

Wallahul hadi ilaa sabiilir rasyaad.

Ditulis oleh :

Al-Ustadz Abu Mu'awiyah Askary hafizhahullah

Sumber : Channel Telegram Syiar Salafiyah



Kamis, 29 Oktober 2020

Jerat Jerat Setan



Sebuah kisah seorang pendeta yang dititipkan kepadanya seorang gadis untuk dijaga! Kemudian dia menzinahinya! Sehingga hamil dan membunuhnya lalu menguburnya! Kemudian sujud kepada syaitan dan menjadi kufur kepada Allah yang maha agung.. Langkah-langkah syaitan:

Itulah sebuah kisah yang dituturkan oleh Ibnu Katsir - رَحِمَهُ اللّٰهُ - di dalam surat Al-Hasyr, dan bukan merupakan sebab turunnya ayat:

{كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ} [الحشر : 16]

"(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam." [Qs. Al-Hasyr: 16]


Kisah tersebut bukanlah merupakan sebab turunnya ayat, akan tetapi hal itu disebutkan seperti penjelasan baginya dan sebagai tafsiran, dan beliau menuturkan bahwa ada 3 orang dari Bani Israel mendapat giliran, dan mereka memiliki seorang saudara perempuan yang tercantik dari para wanita (di kaumnya); maka ketiganya berkata: kepada siapa kita titipkan saudara perempuan ini selagi kita tidak ada?

Dan di sana ada seorang pendeta yang tengah menyepi di tempat pertapaan rahib untuk beribadah kepada Allah padanya dan pendeta tersebut adalah orang yang gigih dalam beribadah, menghadap Rabb-nya, maka ketiga lelaki itu membawa saudara perempuannya kepada pendeta, dan mereka berkata: kami ada urusan demikian dan demikian, dan kami menitipkan dia kepadamu, hingga kami kembali.

Maka pendeta bertanya: kemana aku akan bawa dia? - Yakni tidak mungkin aku menerimanya di tempat pertapaanku -!!

Maka mereka pun menjawab: kami akan buatkan untuknya sebuah rumah di belakang tempat pertapaan, dan kami hanya meminta engkau untuk menjaga kondisinya dari kejauhan, kami tidak meminta darimu untuk berkumpul dengannya, maka rahib (pendeta) tersebut pun menerima!!

Ini adalah satu langkah (syaitan)...

Kemudian datang syaitan dengan langkah berikutnya... Yaitu di tempat dimana pendeta tersebut tinggal, yaitu di tempat pertapaannya dia beribadah kepada Allah, maka syaitan pun mendatanginya, seraya berkata: apa sebaiknya bagimu, kamu seorang lelaki yang sempurna kejantanannya, lurus dalam ibadah, zuhud terhadap dunia, mementingkan akhirat lantas kamu biarkan wanita miskin ini tanpa kamu tanya kebutuhannya? Bukankah bagus jika kamu berbuat demikian?! Maka pendeta tersebut pergi dan memanggilnya, hai hentah!! Maka perempuan tersebut pun menjawab!

Pendeta bertanya: apakah engkau ada keperluan?

Dan ternyata dia memiliki suatu keperluan yang dia inginkan agar bisa dipenuhi, kemudian pendeta itu meletakkan keperluannya di pintunya kemudian pergi, maka ini satu langkah...

Dan syaitan datang dengan langkah berikutnya...

Dia katakan: apa yang sebaiknya kamu lakukan jika kamu dengan keadaanmu sekarang, tidakkah kamu memberikan kasih sayang kepada wanita miskin ini, karena saudara-saudaranya telah pergi, tidak ada satupun selainmu yang dapat memberikan ketentraman terhadap kegelisahannya, mengurai kedekatannya, menghilangkan keterasingannya, sehingga dia merasakan ketenangan dan kasih sayang?

Maka pendeta tersebut pun datang dan duduk di muka pintu sedangkan gadis tersebut di belakang pintu, maka pendeta mengajaknya bicara demi menenangkannya - tidak lebih -!

Kemudian syaitan datang dengan langkah berikutnya, dia katakan: apa yang sebaiknya bagimu dimana manusia datang dan pergi dalam keadaan kamu duduk di depan pintu wanita miskin ini, apakah mereka tidak akan berperasangka kepadamu yang bukan-bukan dengannya? Masuklah, dan biarkan pintu terbuka sedikit.

Maka masuklah pendeta kemudian dia jadikan pintu tertutup, kemudian jatuh hatilah kepadanya dan menghamilinya, dan ketika terjadi hal itu!! Pendeta menjadi gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa, maka dia pun membunuh wanita tersebut, kemudian dia masuk (ke tempat pertapaannya), dan ketika datang saudara-saudara wanita tersebut, mereka bertanya kepadanya, dimana saudara perempuan kami?

Dia pun mengusap satu tetes atau dia tetes air mata dari kedua pipinya, dan berkata: dia telah mati, dan aku telah mengurus jenazahnya dengan sebaik mungkin, hingga aku menguburkannya di makamnya. 

Maka mereka pun mempercayainya dan mereka pun menangis berlinang air mata dan pergi, kemudian mereka tidur di malam harinya lalu syaitan mendatangi mereka dan mendatangi mereka semua dengan sebuah kejadian mereka lihat di dalam mimpi, bahwa pendeta tersebut telah menggauli saudara perempuan mereka dan menghamilinya, kemudian membunuhnya dan menguburkannya di suatu tempat.

Maka mereka semua terbangun dalam keadaan kaget, dan berkatalah yang paling muda dari mereka, dia katakan: apakah kalian melihat seperti yang telah aku lihat (dalam mimpi)? Dan mereka tidak ingin bersegera menjawabnya, maka pemuda itu berkata: aku melihat demikian dan demikian, maka keduanya berkata: kami pun melihat seperti apa yang kamu lihat, maka mereka pun pergi ke suatu tempat dan mereka menggalinya dan mengeluarkan wanita tersebut, dan mereka mengadukan hal itu kepada raja atas perbuatannya, dan dihadirkanlah pendeta tersebut.

Apa yang sebaiknya kamu lakukan dengan kondisimu di tempat yang kamu tinggali, dan kedudukan yang kamu dapatkan, untuk kamu melakukan seperti yang kamu lakukan ini dari perbuatan keji? Maka diperintahkan untuk menghukum pendeta kemudian dia pun disalib lalu datanglah syaitan kepadanya, dan berkata: sesungguhnya aku ini temanmu, dan aku pada hari ini sanggup untuk membebaskanmu, pendeta tersebut bertanya: bagaimana (caranya)?

Syaitan berkata: sujudlah kepadaku dengan satu kali sujud (saja), dan aku akan membebaskanmu.

Pendeta menjawab: bagaimana aku bisa sujud kepadamu sedangkan aku dalam keadaan seperti yang kamu lihat? - dimana dia disalib di atas sebongkah kayu -.

Maka syaitan berkata: isyaratkan dengan kepalamu, maka pendeta pun sujud dengan mengisyaratkan kepalanya, maka dia pun menjadi kafir!!

Maka perhatikanlah, bagaimana mulanya perkara tersebut?

Maka janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan karena sesungguhnya dia tidaklah datang kepadamu dari penghujungnya, namun dia akan menunda-nunda kamu sedikit demi sedikit, maka waspadalah dari meremehkan terhadap perkara-perkara seperti ini, dan putuskanlah perkaranya dari awalnya hingga selesai; dan oleh karena itu Allah - تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ - memerintahkan agar jangan melihat kepada keharaman, dan Allah - تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ - memerintahkan kita untuk tidak mendekati zina, maka Allah - عَزَّ وَجَلَّ - berfirman:

(ولا تقربوا الزنا)

"Dan jangan kamu dekati zina". 

Tidak dikatakan kepada kita "Jangan berbuat zina", akan tetapi dikatakan "jangan kamu mendekati zina!"

Maka penghantar zina tidak dibolehkan, tidak sepatutnya seseorang berdiam diri dalam kondisi bercampur baur, dalam keadaan campur aduk, dan dalam keadaan biasa saja, karena perkara tersebut akan semakin bertambah sedikit demi sedikit, hingga berakhir kepada perkara yang besar, dan ini semuanya termasuk dari langkah-langkah syaitan. 

Disampaikan oleh : As-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Sa'id Ruslan

Sumber : Channel Telegram Berbagi Faedah

Hukum Memberontak Pada Penguasa









Pertanyaan :

Wahai Fadhilatusy Syaikh, apakah boleh memberontak terhadap penguasa yang fasik ketika ada kemampuan untuk itu ?

Dijawab oleh Asy Syaikh Al Allamah Zaid bin Muhammad Hadi Al Madkhali rahimahullah

Tidak diperbolehkan memberontaknya selama ia seorang penguasa muslim. Dikarenakan tindakan memberontak mengakibatkan kemudharatan-kemudharatan yang tidak terlintas dalam benak berupa tertumpahnya darah, tercabik-cabiknya kehormatan dan kekacauan di masyarakat.

Namun wajib untuk mencurahkan nasehat dengan cara-cara yang syar'i dan bermanfaat dan dengan hikmah dalam dakwah, dan dengan menyebarkan ilmu di tengah-tengah masyarakat serta mendoakan kebaikan terhadap penguasa muslim yang muncul darinya kezhaliman terhadap rakyat atau ia melakukan kemaksiatan kepada Allah yang dengannya ia berarti menzhalimi dirinya sendiri. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahinya hidayah, maka hidayah hati manusia di tangan Allah, maka memberontak penguasa seluruhnya merupakan kejelekan.

Dan tidak diperbolehkan memberontak penguasa kecuali terhadap penguasa kafir yang kekufurannya jelas, dan dengan syarat adanya kemampuan yang dengannya memungkinkan untuk mencopotnya dengan tanpa adanya pertumpahan darah dan dengan tanpa dirampasnya harta serta dengan tanpa adanya kekacauan di masyarakat dan di negeri tersebut, ini yang nampak bagiku dalam menjawab pertanyaan ini. Wallahu a'lam.

📚Al Aqdul Munadhdhadh Al Jadid (1/89).

Sumber : Channel Telegram Ad Dinul Qoyyim




Minggu, 13 September 2020

Hukum Mewarnai Uban



Pertanyaan :

Bismillah,
Ustadz, bolehkah menghitamkan rambut (uban)?
Jazakallahu khoiron.

Dijawab oleh :
Ustadz Saeed Albandunjie Abu Yaman


Asal hukum menggunakan warna bagi rambut yang beruban (mewarnai uban) adalah boleh. Selama terjauh dari 2 perkara, yaitu :

1. Tidak menggunakan warna hitam

عن جابر بن عبد الله قال أتي بأبي قحافة يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : غيروا هذا بشيء واجتنبوا السواد

Seperti di hadits Jabir di Shahih Muslim.
Datang di hari Fath Makkah Abu Quhaafah yang mana rambut kepala dan jenggotnya penuh uban yang putih. (seperti pohon tsaqomah yang daun-daunnya putih) maka bersabda Rasulullah ﷺ : _"Warnailah (ubahlah dari warna putih uban tersebut ke warna lain) dan jauhilah dari warna hitam."

Maka boleh mewarnai dengan  (hena) berwarna kuning atau merah dan sebagainya, selain warna hitam.

Jika mewarnai dengan warna hitam maka hukumnya haram.

Dan telah datang dari hadits Ibnu Abbas  radhiallahu 'anhu, Beliau berkata: .

 يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام ، لا يريحون رائحة الجنة

"Akan datang suatu kaum di akhir zaman menggunakan pewarna rambut berwarna hitam. Seperti dada-dada merpati yang kebanyakan hitam. Yang mana mereka tidak akan mencium bau surga."

Catatan untuk takhriij hadits :

1- Hadits Jabir di Shohih Muslim, diillahkan (didhaifkan) pada lafadz; ( واجتنبوا السواد). Jauhilah "warna hitam".
Bahwa lafdz di atas mudraj. Bukan ucapan Nabi ﷺ tetapi ucapan perawi yang dimasukkan. Dikira ucapan Nabi ﷺ. Dengan hujjah di Musnad Ahmad 3/338

ثنا حسن وأحمد بن عبد الملك قالا ثنا زهير عن أبي الزبير عن جابر قال أحمد في حديثه ثنا أبو الزبير عن جابر قال: أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم بأبي قحافة أو جاء عام الفتح ورأسه ولحيته مثل الثغام أو مثل الثغامة قال حسن فأمر به إلى نسائه قال غيروا هذا الشيب قال حسن قال زهير قلت لأبي الزبير أقال : جنبوه السواد؟ ، قال : لا .

Berkata Zuhair, aku berkata kepada Abi Zubair : Apakah berkata : Jauhilah warna hitam. Berkata Abi Zubair : tidak.
Namun illah ini ghoiri qodihah (pendhaifan yang tidak berpengaruh). Karena di Shohih Muslim yang  meriwayatkan dengan tambahan adalah Ibn Juraij yang sangat kuat hapalannya

 عن ابن جريج عن أبي الزبير عن جابر بن عبد الله قال أتي بأبي قحافة يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : غيروا هذا بشيء واجتنبوا السواد.

Dan Ibn Juraij didukung pula oleh Ayuub Assikhtiyani seperti di Mustakhraj Abu Awaanah

عن ايوب عن ابي الزبير عن جابر قال : أتي بابي قحافة الى النبي صلى الله عليه وسلم عام الفتح وكان رأسه ولحيته مثل الثغامة فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ابعثوا به الى عند نسائه فليغيرنه وليجنبنه السواد.

Maka lafadz : menjauhi warna hitam tsabit/kuat dari ucapan Nabi ﷺ.

2- Adapun hadits Ibnu Abbas diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasa’i. Hadits ini sanadnya shahih, namun terjadi ikhtilaf antara ucapan Nabi marfu' atau ucapan shahabat mauquf.

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar : yang rojih mauquf ucapan Ibnu Abbas dan ucapan Ibnu Abbas hukumnya marfu hukman, (karena bukan dari akal dan pendapat Ibnu Abbas tentang adzab akhirat.)

Maka dengan ini An-Nawawi memilih bahwa : memakai warna hitam perkara yang haram.

قال الحافظ ابن حجر رحمه الله : وإسناده قوي إلا أنه اختلف في رفعه ووقفه ، وعلى تقدير ترجيح وقفه ، فمثله لا يُقال بالرأي ، فحكمه الرفع . ولهذا أختار النووي أن الصبغ بالسواد يُكره كراهية تحريم.

Fathul Baari 6/499



2. Tidak mengikuti model orang kafir dalam bentuk penyajian rambutnya.


Sesuai ucapan Nabi ﷺ : barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dihukumi seperti kaum tersebut.

  عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dikeluarkan Abu Daud dari Ibn Umar dengan sanad yang shohih.

Wallahu a'lam

Sumber : 
https://web.mahadmuqbilalwadii.com/2020/02/bolehkah-mewarnai-uban.html